Just Show it…

Selama ini aku tidak terlalu ambil pusing terhadap cemoohan secara tidak langsung, pengkerdilan karakter, pemojokan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu di RS terhadap diriku pribadi, profesi, atau kelompokku. Sakit memang, namun jika yang disampaikan adalah hal-hal yang tidak berdasar, tidak objektif dan hanya sebentuk euforia senioritas keilmuan belaka, hal yang sering kulakukan adalah tersenyum, mengangguk, mendengarkan, kemudian kembali fokus ke aktivitas semula tanpa berniat memikirkan ulang.

Namun banyak juga yang sering memandang sebelah mata, meragukan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki. Untuk hal yang satu ini, aku mencoba sekuat mungkin untuk menerima. Karena aku betul-betul sadar, sebagai seseorang yang baru di dunia profesi, begitu banyak hal yang belum aku kuasai. Jadi pantas saja banyak yang meragui kecakapan kita. Ini lebih menjadi dorongan serta motivasi agar aku segera mencukupkan target kompetensi yang harus dicapai.

Jadi pada suatu ketika, seorang perawat senior memintaku untuk mengantar pasien untuk konsul ke dokter spesialis THT di Poli. Setelah kembali mendapatkan poin poin penting apa saja yang harus dikonsulkan, segera kubawa pasien ke Poli.

Singkat kisah, sesampainya di Poli, aku segera menghampiri seorang perawat senior yang berjaga disana. Memberitahukan ada pasien yang akan konsul dengan Dokter Spesialis. Sang perawat memperhatikan diriku secara seksama dari atas hingga ke bawah. Melihat tampang culunku dengan seragam putih yang notabene masih seragam praktek jaman-jaman kuliah, iya langsung bertanya:

”Mana uni perawatnya? Kenapa membiarkan mahasiswa praktek datang konsul sendirian?”

“Hmm… saya magang Bu di RS ini….” *Berusaha menjelaskan*

“Oo… kamu magang? Hafal dengan pasien kan? Tau dengan kondisi pasien? Nanti ditanya Bapak (dr. Spesialis) kamu ngerti harus jawab apa kan?”

Saya hanya bisa mengangguk lemah, mulai membuka kembali ingatan tentang riwayat penyakit pasien “InsyaAllah ngerti Bu”.

“Bapak pemarah loh… nanti kalau ditanya tentang pasien dan tidak mengerti pasien bisa dimarahi. kok perawat ruangan membiarkan kamu sendiri yang datang konsul”

“Ya, kakak perawat nyuruh saya yang antar pasien bu, ini di status pasien sudah lengkap. Kalau tidak ibu telfon lagi deh ke ruangan. Katanya sih ini bukan pasien Bapak bu, tapi pasien Bu dr. ”. Karena seingatku bukan dokter spesialis yang dimaksud si Ibu yang akan kutemui.

“Pokoknya ibu tidak mau tahu, yang penting kamu hafal dengan kondisi pasien..”

Kemudian si Ibu perawat senior langsung menelefon ke ruangan tempat pasien dirawat sambil mendumel dan mengkonfirmasi ulang tentang “kenapa adik magang yang disuruh konsul”.

Belum sempat si Ibu perawat menaroh kembali gagang telefon, sang dokter spesialis THT muncul.

“Loh ini kan pasien saya ya?”
“Iya Bu, tadi sudah konsul dengan dokter penyakit dalam dan sudah di ACC untuk operasi, sekarang… bla bla bla” aku menjelaskan kondisi pasien secara gamblang.

“Oh ya sudah… kalau begitu lanjut persiapan operasi, pasien sudah dipuasakan kan? Coba lihat hidungnya lagi….bla bla…”

Setelah menandatangani status pasien dan mengisi lembaran konsul, dokter spesialis langsung kembali ke ruangan.

Dan kemudian si Ibu perawat hanya berdiri mematung sambil masih memegang gagang telefon.

Dengan intonasi yang berbeda dari sebelumnya *lebih lembut*, si ibu kembali bertanya ,” dari STIKES mana dek?”

Ya Tuhan… Jujur aku sangat rindu ditanyai seperti ini. Ini adalah pertanyaan klasik yang sering ditanyai orang RS ketika kami masih mahasiswa dulu. Dan dengan rasa bangga yang tertahan ketika itu aku akan langsung menjawab “dari Keperawatan UNAND Bu”.

Namun saat ini aku hanya bisa tersenyum tipis sambil menahan rasa haru di dalam dada. Dengan seragam klinik yang masih memiliki lambang UNAND yang tersembunyi di balik jilbabku ingin sekali aku mengulangi jawaban yang sama.

Kemudian Perawat ruangan datang, dan menjelaskan tentang statusku sebagai dosen magang di RS ini.

“oooo… ibu dosen ternyata….”

Dan kemudian si ibu perawat tersenyum lebar kepadaku. Senyum yang sama sekali tidak tampak ketika aku datang tadi.

Jujur, aku sama sekali tidak merasa masalah jika diremehkan disini, bahkan ini bukan hanya sekali dua kali terjadi selama aku magang di RS. Walaupun sempat sedikit shock di awal, namun kejadian-kejadian seperti ini menyisakan sebuah senyuman di akhirnya. Ini hanya perkara “Don’t judge the book by it’s cover” dan bagaimana kita bersikap memperlakukan orang lain  tanpa mengcoveri pikiran dengan apa yang tampak di luar saja. Dan membuktikan kemampuan diri adalah lebih penting dari sekedar membalas mengutuk-ngutuk dalam hati.

Yaahh… mungkin ini salahku juga karena masih ngotot memakai seragam mahasiswa selama dinas, dan enggan berdandan menor ala ibu-ibu untuk menciptakan kesan “karyawan”nya.

Hanya satu hal yang membuat aku sedih untuk kejadian saat itu : Tentang jawaban “dari Keperawatan UNAND” yang belum lagi bisa kusebutkan.

Ah, aku sedih  dan rindu dengan almamater ya Tuhan. Sangat….!

4

====NNNNN====

Oh ya, sebelumnya perkenalkan, aku adalah seseorang yang baru lulus profesi keperawatan. Baru beberapa bulan yang lalu diwisuda. Melamar pekerjaan, dan kemudian lulus untuk menjadi tenaga dosen di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan swasta di Program Studi S1 Keperawatan. Namun karena belum memiliki pengalaman bekerja di klinik, akhirnya kampus mengirimku untuk magang ke RS, agar lebih mengenal lingkungan RS dan tidak terlalu canggung jika kelak harus mengajar praktek kepada mahasiswa di kampus. Jadi bekerja di RS ini adalah pengalaman kerja pertamaku, namun sebelumnya aku sudah pernah mencoba praktek klinik dan dinas di beberapa tempat ketika mengambil profesi Ners.
Sebagai seseorang yang masih “Fresh Graduate”, selama menjalani magang aku tidak pernah memanfaatkan embel embel “dosen magang” sebagai tameng agar tidak disuruh-suruh di ruangan. Dengan senang hati, dan dengan penuh semangat “kemahasiswaan” aku bersedia membantu pekerjaan di ruangan bedah tempat aku dimagangkan. And all you have to do is just do your best selama itu bermanfaat bagi orang lain, tanpa memandang status atau pakaian!
 

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s