Ramadhan dan Keluarga

Alhamdulillah… Allah masih memberikan kesempatakan kepada kita untuk bertemu dengan bulan yang mulia. Ramadhan… bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan dimana beragam rasa berkumpul dalam satu paket. Rasa hausa dan lapar, lelah, bahagia, nyaman, sedih, penyesalan, semangat untuk berbuat lebih baik, dan masih banyak lagi. Tak dapat dipungkiri Ramadhan menjadi masa dimana euforia ibadah meningkat, dengan beragam motivasi.

Ramadhan 1435, ahh… entah kenapa Ramadhan di angka ini, dimana kita sudah memasuki era social media century, sungguh jauh terasa ‘ruh’ nya dibanding Ramadhan-Ramadhan dimasa ketika duduk-duduk bersama keluarga di teras rumah sembari memperhatikan anak-anak yang sibuk berciloteh tentang kapan Sirine pertanda waktu berbuka masuk berbunyi. Ah, sungguh aku merindukan masa-masa itu. Ketika persaingan antar saudara dalam perkara memenuhi piring masing-masing dengan beragam makanan adalah suatu kemutlakkan.

Tanpa terasa mengingat hal-hal seperti ini membuat air mata seperti berebutan ingin keluar. Apa pasal? Karena kehangatan keluarga seperti itu beberapa tahun terakhir kurang lagi ternikmati. Dan tahun ini seperti puncaknya. Bahkan aku tak bisa merasakan sahur dan puasa pertama bersama keluarga di rumah. Sampai Ramadhan 7, masih menghabiskan waktu sejam sebelum bedug dengan membeli ta’jil sendirian, menyiapkan makanan sendiri, kemudian 30 menit menghabiskan waktu mengscroll halaman socmed menyaksikan kerakusan orang-orang membicarakan tentang perhelatan pilpres dan world cup. Sungguh menyedihkan.

Segala sesuatu yang berbau ‘keluarga’ adalah hal sentimen di atas dunia ini. Bahkan lebih sensitif dari mengurusi perkara jodoh atau kegalauan remaja remaji. Dan Ramadhan dengan keluarga entah kenapa  memiliki kaitan yang sangat erat. Sehingga Ramadhan tanpa kehangatan keluarga menjadi penyebab rasa melow dan merupakan faktor predisposisi yang akan membuat air mata lebih gampang mengalir di sela-sela tilawah atau sujud.

Terlebih jika kedua orang tua yang engkau kasihi sedang berada di masa-masa sulit seperti sakit, ah… …berjauhan dengan mereka akan membuat tingkat kecemasan meningkat, dan lagi-lagi setiap ibadah Ramadhan akan menjadi lebih khusyuk dan special untuk mengirimkan doa-doa terbaik untuk keduanya.

●●●
Dear Ama dan Apa, selamat menjalankan ibadah Ramadhan.
Semoga Allah melimpahkan keberkahan Ramadhan untuk keluarga kita. And… please be healthy Pa…😥

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to Ramadhan dan Keluarga

  1. Pingback: #NulisRandom2015 (pt. 9) Flashback Ramadhan On the Story | Zona CahayaMata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s