Random Story #2

~Sore itu listrik masih mati, ya sudah semenjak siang tadi sebenarnya mengalami kematian. Fiuf, dengan modus : Tidak bisa masak nasi, saya berniat JJS, just alone… mencari apapun yang bisa dimakan (*hadeuuh). Niatnya sih ke Batagor Ihsan, etetapi uang saya tidak cukup untuk jajan disana. Saya Cuma pegang duit 13.000 ini, mana ATM mati lagi. Yosh!! Bakso Yarsi terlihat berkilauan dari kejauhan, memanggil-manggil saya untuk datang.

Oke! Saya putuskan untuk makan disana. Sendirian, apatis, afek datar, dengan jaket kebesaran, sendal jepit, jilbab sorong, terserah mau ketemu mahasiswa atau tidak (*semoga kalau ketemupun mereka tak kenal dengan saya à seringnya sih begini, kalau tidak pakai seragaman, jarang terdeteksi mahasiswa). Saya Cuma makan, kemudian pulang. Di salah satu sisi jalan, ada segerombolan anak muda, anak lelaki umur 19-20 tahunan *mungkin* yang sedang “nongkrong” di depan teras praktek dokter. Salah seorang dari mereka menyapa temannya yang baru datang

“Pakai shampo Didi ang?”

“Ndak,,,ba a tu??”

“Ba a ko baun anak padusi pas ang tibo??”

“Ndak ado den pakai Sampo Didi doh!!”

Khkhkhkhk,,,, aseli saya ngakak dalam hati ketika mendengar percakapan singkat ini. Bukannya apa-apa, tapi saya adalah silent fans yang menggemari jenis-jenis percakapan ‘santai’ ala pemuda Minang ini. Meskipun terdengar sedikit kasar, tapi saya tidak menangkap unsur kebencian dalam setiap cemoohan yang mereka lontarkan. “Just for kidding”. Dan hati saya selalu tergelitik ketika melihat teman-teman lelaki saya (*biasanya dari Fakultas lain, selain keperawatan) ketika berinteraksi dengan sesama anak lelaki, menggunakan bahasa informal begini. Hal ini pertama kali saya temukan ketika kami KKN. Ketika berkumpul, candaan yang penuh dengan unsur hinaan dan cemoohan begitu kental. Saya hanya bisa ngakak melihat mereka. Ya, ini jarang saya temukan ketika di kampus sih. Dan mereka benar-benar terlihat enjoy dan akrab :p

Saat ini bahasa-bahasa demikian juga sering saya temukan di twitter, fb. Ya, candaan ala pemuda Minang ini menurut saya harus dilestarikan juga. Meskipun bagi sebagian orang terkesan kasar, sebenarnya… yahh ini hanyalah unsur kebudayaan. Selagi tidak melanggar norma dan keterlaluan, yaahhh.. kadang disanalah letak “seninya berkawan”.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s