Pendewasaan

Aku tidak tahu harus memulai ini semua darimana. Aku tahu ini sungguh keterlaluan. Yang kumaksud keterlaluan adalah diriku. Bahkan egoku masih terbilang tinggi hanya untuk menyentuh hatinya.

 Aku dan dia tak seperti sahabat karib yang –kamu bisa menceritakan apa saja dan mendengarkan keluhan apa saja darinya. Bukan karena aku tak ingin mendengarnya mengeluh, bukan juga aku tak ingin turut berbagi nasehat untuknya. Hampir puluhan tahun telah kami jalani waktu bersama, tetapi seperti ada tembok yang membuatku tak leluasa untuk menjadi sandaran dan bisa membagi sisi kehidupan lain yang pernah kualami kepadanya.

Kami berbeda. Sangat berbeda. Kepribadian kami bagai kutub utara dan selatan. Kami berdiri di sisi yang membentang jarak yang cukup. Aku berada di sisi barat dan dia masih tetap di timur. Kadang kami bertengkar tentang siapa yang harus terlebih dahulu merasakan hangatnya mentari. Kadang kami saling memperlihatkan, wilayah siapa yang tampak lebih indah.

Namun satu hal. Ia selalu tahu bahwa aku selalu berkata benar untuknya. Ia selalu beranggapan akulah yang terbaik, ia tak pernah menyangkal bahwa kami berbeda. Ia juga selalu tak paham tentang apa dan mengapa aku menjadi sesuatu. Ia dengan segala kerendahan hatinya selalu mendukung segala impianku, ia memiliki caranya sendiri untuk membantuku. Dan yang terpenting, aku sangat tahu bahwa ia memiliki kasih sayang untukku.

Sampai di titik ini, aku tak bisa menahan tangis. Tangis penyesalan. Sebuah penyesalan kenapa aku begitu mudah berputus asa ketika mengajaknya berpindah semakin mendekat ke tempat dimana sekarang aku berada. Aku benci dengan keegoisanku yang membiarkannya berlama-lama berada disana. Aku malu dengan diriku sendiri yang mengobral usaha untuk mendekati orang lain sementara aku tak acuh padanya.

Dan sekarang, sampailah di titik dimana sepertinya aku tak bisa lagi berdiam diri melihat ini semua. Segala ke-tak-acuhanku telah menimbulkan luka mendalam bagi orang-orang yang kucintai. Sudah saatnya aku berbalik dan mendekat padanya. Sudah saatnya aku meruntuhkan tembok dan keegoisanku.  Aku tak bisa lagi menunggu ia yang berjalan ke arahku. Aku tak bisa lagi menunda-nunda dan menutup rapat mulutku serta berpura-pura seperti tak ada masalah pada dirinya.

Walaupun aku tak tahu harus memulainya darimana….

But, i have to…

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s