Me Time~

Saya ingat, dulu zaman-zaman kuliah adalah masa dimana hampir tidak pernah memikirkan apakah saya sudah memiliki “me time” atau tidak, waktu untuk menikmati kesendirian. Saya benar-benar tidak peduli dengan hal-hal semacam itu. Hari-hari berlalu dengan berbagai macam kegiatan ini itu. Setidaknya tidak mono. Jikapun pernah bergelut dengan kesendirian itupun sibuk dengan passion seperti baca membaca, tulis menulis di blog, atau urusan seperti menggembel gaje seorang diri ke GM, taplau, atau kemana saja. Tapi itu sangat jarang karena selalu ada teman yang bisa diculik untuk jalan bareng.

Moment yang mungkin merasa sedikit membosankan dan sepi adalah ketika masing-masing kami mulai autis dengan urusan proposal, seminar, penelitian, dan sidang hasil. Sepanjang waktu itu saya pernah merasakan dimana seorang diri sedang bertarung dengan kepentingan masa depan, merasa enggan melibatkan teman-teman, menyeret hati dan otak untuk melepaskan apapun perihal selain “Skripsi”. Yah… setidaknya ketika itu saya masih memiliki hal penting dan urgent yang harus dipikirkan dalam waktu dekat. Dan masih ada teman-teman yang sesekali dalam minggu itu mengajak untuk merefresh diri sejenak.

Namun…
Sudah hampir setengah tahun ini sepertinya saya memiliki kebiasaan baru. Masih semacam me time. Namun lebih tidak memiliki kejelasan.
Ada masa dimana aku seperti kehilangan kewarasan dan melakukan sesuatu diluar perencanaan.

Seperti malam ini…
Niat awal hanya ingin ke ATM di RS. Dekat ini. Dengan kostum standar sejak mahasiswa sampai udah berprofesi menjadi semacam dosen abal begini : baju tidur harian di cover rok, jilbab sorong, jaket, sendal crocks. Semuanya baik-baik saja sampai saya harus menelan kekecewaan karna ibu-ibu penjual gorengan di depan RS absen malam ini. Saya kecewa. Padahal saya sangat menginginkan ubi gorengnya yang rasanya fantastic beibeh itu.

Saya kembali ke kosan. Dan demi apa saya batal berbelok ke kosan dan memutuskan untuk berjalan lebih jauh. Saya mau ke simp.tiga dekat stasiun (entah apa namanya namun orang2 banyak menyebut begitu). Disana ada semacam deretan caffe yang menjual bermacam-macam makanan mulai dari nasi goreng sampai ramen. Tanpa mempedulikan gaya standar macam ini yang memang jauh dari kesan modis dan layak. Saya terus berjalan sepanjang jalan raya. Dan entah sejak kapan pikiran saya langsung berubah. Akhirnya….. saya memutuskan…. demi apa tiba-tiba ingin jalan kaki ke Jam Gadang!!!

Saya terus berjalan dengan wajah datar dan kedua tangan tersembunyi di saku jaket, melawan dingin dan tak peduli jika saya hanya membawa uang Rp 50.000,- ATM, dan Handphone.

Oh ya… kosan saya di belakang gereja di samping SMP Xaverius, Darul Hufaz… itu namanya. Tidak terlalu jauh dari jam gadang tetapi jika sedang waras, cukup melelahkan jika harus berjalan kaki kesana apalagi di malam hari dengan isyu kabut dan udara yang cukup menggigit.

Di sepanjang jalan banyak pemuda pemudi, remaja remaji mainstream yang sedang menghabiskan waktu berdua. Oh ya… saya lupa ini malam Minggu. Di beberapa titik juga ada sekelompok remaja yang menawarkan masker kepada pengendara dan pejalan kaki. Saya pikir itu gratis, namun ketika saya semakin dekat, mereka malah menawarkan masker tersebut seharga Rp 5.000,- untuk 2 buahnya. Astagah… Sebagai makhluk yang dulu pernah sangat akrab dengan apotik karena sering bolak-balik membeli masker dan handscoen untuk berdinas di RS ketika mengambil profesi Ners, bathin saya tentu menolak. Rp 2.500 terlalu mahal untuk sebuah masker!!!! #pelittakberkesudahan

Saya lanjut jalan. Pemandangan muda-mudi masih berlanjut. Mereka seperti model sepasang kekasih di video clip lagu Minang. Ah, seharusnya saya membawa headset, agar bisa lebih menikmati jalanan seperti sedang syuting music video jugak. (=..=)”

Dan kemudian jam gadang semakin dekat. And then what else? Saya bingung… sebenarnya apa tujuan saya kemari. (=.=)”

image

Masih dengan wajah datar seperti kehilangan fikiran saya terus berjalan sampai menemukan kaefsi. Kemudian saya ingat pernah makan bersama dengan teman-teman di kaefsi patimura. Saya kangen. Demi mengenang mereka saya masuk kesana dan membeli oriental bento serta gocengan.

Dan kemudian pulang ke kosan. Masih berjalan kaki, melewati ke crowded-an jam gadang yang penuh adegan foto model dengan tampang datar.

Saya benar-benar tidak paham apa yang sebenarnya otak saya pikirkan ketika saya memutuskan untuk berjalan sendirian di malam-malam begini, tanpa persiapan ataupun outfit yang cukup layak.

Apakah ini yang namanya ‘me time’?
Entahlah….

Setidaknya sepanjang jalan tadi saya telah banyak memikirkan berbagai hal. Berbincang-bincang dengan diri sendiri *healaaaaah* bukan…. saya tidak sedang mengalami halusinasi!!! (-..-). Dan saya ingat telah memutuskan beberapa hal tadi. πŸ˜€

image

image

Oia… dulu semasa kuliah aktivitas seperti ini *berpikir di sepanjang perjalanan dan melakukan perbincangan dengan diri sendiri sering saya lakukan ketika mengendarai motor sendirian. Bahkan lebih ekstrim saya pernah berteriak-teriak gaje di tengah hiruk pikuk jalan raya sambil terus menggas motor bahkan menangis tersedu-sedu. Hahaha… jika diingat-ingat ketika itu saya seperti out of my mind. Saya tak peduli jika ada pengguna jalan lain yang mengetahui. Toh saya pakai helm begini dan tak saling mengenalkan. Phuahahaha….

Dan setelah itu… ada semacam perasaan lega. Walau sedikit.

πŸ™‚

Its about… how to make a fun time with your own self in a chaostic mind.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Me Time~

  1. aminocte says:

    super sekali, Kak. *apa ami yang nggak hobi keluar malam, ya?*
    entah kenapa kalau balik ke Bukittinggi langsung jadi anak rumahan, nggak ke mana-mana kecuali ada acara keluarga (seperti makan di luar atau ke manalah)

    • Sampai detik selesai sholat maghrib masih malasssssss buanget keluar ami. Padahal gak ada makanan di kos. Gak tau deh tetiba aja berjalan gajr gini. Hahha. Kalau di rumah kakak juga anak rumahan mi… males juga kluar2 ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s