Memori….~

Di dalam kehidupan ini, ada hal-hal yang mungkin tidak bisa kita lupakan karena begitu mendalamnya kesan dan kebanggan yang ditimbulkannya. Ada buncahan kebahagiaan dan senyum samar yang menghiasi wajah ketika memori otak kita kembali memunculkan sketsa tentang hal tersebut.

Bagiku, saat ini aku sangat menghargai perjuangan seorang ‘aku’ di masa muda, masa ketika menjadi pelajar di bangku SD, SMP, dan SMA. Dulu… duluuuu sekali, ketika menginjak kelas I sampai kelas III SD, bagiku ranking kelas bukanlah hal yang penting. Mendapatkan nilai tertinggi itu bukanlah hal menakjubkan yang harus kucapai. Sehingga setiap kali belajar untuk ulangan harian atau ujian catur wulan, aku hanya akan belajar sekedarnya saja. Sekedarnya sampai kira-kira hapalanku mencukupi untuk mendapatkan nilai 7 atau 8. Tidak perlu sampai 9 apalagi 10!! Nanti bisa-bisa kamu mengalahkan si juara kelas!! Belajar sekedarnya saja!!

Apakah tidak terbersit perasaan iri dan keinginan untuk juga mendapatkan juara?? Tentu ada… karena ada semacam rasa bahagia melihat wajah Ama, karena tanpa direncakan apalagi dengan porsi belajar yang ala kadarnya, suaaku berhasil mendapatkan ranking 3 di kelas I catur wulan 3. Ekspresi Ama sungguh mengharukan. Ama melambai-lambaikan raportku yang dijemput beliau ke sekolah sambil tersenyum lebar : Ani juara 3!!! Kemudian memberikan uang jajan tambahan! Asik! Hanya sekali dalam seumur hidupku mendapatkan ranking 3 di rentang kelas 1 sampai kelas 2 SD, selebihnya ranking 7, dan seringnya ranking 4. Ama gregetan sendiri melihat kemalasan dan prinsipku yang ingin mendapatkan nilai pas-pas-an. Aku terlalu malas untuk membuat diri berusaha! Khkhkhkh…

Sampai akhirnya pernah suatu kali, ketika pindah sekolah ke kampung Ama di kelas 2 SD caturwulan kedua…….
Di sekolah yang baru siswanya tidak sebanyak siswa di sekolahku yang lama. Sehingga tidak perlu khawatir tidak mendapatkan perhatian dari guru. Tapi persaingan dan aura saling berpacu antar mahasiswa sungguh kelihatan di sana. Masing-masing mahasiswa memiliki skill yang rata-rata. Hanya beberapa orang yang kelihatan tidak menonjol. Posisi ranking 1, 2, 3 aja bisa berganti-ganti siswanya setiap caturwulan.

Sehingga aku mulai berfikir, sudah saatnya untuk move on. Apa sih sensasi mendapatkan ranking 3 besar itu… apa enak nya untuk naik podium… kenapa mereka sangat mencintai menghapal. Aku suka pelajaran di kelas, tapi aku benci menghapal!
Sampai akhirnya ketika menginjak kelas 3 SD, aku mencoba prosesi menghapal tersebut. O mean benar-benar menghapal! Bukan seperti metodeku sebelumnya yang hanyak mengintip-intip sedikit buku catatan. Aku menghapal dengan membaca berulang-ulang setiap kalimata dalam paragraf. Menghapal mati sampai aku tahu letak titik koma. Tapi kemudian baru menghapal beberapa halaman, aku mulai bosan. Akhirnya cuma mendapatkan angka 7 entah 8 ketika itu. Namun hebatnya, nilai segitu sungguh memberikan kebahagiaan dan kepuasaan sendiri.
“Sepertinya ini menyenangkan….” pikirku. Jika dengan menghapal yang kurang dari 1 jam sudah bisa mengantongi nilai 7 atau 8, berarti dengan usaha yang sedikit lebih keras, kelak aku akan berhasil memperoleh nilai 9 atau 10. Sampai naik ke kelas IV SD, aku berusaha menerapkan metode yang sama. Hingga berani berekspektasi akan menggeser posisi para pemuncak juara. Yaaahhh… paling tidak ranking III cukuplah. Dan ketika itu aku juga mulai merasakan kekecewaan ketika tidak berhasil meraih juara dan statis di posisi keempat. HAahahahha… di hari penerimaan rapor di kelas IV aku benar-benar sedih karena sudah menjanjikan pada Ama akan membawa predikat juara ketika pulang.

Naik ke kelas V SD….
Sedikit lagi…. aku yakin dengan sedikit lagi penambahan usaha, aku bisa menyingkirkan para juara. Pemuncak-pemuncak kelas mulai mengkhawatirkan kegigihanku. And finally, aku berhasil mendapatkan ranking 2 di semester I kelas V (*ketika itu catur wulan sudah beralih ke semesteran). Hah… tidak puas sampai disana, aku yang mulai ketagihan dengan metode menghapal, merangsek naik ke posisi juara I sampai akhir kelas VI SD, menjadi yang terbaik di kelas untuk nilai UNAS.

Begitu seterusnya sampai SMP dan SMA… aku berhasil mengalahkan diri sendiri dan menghapus stigma negatif yang dulu sempat kutanam tentang preatasi belajar dan nilai di kelas. Dan ternyata memang…. menjadi pemuncak juara itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Banyak hal-hal istimewa yang bisa didapatkan.😀

Meski begitu, aku tidak terlalu merasa hebat atau menjadi yang terpintar di kelas. Aku selalu melihat rival-rival ku di kelas sebagai orang yang lebih pintar. Dengan demikian, setiap lelah atau merasakan kebosanan ketika belajar, aku selalu membayangkan rival-rivalku yang sedang melahap buku-buku mereka, sehingga memacu adrenalin untuk terus belajar dan belajar….

÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷

Btw, kenapa tetiba aku menuliskan ini di Blog???
Heheheh… sebenarnya ini karena kemaren ketika pulang kampung 2 minggu yang lalu, Ama memintaku untuk menata ulang isi lemari. Termasuk merapikan kembali tumpukan ijazah, rapor, surat-surat berharga kami sekeluarga yang dikumpul menjadi satu. Dan as always… aku selalu iseng mengutak atik benda-benda lama penuh sejarah ini. Termasuk mengagumi deretan angka di rapor bayangan ketika SMP….

★☆★

Ini adalah rapor bayangan kelas III semester I ketika SMP. Hanya berbentuk 1 lembar kertas. Berisi nilai murni yang didapatkan dari Ujian Semester. Seumur hidup, rasanya cuma 1 kali ini aku mendapatkan nilai murni angka 10 utk ujian semester, dan itu pada mata pelajaran biologi. That’s why i love biology so much. Tapi Unand menolak mentah2 PMDK biologi yg diajukan pada akhir kelas XII… hidup penuh penolakan, tapi semua ada hikmahnya. ha ha ha ha…😀
image

Rapor terakhir di kelas III SMP… Adem banget lihat deretan angka 9 meski tetap nyelip angka 7 dan 8. Ahhhh… aku ingat, keterampilan Budaya Alam Minangkabau ketika itu adalah membuat ukiran khas Minangkabau di sebilah kayu. Dan aku sukses melukai pergelangan tanganku sendiri saking semangatnya memukul pahat ketika mengukir😥
image
image

Rapor terakhir di kelas XII SMA. Puassssss sekali melihat angka-angkanya.😀

☆★☆

Seumur hidup, aku ingin mengenang Nur’aini remaja yang sudah bekerja dengan keras untuk belajar dan mendapatkan pencapaian-pencapaian dalam hidupnya.
Ini akan menjadi semacam pemacu semangat untukku agar tetap tangguh dan tidak putus asa dalam meraih impian dan asa.

You know what?? YES YOU CAN!!

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s