Patient patients ~

Beberapa bulan terakhir ini semakin akrab dengan Poli Jantung RSAM. Setidaknya sekali dalam sebulan aku ikut serta duduk menemani Apa yang sejak pertengahan tahun lalu kembali menjalani pengobatan jantung. Yah hampir 2 tahun lamanya Apa mengabaikan pengobatan ini. Sampai akhirnya bulan Juni kemaren Apa akhirnya mengalah, tak sanggup lagi berkata,”Aku baik-baik saja” ketika nyeri dada menyerang. Selama ini kami yang senantiasa khawatir dengan “baik-baik saja” ala Apa, akhirnya berhasil membujuk Apa untuk kembali melakukan pengobatan.

Apa kembali akrab dengan RS. Dan bisa dikatakan ini adalah salah satu momen dalam hidupku dimana aku begitu takut mendengar apa yang akan diucapkan dokter ketika mereka melakukan pemeriksaan. Tidak… tidak, aku selalu takut mendengar mereka mengambil kesimpulan tentang penyakit yang keluarga kami derita, namun saat ini aku benar-benar takut. Dokter konsulen jantung itu tampak mengerutkan kening ketika melakukan pemeriksaan ecografi. “Terdapat pembengkakan pada otot jantung” katanya! Kardiomegali… aku menarik nafas dalam, mencoba untuk mencerna. Dan yang paling membuat shock adalah ucapan dokter spesialis ini ketika ia memperlihatkan adanya kebocoran pada katup jantung. Kilatan warna merah dan biru yang membaur pada layar monitor membuat kepalaku pusing seketika. Ini sungguh mengejutkan, mengingat permasalahan jantung Apa adalah penyempitan pembuluh darah. Bahkan dipemeriksaan terakhir 2 tahun lalu penyempitannya sudah jauh berkurang, sudah 60%! begitu tergambar di potret hasil eco. Tapi jika dikaji lagi, ini seperti sebuah akibat dari penghentian pengobatan yang cukup lama. Jantung Apa seperti dipaksa bekerja keras! Sehingga katupnya rusak, sehingga otot-otot jantungnya yang bekerja ekstra mengalami pembesaran.

Dan yang semakin membuat terkagum-kagum bercampur cemas adalah ketika salah seorang dokter lain mencantumkan diagnosa awal “CHF” pada surat rujukan untuk Apa. Congetive Heart Failure, gagal jantung kongestif! Apakah ini mimpi?? Apakah aku sedang mempelajari kasus pasien CHF sekarang?? Rasanya baru kemaren aku begitu khusyuknya membahas tentang penyakit ini ketika dinas di CVCU siklus KGD 2 tahun lalu, bahkan beberapa bulan lalu mahasiswa yang berdinas di ruang rawat inap jantung mengangkat diagnosa ini sebagai laporan kasusnya untuk dikonsultasikan asuhan keperawatannya padaku. Ya…. semua nama-nama penyakit jantung itu hanya akrab di otakku sebagai salah satu diantara banyak diagnosa penyakit yang harus kupelajari. Aku mempelajarinya bak membaca buku cerita dengan penatalaksanaan yang benar-benar teoritis dan kewajibannku adalah memahami dan menghapalnya. Tapi sekarang diagnosa-diagnosa ini seperti mencoba keluar dari buku dongeng mereka untuk menjadi sesuatu yang nyata. Aku seperti diseret ke dalam kerumitan dan dipaksa untuk melihat langsung betapa mengerikannya mereka. Kemudian bergulat dengan pemikiran tentang Patofis, manifestasi klinis, dampak, komplikasi, pengobatan yang harus dilakukan… hah… Percayalah, ketika engkau sedikit banyaknya mengetahui tentang suatu penyakit, kemudian mendapati fakta orang terdekat divonis mengidap hal yang demikian, tak ayal peluh dingin akan sedikit mengucur ditambah dadamu yang berdebar-debar ketakutan. Aku tidak memiliki pengalaman yang banyak tentang diagnosa-diagnosa medis ini. Yang aku tahu hanyalah teoritisnya! Teoritis yang membuat aku ketakutan! Dan seketika aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh dan semakin bodoh ketika aku berusaha banyak untuk mencari tau lebih tentang mereka.

Ya… Ini adalah titik dimana aku benar-benar merasa ketakutan. Takut untuk kehilangan. Terlebih melihat kondisi Apa yang semakin memprihatinkan. Berat badan yang menyusut, semangat yang surut, wajah pucat dengan akral dingin, serta ringisan kecil di wajahnya. Aku tahu Apa sedang berusaha menahan rasa sakit di dadanya, sistem peredaran darah di tubuh Apa sedang bermasalah, aliran darahnya tidak lancar! Dan Apa masih memaksakan diri untuk bekerja. Seketika aku merasa menjadi anak yang tidak berbakti. Aku menghabiskan minggu pertama Ramadhan dengan banyak menangis, tangis yang seketika keluar setiap kali menguntai doa untuk kedua orang tua. Aku menangis kapan saja di sepanjang hari ketika kembali mengingat Apa. Dan mulai memikirkan terapi apa saja yang harus dilakukan jika tak ada reaksi apapun pada tahap pengobatan awal ini.

Hah… ini benar-benar menguras emosi. Seperti sebuah drama, aku memang selalu berusaha menampakkan wajah ceria dan sikap optimis sambil terus mengkontrol aktivitas Apa, meskipun aku tahu persis hatiku tak sekuat itu. Kali ini ilmu kesehatan yang kudapatkan benar-benar dipertanyakan. Aku ingin mengaplikasikan ilmu itu tanpa melibatkan emosi yang labil. Aku benar-benar ingin menjadi perawat yang baik dan profesional setiap kali keluargaku ada yang sakit. Aku ingin menjadi penguat dan pemberi semangat di tengah kesakitan mereka. Dan sesuatu yang tak bisa kita prediksi seperti ini hanya dapat dikontrol dengan sikap optimis, berusaha dan kembali menyandarkan setiap permohonan dan doa kepada sang Penguasa Langit dan Bumi, Allah SWT. Mudah bagiNya untuk membolak-balikkan kondisi seseorang. Saat ini, yang sehat bisa saja besok menjadi sakit. Yang saat ini kesakitan, sangat mudah bagi Allah membuatnya kembali menjadi bugar. Akankah ketakutan harus melunturkan kepercayaan kita padaNya?

Aku merasa perlu untuk keluar dari rasa ketakutan dan ke’parno’an ku sendiri terhadap penyakit-penyakit itu serta lebih memfokuskan diri untuk membantu Apa menjalani pengobatan serta menyandarkan segala permohonan kebaikan kepada Allah SWT. Ya berusaha adalah kewajiban kita.

Dan akhirnya aku bisa sedikit menghela nafas lega mendapati Apa yang begitu semangat meminum obatnya dan bersedia mengurangi aktivitas berat ketika bekerja. Jika Apa mampu bersabar untuk menjalani pengobatan (*yang sepertinya bisa saja berlangsung selama hidup), kenapa aku tak mencoba untuk juga bersabar menghadapi ketakutanku, bersabar mendampingi Apa, bersabar terhadap semua proses yang dihadiahkan Allah kepadaku.

***

Epilog : Bulan ini adalah pengobatan kesekian kalinya. Aku kembali mengunjungi tempat yang coba kuakrabi beberapa bulan terakhir. Kali ini aku tak lagi mengkondisikan hatiku untuk takut dan cemas (*meski tetap penasaran), ketika sang dokter kembali melakukan pemeriksaan ecografi. Aku mengkontrol pikiranku untuk berkata bahwa semuanya baik-baik saja. All is well… dan dokter hari ini tak mengucapkan satu katapun yang akan membuatku takikardi! Ia hanya mengatakan ,”cukup bagus” dan kemudian menuliskan resep obat yang harus ditebus. Hamdallah…

Keep healthy Apa…

🙂 I love you as long as my life.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

7 Responses to Patient patients ~

  1. lazione budy says:

    GWS.
    Get Well Sooooon Apa.

  2. Sandurezu サンデゥレズ says:

    Semangat kak! Saatnya memanfaatkan ilmu dan kpandaian kakak untuk org yg tercinta, insya Allah semua ujian adl untuk kebaikan hamba-Nya. Smg Apa tetap semangat, diringankan dari segala penyakit. amin.. ::

  3. Abi Sabila says:

    perasaan yang sama, takut, cemas, khawatir dan entahlah apa namanya juga pernah saya rasakan empat tahun lalu saat dokter menyimpulkan hasil pemeriksaanya bahwa istri (almh) mengalami gagal ginjal stadium 4 – 5, dengan penekanan tidak ada stadium 6.
    Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun. kalimat inilah yang kemudian memberikan energi,walau perlahan namun pasti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s