Kamu Kita Sama

Hari itu kami sudah berjanji untuk bertemu. Bertemu kembali di sebuah mesjid yang biasa kami kunjungi beberapa tahun silam. Aku benar-benar ingin bertemu dengannya. Melihat wajahnya saja sudah menularkan semangat, apalagi mendengar kisah-kisah dan uraian darinya, sungguh memotivasi! Benar saja, ada banyak cerita yang belum kudengar lagi tentangnya.

Dengan penuh antusias, aku mengikuti lanjutan kisah hidupnya yang bisa dikatakan cukup pelik dan penuh dengan masalah. Dari semua ini aku bis amengambil sebuah kesimpulan yang menurutku sungguh amat biasa, namun akan lebih berkesan jika kita mampu mempraktekan dan menghayatinya.

Ini tentang kisahnya. Ia yang selalu di cemooh, dibully, direndahkan, difitnah orang lain, namun tetiba orang-orang yang dahulu merendahkan, mencemooh berubah 180 derjat hanya karena ia tetiba mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi karena usaha dan kerja kerasnya. Lidah yang lunak tak bertulang tetiba kelu untuk mengungkapkan kata makian karena mengetahui posisi nya saat ini. Tidak ada yang tahu, demi apa mereka berubah. Apakah karena kesadaran mereka yang tetiba muncul, ataukah karena perlakuan hormat  mereka terhadap sesuatu yang sudah di defaultsetting tinggi jika berhadapan dengan orang yang memiliki jabatan yang lebih tinggi.

Ini soal meremehkan dan mencerca kekurangan orang lain. Jujur, di dalam kehidupan yang serba tidak mampu diprediksi dan dikendalikan ini, sering kali kita menganggap remeh seseorang, memandang sebelah mata status, kedudukan, pangkat, golongan, harta, kecantikan dan segala hal yang sering perbandingkan manusia. Jika tidak terucapkan melalui kata, setidaknya pasti ada yang sempat terbersit di benaknya,”ah apalah si anu itu, IPK nya saja rendah” atau “Palingan juga dia mengandalkan orang tua untuk urusan ini”, “Ah dia kan Cuma aktivis icak-icak, urusan per-idealism hanya isapan jempol semata!!” dan sekelompok kata-kata untuk “mengkerdilkan” orang lain.

Sahabat, sekali lagi… Dunia ini penuh misteri, apapun bisa terjadi, tak ada kepastian yang bisa kita prediksi. Jika si A terlihat lebih bodoh darimu hari ini, belum tentu ia akan selamanya bodoh mana tau kelak di suatu masa ia lebih unggul darimu. Jika si B berpenampilan cupu tidak update dan seperti orang kampung hari ini, siapa tahu kelak dimasa depan ia adalah manusia terpandang yang dihormati banyak orang. Seseorang yang datang dengan sandal jepit dan pakaian kumal belum tentu tidak punya harapan menjadi pejabat di suatu masa.

Jadi perlakukanlah semua orang sama. Tidak ada yang lebih tinggi kedudukannya di mata Allah. Yang membedakan hanya keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Allah. Dan untuk urusan satu ini, siapa yang bisa menjamin akhlak, keimanan, ketaqwaan kita jauh lebih unggul dari orang lain???

Ini bukan tentang kemungkinan orang lain menjadi lebih, tetapi Berbuat baiklah kepada manusia, sebagaimana Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang dan nikmatnya kepada kita semua. Berbuat baik agar Allah semakin sayang🙂

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s