MUSEUM SEJARAH PRIBADI

Ketika SMA dan terutama ketika kuliah, aku paling senang menyimpan moment ke dalam sebentuk foto, rekaman, tulisan atau apapun yang bisa membekukan mereka kedalam media untuk kemudian diputar ulang di masa depan.

Tak hanya foto, video, ataupun rekaman suara, semenjak memiliki blog, keinginan untuk menceritakan apa saja yang kulalui juga semakin menggebu-gebu. Sebenarnya hobi ini sudah lama. Namun semuanya terbatasi fasilitas. Aku pernah mencoba untuk memiliki diary ketika SD. Rasanya menyenangkan bisa membawa dan membaca kisah kita dimanapun kita berada. Namun semuanya langsung pudar ketika saudara-saudaraku malah mentertawakan aktivitasku ini.

Ketika SMP dulu, tentu saja aku juga ikut berpartisipasi aktif dengan tradisi “jadoel” meminta teman-teman mengisi lembaran kertas binder dengan biodata, kesan dan pesan mereka tentang persahabatan kami. Diantara teman, koleksiku paling lengkap. Banyak teman yang mengantri membaca koleksi biodataku. Sebelum mereka mengisi lembaran mereka masing-masing, maka semacam kewajiban untuk membaca terlebih dahulu lembaran teman yang lain. Semua koleksi tersebut aku jilid dan jadikan buku. Dan rasanya menyenangkan sekali ketika membacanya kembali beberapa tahun kemudian. Mengenang ketengilan, kenakalan, dan kenorakan kami sendiri.

Ketika SMA, aku tidak memiliki peralatan yang begitu bisa dihandalkan. Hanya ketika SMA kelas XI beberapa dari teman kami telah mempunyai Handphone dengan fasilitas kamera. Sedangkan aku baru memilikinya ketika kelas XII. Itupun tidak dilengkapi dengan kapasitas memori yang memadai. Hanya pada moment moment besar seperti perpisahan kami menggunakan camera digital atau perekam video.

Kembali lagi ke museum diri. Sungguh banyak media yang bisa kita jadikan museum. Kamu pernah nonton “CAS”? Film Catatan Akhir Sekolah?? Itu film yang tak pernah bosan untuk kutonton. Mereka yang menghargai “kenangan” dan berusaha menyimpan rapih semuanya melalui sebuah film pendek. Film ini cukup menginspirasi. Makanya ketika SMA, ketika  kami tidak memiliki program yang bernama “Buku Tahunan”, aku menciptakan sendiri buku tahunan itu dengan membuat video abal, produk movie maker pertamaku yang terdiri dari foto-foto aktivitas kelas kami semenjak kelas XI (kami selalu sekelas sampai kelas XII) sampai reunian di tahun pertama kami kuliah. Dengan backsound ‘kisah klasik untuk masa depan’ SO7 yang juga Original Soundtrack kelas kami dan ‘semua tentang kita’ yang merupakan favorite song anak-anak sekelas. Di bawahnya, ditambahkan subtitle yang cukup mengharu biru jika diputar ulang beberapa tahun lagi🙂 . Setelah Movie Maker itu jadi, pada reunian lebaran berikutnya, aku mengcopy-kan ke semua teman-teman yang datang. Dan di tahun-tahun berikutnya video itu sampai di tangan para junior SMA, mereka mengikutinya, membuat rekaman memori kelas mereka.😀

Barulah ketika dunia kampus dimulai, semuanya terasa lebih mudah. Apalagi begitu banyak moment kebersamaan yang rasanya sayang untuk dilewatkan tanpa adegan berfoto bersama. Makanya jangan heran untuk tahun pertama dan tahun kedua kuliah sudah begitu banyak folder foto tercipta di laptop. Aku termasuk salah seorang yang sering menjadi juru kamera ataupun “tukang sorak sorai” agar kami bisa mengabadikan moment tersebut. Apalagi jika mengingat teman-teman yang cukup memiliki tingkat kepercayaan diri dan kehebohan tersendiri jika berhadapan dengan kamera. Hanya satu dua diantara kami yang tetap bisa cool menjaga imej agar tak selalu bertingkah norak. Heh!!!

Di laptop aku juga menyimpan beberapa rekaman perjalana kami, juga rekaman curhat yang gaje bin alay, dan beberapa rekaman moment ketika tampil di lomba nasyid, dan yang terakhir rekaman suara teman-teman ketika karaokean. Aku ingin menyimpannya dengan rapi. Sehingga kelak jika aku merasa rindu, semua kenangan itu bisa aku putar dengan baik melalui audio visual yang menyenangkan.

Jika ada yang bertanya kenapa kamu sering mengupload fotomu di dunia maya (terutama facebook) ??? Dengan tegas aku berani menjawab, alasannya tak lain adalah untuk menciptakan sebanyak mungkin media yang bisa kuakses  pada dimensi waktu yang berbeda dimanapun aku berada di belahan bumi ini untuk mengulang sejarah kehidupan sendiri. Dan aku ingin membagi kembali momen-momen kebersamaan dengan para sahabat yang sempat terekam oleh mesin canggih bernama kamera itu. Ya, aku ingin mereview lagi timeline itu beberapa tahun kemudian, membaca sendiri komentar para sahabat. Namun sayangnya, banyak yang melihat ini sebagai ajang untuk pamer diri, narsis, untuk menarik perhatian, dan judge statement lainnya. Aku sama sekali tidak berkeberatan jika ada yang merasa tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan disana. Yahh,,, pada akhirnya aku memilih untuk mengalah. Dan mencari alternatif lain untuk saling bernostalgia dengan para sahabat. Namun “mungkin” lain kali aku akan menutup telinga dari lirikan tidak senang mereka sepanjang yang kulakukan tidak menimbulkan kontroversi(?). Hah!

Itulah kenapa blogging menjadi semacam pelampiasan dan muara dari semua hobi sejak kecil. Mempunyai museum sejarah pribadi adalah impian semu yang ingin kuwujudkan. Di blog memungkinkan kita untuk menyimpan baik itu tulisan, foto, video, rekaman suara, and stuff like that. Aku tidak tahu sampai kapan blog ini akan eksis dan bisa diakses, namun aku memiliki semacam keyakinan media ini akan mengalami perkembangan dari masa ke masa.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s