Muara~

Aku berdiri didepan sebuah cermin besar yang memantulkan wajahku sempurna. Kuperhatikan raut itu yang tampak suram dan tidak bercahaya. Tidak ada senyuman disana, hanya mata yang berkaca-kaca, yang sudah cukup menyiratkan bagaimana perasaanku sekarang.


Aku berkata-kata di dalam hati, mencoba berdialog dengan nurani, ah tidak. Lebih tepatnya aku sedang mencoba menceritakan kepada Tuhan apa yang sedang kurasakan kini. Kemudian kukisahkan betapa aku merasa sedih. Ketika mendapatkan begitu banyak intervensi, ketika apa yang terjadi di sekitar tak bersesuaian dengan hati nurani. Tentang mereka yang mempersalahkan diri ini, tentang ketidak adilan dalam sebuah profesi.

Teman, walaupun kau tak di sini, namun aku tak benar-benar merasa sepi. Kurasa dari dulu kita sudah sama-sama sepakat kemana muara semua keluh kesah. Walaupun betapa besarnya hasrat dan keinginan untuk bisa bersama denganmu dan menceritakan semua ini.

Meski demikian, tetap saja ada genangan air mata mengingat betapa dahulu kita pernah berbagi bersama…

mata

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s