Kebahagiaan atau Kepentingan ? ~

Beberapa waktu yang lalu saya membaca update-an status seorang teman yang kira-kira salah satu isinya adalah : Kunci kegagalan adalah berusaha membahagiakan semua pihak.

Membaca ini, ada semacam pertentangan di dalam diri saya antara menyetujui statement ini atau menolaknya. Jujur saja, siapa sih orang yang tidak ingin membahagiakan semua pihak? Kecuali orang jahat sekelas monster atau gank-gank mafia pembuat onar serta kroni-kroninya, pada dasarnya manusia hidup dengan panggilan jiwa ingin melihat kebahagiaan setiap orang yang ada di sekitarnya.

Namun berbalik lagi pada arti kata kebahagiaan, setiap individu memiliki opini dan persepsi berbeda untuk menerjemahkan kata-kata ini. Seperti para pejabat yang sepertinya bahagia jika banyak harta tertimbun di sampingnya, karyawan-karyawan yang bahagia jika kepentingan2 dan kebutuhannya terpenuhi, atau anggota Running Man yang mendapatakan kesenangan hanya dengan membully si Kwangsoo. Sungguh bermacam-macam makna kebahagiaan.

Lantas, apakah kita akan terus membahagiakan para pejabat yang hanya akan bahagia jika mendapatkan peluang menumpuk harta mungkin dengan cara korupsi? Tentu hal-hal semacam ini tidak dapat kita benarkan.

*Ah… pembahasan ini mulai membosankan.

Hari ini saya juga mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian yang ada di kantor tentang ,”upaya membahagiakan orang lain: ini.

Jadi ceritanya, dalam suatu penyusunan daftar pembimbing skripsi, ada beberapa request ilegal yang menginginkan dosen A, dosen B, atau anak A dengan dosen B saja karena si anak A punya keterbatasan ekonomi dan kemampuan dan bla..bla *setumpuk alasan irrasional dibeberkan demi menutupi kepentingan tersenbunyi.

Tentu saja ini tidak dapat dibenarkan. Karena ini tidak sejalan dengan prosedur yang telah ditetapkan. Titik…!
Meskipun yang meminta adalah seseorang yang memiliki back up yang kuat.

Tanpa kita sadari, intervensi-intervensi gelap yang dilancarkan oleh para petinggi kepada bawahannya demi “kepentingan mereka” dan demi “kebahagiaan mereka” sebaiknya tidak dijadikan sebuah “excuse” untuk mematahkan komitment yang sudah kita pupuk sejak awal.
Sekali saja terpatahkan, maka akan ada gencatan-gencatan kepentingan lain yang menyerbu.

Ya…
Tidak semua kebahagiaan yang harus kita usahakan.
Karena pada dasarnya ada kebahagiaan kebahagiaan semu yang bersumber dari hal-hal negatif yang tidak bisa ditolerir hati nurani.

Ini bukan kebahagiaan…. tetapi kepentingan.
Banyak kepentingan yang harus diwaspadai.

~

#berusahabijak

image

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kebahagiaan atau Kepentingan ? ~

  1. aminocte says:

    Oohh…agak beda penafsiran kita pas baca kalimat itu, Kak. Kalau ami nangkapnya membahagiakan semua orang itu ya dalam arti sebenarnya,’membuat orang senang dan bahagia/puas’ atau setidaknya, seperti itu kelihatannya. Seperti kisah ayah dan anak yang menunggangi keledai, lalu dikomentari orang, trus ayahnya turun, dikomentari lagi, trus gantian anaknya jalan, ayahnya menunggang keledai, dikomentari lagi. Akhirnya keledainya malah digendong. Jadi kalau seseorang ingin membuat terobosan besar dalam hidupnya, lalu dia menjadi bimbang karena ingin menyenangkan semua pihak, misalnya orang tuanya nggak pingin dia merantau, atau sahabatnya ingin dia tetap kerja di kantor yang sama dengannya, dia bisa saja menemui kegagalan.

    Tapi penafsiran seperti yang Kakak tulis itu juga bisa, sih. Ami malah baru kepikiran bahwa ‘kebahagiaan’ itu tidak selalu berarti ‘kebahagiaan’, bisa juga ‘kepentingan tersembunyi’. Dan itu memang tidak boleh dibiarkan kalau bersifat negatif.
    *duh, apa deh,*

    • Ami cerdas!! Hehhe.. iya ami… kakak awalnya berpikir seperti itu. Namun jika seperti contoh kedua (merantau) akan banyak faktor dan kemungkinan berbagai macam takdir yang akan terjadi tdk hanya kegagalan, namun juga mungkin semakin sukses. ^_^

      Dan cerita yg kakak angkat di postingan itu kira2nya karena keisengan belaka mencari rasional apa sebenarnya yg terjadi ketika kt memutuskan lebih menjaga mood/kebahagiaan orang2 tanpa memilah2nya. Haaaah… ribet. Kira2 begitulah ami.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s