Ini tentang Kesetiaan dan Pengabdian

Pada umumnya orang-orang menyaksikan bukti kesetiaan suatu pasangan melalui kemesraan yang tampak nyata, usia pernikahan yang lama, dari sikap dan tingkah laku pasangan antara satu dengan yang lainnya.

Tapi, menurut saya pribadi, kesetiaan itu akan justru terbuktikan ketika salah satu pasangan mendapatkan ujian. Baik itu ujian kesakitan, kemelaratan, kemiskinan, musibah, dan lain-lain.

Jika ingin melihat bukti tentang kesetiaan dan kasih sayang pasangan suami-istri mungkin Rumah Sakit bisa menjadi salah satu referensi yang tepat. Tidak hanya antara suami-istri, namun bagaimana bentuk pengabdian anak terhadap orang tua juga terlihat disini dan tak hanya sekedar drama belaka!

Tidak sedikit pasangan suami istri, (*dan mungkin kekasih), yang saya temukan, saling menunjukkan kesetiaan kepada pasangannya ketika salah satu diantara mereka menderita sakit. Contohnya saja kisah si karakter “ibu” dalam postingan saya yang INI. Kemudian baru-baru ini di ruangan kami cukup direpotkan dengan seorang keluarga (istri) pasien yang setiap setengah jam melapor ke Nurse Station tentang cairan irigasi pada selang kateter yang memang cepat sekali habisnya, atau tentang infus yang macet, atau tentang berapa kantong darah yang harus disediakan, dan lain sebagainya. Bahkan hingga larut malam pun, si Ibu tetap gigih berusaha mengingatkan perawat, dokter agar pelayanan kesehatan bagi suaminya tetap prima dan maksimal. Padahal jarak antara kamar pasien dengan Nurse Station cukup jauh (dari ujung ke ujung). Sampai-sampai saking seringnya berinteraksi dengan perawat, si Ibu mampu menghapal nama-nama perawat yang dinas ketika itu.

Sejak beberapa minggu yang lalu, saya juga melihat suatu bentuk kesetiaan pada pasangan muda belia yang baru menikah beberapa tahun. Kenapa muda belia? Karena menurut saya si istri yang seumuran dengan saya menikah di umur yag cukup muda untuk ukuran zaman sekarang. Sakit suaminya tergolong berat. Dan kabarnya sudah 3 bulan lebih suami menderita penyakit tersebut sebelum dibawa ke Rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan, diobservasi, dioperasi, kemudian dilakukan observasi kembali, melalui berbagai macam test, pengobatan (maaf saya tak bisa jelaskan gambaran penyakitnya seperti apa, cukup rumit -____-) dan akhirnya memakan waktu beberapa minggu di Rumah Sakit, tak pernah sekalipun saya mendapati tak ada istri yang mendampingi si pasien ketika saya berkunjung ke ruangan beliau. Si istri sibuk mengurusi keperluan suami dibantu orang tua dan karib kerabatnya. Sampai akhirnya keadaan pasien semakin memburuk, si suami tak tertolong lagi. Istri yang terbilang masih muda ini menahan tangis sembil memegang tangan suaminya di detik-detik terakhir. Sampai akhirnya kami melakukan pemeriksaan jantung (ECG) dan hanya menghasilkan garis lurus, denyut jantung itu sudah tidak ada. Dokter kemudian mengumumkan secara resmi bahwa pasien telah meninggal. Maka tumpahlah air mata yang sedari tadi dibendung oleh si istri. Istri menangis sejadi-jadinya mendapati suaminya yang telah meninggal.

Haaa,,,, benar-benar kejadian haru yang tak akan sama haru nya walau di FTV sekalipun.

Atau mungkin kisah pengabdian anak kepada orang tuanya??

Mungkin saya, Anda, siapa saja akan merasa iri pada salah seorang pasien saya ini. Sejak beliau dirawat di RS, tak pernah kamarnya sepi dari kunjungan. Usut punya usut ternyata itu adalah anak-anaknya, menantu, cucu-cucunya, karib kerabat yang datang menjenguk, silih bergantian merawat dan menjaga si Ibu yang sedang sakit. “Anak ibu banyak Aini… ada yang di Medan, Jakarta, Dharmasraya… Ini cucu-cucu ibu yang dari Medan,,,”, demikian keterangan si Ibu. Lebih kerennya biaya rawatan si Ibu (*yang Subhanalloh banyaknya) ditanggung secara gotong royong oleh anak. Si Ibu ingin sekali cepat sembuh dan keluar dari Rumah Sakit karena akan segera melaksanakan Ibadah Haji beberapa bulan mendatang. Anak-anaknya saling support untuk kesembuhan si Ibu, ah bahagia sungguh melihatnya.

Berbeda jauh dengan si Ibu yang memiliki banyak anak yang akan merawatnya, lain pula dengan nasib seorang Bapak berumur 40 tahunan yang ditemukan kecelakaan dan diantar oleh orang tak dikenal ke Rumah Sakit. Si bapak yang tidak sadarkan diri bahkan tidak diketahui siapa namanya. Setelah sadar, akhirnya latar belakang Bapak terungkap (investigasi mode). Pada hari pertama rawatan, banyak keluarga dan karib kerabatnya yang datang menjenguk. Tapi keesokan harinya, tak satupun keluarga pasien yang ditemukan di kamarnya. Karena tidak ada biaya, dan lukanya tidak terlalu parah maka 2 hari kemudian si Bapak minta untuk dipulangkan. Tapi perawat belum mengizinkan karena belum ada keluarga yang bisa dimintai untuk bertanggung jawab mengurusi administrasi dan menemani pasien untuk pulang. Bagaimanapun, pasien yang pulang tidak boleh dibiarkan sendiri. Hari demi hari tak satupun keluarga yang datang. Perawatpun mencoba menghubungi via Telephone, namun keluarga menolak untuk mengangkat. Setelah beberapa kali dihubungi, keluargapun berjanji akan segera datang menjemput. Lagi-lagi janji yang ditunggu tak kunjung datang. Si bapak semakin gelisah… setiap saat beliau bolak balik ke tempat perawat, meminta siapapun yang lewat di depan kamarnya untuk menyampaikan kepada perawat agar membuka infusnya, kemudian pergi curhat(?) ke kamar pasien yang lain (-__-)”

Demikianlah…  keluarga masih tak kunjung tiba.

Sampai akhirnya di suatu siang, ada seorang pemuda (anggap saja begitu) yang datang ke Nurse Station,”Bu, berapa biaya rawatan bapak yang itu?” Maksudnya si pasien yang tak dikunjungi keluarga tersebut. Setelah menjelaskan rincian biayanya yang berkisar 1,5 jutaan, saya pun bertanya,”Kalau boleh tau bapak siapa nya pasien ya? Keluarganya”.

“Bukan, saya bukan keluarganya, bahkan saya tidak tahu nama Bapak itu” *nah lo*

Usut punya usut si pemuda yang dermawan ternyata adalah keluarga dari pasien lain yang mungkin tersentuh dengan cerita si Bapak yang tak dikunjungi keluarga.

Akhirnya si Bapak menangis haru ketika biaya rawatannya telah lunas, dibolehkan pulang, bahkan diberikan ongkos pulang oleh pria dermawan. “Sadiah awak disiko buk, ndak ado keluarga awak yang manjanguak”. Demikian si Bapak kemudian curhat. Saya sendiri Cuma bisa mendengarkan, dan menasehati ,”sabar Pak, mungkin ini ujian untuk Bapak”. Sesungguhnya Beliau memiliki keluarga yang cukup banyak, bahkan memiliki 2 orang istri. Mungkin disinilah kesetiaan istri istrinya sedang diuji oleh Allah. (*mungkin)

Ternyata tidak hanya si pria dermawan yang bersedia membayarkan biaya perawatan Bapak tersebut! Setelah pria dermawan menuju kasir, ada seorang Ibu baik hati yang diketahui sebagai keluarga pasien yang lain datang bertanya kepada kami ,”Berapa biaya pengobatan bapak yang di kamar X? Sudah ada yang membayarkan? Kalau tidak Ibu bersedia membantu membayarkan….”

Ya Tuhan, ternyata orang baik masih banyak di muka bumi ini, tidak hanya di sinetron saja!! Hehehe

Demikianlah…

Semoga kita menjadi anak-anak yang mengabdi kepada orang tua, orang-orang yang setia kepada pasangan, serta memiliki kasih sayang kepada sesama makhluk tanpa harus didikte dengan status “hubungan kekerabatan”.

 3

*gambarnya sama sekali tidak cocok. maap! -_-

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s