Berdamai dengan Takdir

Allah tidak pernah salah dalam memilihkan takdir terbaik untuk kita. Meskipun sempat beberapa kali merasakan patah hati dan kemudian sesekali terbit rasa penyesalan dan kecewa, namun sikap yang harus terus engkau pupuk adalah senantiasa berpositif thingking kepadaNya.

Ada banyak yang bertanya : Kenapa tidak mencoba disana, kenapa tidak mengambil yang disini? Kenapa tidak memilih ini, itu dan sebagainya. Begitu banyak penawaran yang berdatangan, begitu banyak pilihan. Dan semuanya dikembalikan kepada kebijaksanaan kita dalam bersikap dan memilih. Namun apa yang telah berada dalam genggaman dan dipilihkan oleh Allah untuk kita, berarti itulah rezeki dan suratan takdir dariNya. Amanah yang telah terlanjur kita pilih, maka disanalah kewajiban kita untuk menuntaskannya. Meskipun itu bukanlah pilihan prioritas yang kita inginkan.

Kadang kita sempat bertanya : “Ya Allah, apakah diri ini masih belum cukup pantas untuk berada disana/mendapatkannya? Atau benarkah niat dan kesungguhan hamba masih belum mencapai level yang seharusnya sehingga Engkau masih belum yakin untuk mengamanahi hamba?”. Begitu banyak pertanyaan yang muncul ketika seseorang masih berada dalam fase penyangkalan terhadap gagalnya ia untuk mencapai pilihan yang diinginkannya.

Bukan hal yang salah ketika manusia mengalami yang namanya denial/ fase penyangkalan, mengingkari takdir yang telah terjadi. Ini adalah sebuah mekanisme yang kodratnya sudah dimiliki setiap manusia. Dari penyangkalan kemudian mereka akan menjadi marah, tidak menerima hal yang terjadi. Sehingga terjadilah tawar menawar : “Ya Allah, bisakah hamba menjadi A saja? Bisakah hamba berada dan mengabdi disana saja? Datangkan keajaiban itu ya Rabb”. Bagi seseorang yang tak mampu berkompromi dan masih melakukan penawaran, mungkin setelah fase ini akan menimbulkan efek yang namanya “depresi”. Namun tidak semua orang yang bisa menolak kenyataan yang ia alami. Pada umumnya, setelah jangka waktu tertentu mereka akan dapat menerima keadaan.

Ya, menerima kenyataan dan kemudian berdamai dengan takdir. Berdamai dengan takdir bukan berarti kita menyerah begitu saja pada keadaan. Tetap memelihara diri agar terus memandang hal-hal positif dari takdir yang dipilihkan oleh Allah, kemudian menjalaninya, dan jangan berputus asa untuk menciptakan mimpi-mimpi yang baru.

Boleh jadi do’a kita masih ditunda untuk dihijabah oleh Allah, dan mungkin akan ada jalan lain menuju impian yang kita inginkan, dan mungkin juga Allah tengah mengganti impian kita dengan sesuatu yang lebih baik untuk kita jalani. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui apa yang lebih baik untuk kita, sedangkan kita buta terhadapnya.

#menasehatiDiriSendiri

 2

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to Berdamai dengan Takdir

  1. Ahmde Abdel Rozaq says:

    aku suka kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s