Persepsi

Aku mengasihani diriku sendiri untuk beberapa kasus dalam hidupku. Aku memandang diriku benar-benar menyedihkan dan itu membuatku ingin tertawa mengejek diri dengan sekeras-kerasnya. Ha Ha Ha Ha…

Namun apa yang terjadi diluar kendali memang. Ini benar-benar abstrak. Sebuah takdir yang tak mungkin untuk kusesali. Karna tak ada penyesalan jika apa yang kau lakukan sudah sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Meski itu terkadang membuatku menjadi sosok yang menyedihkan dalam perspektif keindividuanku sendiri.

Tapi aku masih belum bisa mengendalikan diriku untuk tidak mentertawakan diri sendiri. Tertawa miris yang sebenarnya lebih merupakan ekspresi lain dari sebuah kesedihan. Hei, aku tak ingin dikasihani orang lain! Jadi aku telah menjadikan diri sendiri sebagai wadah untuk memandang kasihan terhadap semua hal menyedihkan yang aku alami. Itulah kenapa setelah menangis tersedu-sedu, aku kadang sering mengakhirinya dengan tawa, tawa yang bunyinya sedikit aneh karena diselingi dengan sedu sedan. Tapi itu tetap kedengarannya sangat merdu. Aku merasa berhasil keluar dari pribadi yang menyedihkan kepada karakter cool yang menerima keadaan dengan cara tertawa. Tertawa yang bunyinya ha ha ha ha.

Hanya saja untuk beberapa penyimpangan dan dosa yang kulakukan, aku benar-benar tertawa sedih melihat diri sendiri dengan jijiknya. Begitu banyak hal yang menurut orang-orang sangat membanggakan, namun aku sendiri memandangnya dengan penilaian lain dengan beberapa kali dengusan nafas tidak suka. Dan kemudian aku meremehkan diri sendiri sebagai hukuman lain terhadap diri yang berbuat salah.

Aku juga mengeluarkan senyum jijik meremehkan ketika ada beberapa partisi dalam diriku yang mengumandangkan perasaan iri dan dengki terhadap sesuatu yang lebih tinggi. Sembari mengingatkan kapasitas diri. Hei, ia seperti ini dan seperti ini, sedangkan engkau seperti itu dan itu!! Tidak bisa disamakan!! Ini hanya sebuah lecutan kepada diri sendiri untuk membangkitkan kembali semangat berjuang setelah sebelumnya mengadakan evaluasi diri dan penilaian diri sendiri.

Dengan begini aku merasa lebih lega… lega menyadari bahwa masih ada kontrol dalam diriku yang bisa menetralisir berbagai perasaan meledak yang kadang membuat kita larut dalam sesuatu yang bernama kesedihan, penyesalan, terpuruk, ataupun merasa harga diri rendah.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

8 Responses to Persepsi

  1. lazione budy says:

    kata buku Kubik Leadership yang kemarin saya baca, Mengukur diri dengan Valensi.
    Saya sih belum cek di web arti sesungguhnya kata Valensi, tapi secara umum artinta “tahu diri”

  2. rangtalu says:

    selain kontrol dari dalam, sepertinya dibutuhkan juga seseorang yang akan mengontrol dari luar.
    ya, seseorang.
    ah, pastinya mengertilah ya😀

  3. Abi Sabila says:

    sebuah tangis sedih yang sebenarnya adalah ketika kita tak lagi tahu, tak lagi bisa menilai apa yang kita lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s