Terjebak Baralek Demokrasi #Part1

Alhamdulillah, lepas mencharger ulang energi sehabis shaum dengan aktivitas yang cukup padat hari ini *sok sibuk banget gue*, tangan saya sepertinya sudah kangen menari-nari di atas keyboard notebook yang umurnya tahun ini tengah memasuki angka ke-enam. Sebelumnya beberapa bulan terakhir saya cukup aktif memposting tulisan abal via andorid, dan ternyata memang kenikmatan menulis di keyboard notebook tidak bisa ditandingi oleh layar sentuh yang masih sulit saya kendalikan jika ingin mengetik cepat, walhasil ada typo di sana-sini.

By the way, berbicara tentang “baralek demokrasi”, saya sudah cukup bisa move on loh!! Ya… Ya… saya kemaren sempat berkecil hati karena partai jagoan saya mendapatkan perolehan jumlah suara diluar ekspektasi saya pribadi. Dan mungkin itu juga terjadi pada hampir seluruh kader dan simpatisan partai kita semua a.k.a PKS . Sampai-sampai orang serumah pada ketawa heran lihat saya mencak-mencak seperti orang putus cinta, dan yang paling bikin kesal itu Nenek yang begitu dengan proaktif dan semangat ’45 membangunkan saya yang kala itu sempat tertidur hanya demi memberitahukan,”Ni.. PDI menang looohh!!” -_-)’ ini nenek tau bingit saya fans berat PKS, .. Muhahahha, you know me so well lah. Dan seperti yang saya duga, kader PKS begitu cepat legowo, gampang Move On meskipun saya tahu mereka sempat “Tasuruik”. Hal ini saya ketahui dari begitu banyaknya inbox masuk di Group WA yang isinya kira-kira penyemangat dan taujih yang “mengademkan hati”.

Saya bersyukur masih diikutsertakan dalam group-group semacam ini, karena dengan begitu meski hanya menjadi member pasif, setidaknya saya tahu bagaimana keadaan internal partai melalui jarkom-jarkom yang di share di sana. #FYI, sudah hampir 2 tahun saya tidak pernah lagi mendapatkan jarkom-jarkom serupa via sms ataupun melalui forum, bahkan saya sama sekali merasa bukan bagian dari itu semua lagi sejak negara api menyerang beberapa tahun terakhir (-_-).

Okeh, kita tinggalkan cerita haru biru(?) di atas, karena sesungguhnya kemenangan versi kader PKS bukan hanya terletak pada seberapa besar suara yang didapatkan meskipun sebagian orang mengacu pada point tersebut. Jadi semoga para kader dan simpatisan semakin ikhlas dalam berjuang, kokoh dalam menerima cemoohan atau bullyan, dan tetap #AYTKTM (*ini bener ga sih singkatannya😀 )

By the way lagi, akhir-akhir ini saya sering debat gaje dengan seorang tetangga (*baca kawan semasa kecil sampai SMA) di bbm, yang merupakan fans kelas beratnya Jokowi. Beliau memutuskan untuk golput karena sindroma krisis kepercayaan akut terhadap semua partai. Namun jika nanti ada pilpres yang mengusung Jokowi sebagai capres, maka ia telah bertekad dengan cemungudh ’45 untuk memilih di pilpres!!! (*asal ada Jokowi). Ini cukup aneh, bagaimana mungkin mengangkat seorang capres tanpa ‘meminati’ salah satu partainya. Namun ia cukup yakin dan percaya Jokowi tidak akan mudah diatur oleh partai pengusungnya. Oh yeah???? Whahaha…

Perdebatan bermula ketika saya memposting di bbm sebuah status ajakan untuk tidak golput. Yah… sekali-kalinya update status bbm *itupun setelah pemikiran yang panjang* saya langsung dapat serangan begitu. Wwkkwkkwk… Intinyaaaa adalah : 1) Saya dianggap fans fanatik PKS *emang iyeee muhahaa* dan dituduh membenarkan segala cara termasuk BC-BC black campaign ga penting memburuk-burukkan partai lain dan memuja-muja PKS, ini fitnahh terkeji di abad ini tetanggaa… hahaha. Padahal sumpehh seumur idup punya bbm saya belum pernah nge bece-bece in sesuatu, saya juga ga paham tombol beceh itu ada di mana =..=). Saya Cuma pernah ngopas artikel dari group WA ke akun bbm dia *just for him!!* dan itu langsung dianggap beceh… alamaakkjanggg… awak Cuma ngirim artikel untuk menambah informasi dikau tetangga!!😀

2) Tetangga saya ini mengklaim tidak ada partai yang bersih *ini saya setuju*, namun kemudian saya dituduh kembali mengangkat-angkat citra PKS sebagai partai bersih tiada cela, kemudian dia melengkapi tuduhannya dengan perkara ust LHI. Hadehhh… ini Cuma gegara statement ,”di antara yang buruk, pilihlah yang terbaik, pilih padi dengan bulir yang paling sedikit busuknya”. #membullysegampangini

3) Saya diajak untuk menerima Jokowi sebagai sosok yang bersih, dan kemudian dengan pengetahuan saya yang cetek, sotoy, labil saya sedikit memaparkan tentang latar belakang Jokowi dan beberapa “oknum” terselubung di belakangnya, kemudian saya ikut serta melampirkan beberapa artikel *yang bukan dari media mainstream* tentang alasan di balik klaim “dukungan terhadap Jokowi untuk nyapres” dari PDIP. And as always saya kembali ditertawakan agar tidak membaca berita ‘hau-hau’. Wkwkwkw, tetangga saya ini terlalu percaya dengan berita-berita dari TV nasional semacam Metro, TV One, yang dianggap sudah kapable dalam menseleksi berita ‘terakreditasi’ yang akan ditayangkan. Padahal eh padahal… ada banyak rahasia besar partai dan berita penting lainnya yang tidak boleh diekspose di sana. Dan tetangga saya berpesan : Suluah awak dipatorang, suluah urang lain ijan dimatian!!! Duhai tetangga… sekarang orang mainnya Philips Led, bukan suluah lagi!! Saya Cuma mau nyaranin: Ganti suluah gih sana!😀 *dikeroyok*

Kemudian perdebatan berlanjut setelah hasil QC dirilis, bully membully di antara kami berdua terus berlanjut, dia begitu bahagia mentertawakan hasil perolehan suara PKS, dan saya juga bahagia mentertawakan dirinya yang terpesona dengan Jokowow Effect. Tetangga saya menanyakan : Siapa presiden yang akan kamu pilih nanti?? Kamu tidak akan golput setelah mengumbar-umbar ajakan “Jangan Golput” kan??? Trus PKS bakal koalisi dengan siapa?? Suruh PKS koalisi dengan seluruh partai islam deh!!! Mungkin itu sedikit ngaruh untuk ngelawan Jokowi. Makanya,, PKS itu berpikiran sedikit terbuka donk, kalau begini-begini terus PKS ga bakal maju!!! “ Sepertinya tetangga saya salah paham dengan menduga saya adalah salah seorang dewan Syuro yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan visioner darinya tentang masa depan PKS. Yang pasti saya tidak akan golput lahh tetangga😀

Ya begitulah… cuap-cuap perdebatan ini kami tanggapi dengan saling mentertawakan satu sama lain. Tidak menganggap hal ini adalah media untuk saling membenci. Dan kami berjanji untuk tetap saling menyapa jika nanti pulang kampung. Phuahahahha…

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s