Menjadi Bijak *agh em*

Empat minggu belakangan ini saya cukup direpotkan selama membimbing mahasiswa profesi Ners Program Khusus (Progsus). Apa itu Progsus? Progsus adalah jalur khusus bagi mahasiswa keperawatan yang berasal dari D3 yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Sarjana Keperawatan dan Ners. Jadi bisa dikatakan mahasiswa Progsus ini adalah mereka yang sudah memiliki pengalaman ilmu dan pekerjaan di bidang keperawatan. Semua mahasiswa Progsus kali ini lebih tua dibandingkan umur saya. Kebanyakan dari ibu-ibu dan uni-uni ini sudah bekerja. Masalah pengalaman dinas, mereka jelas jauh-jauh di atas saya (*termasuk pengalaman berumah tangga *plak!). Rata-rata beliau seumuran dengan Tante saya yang anaknya sudah SD (-_-)”. Jadi bisa dibayangkan betapa groginya saya harus membimbing mereka selama menjalani Profesi Keperawatan Medikal Bedah di bangsal Rumah Sakit.

Tapi sungguh saya orang yang pandai berpura-pura untuk masalah ini!! Segrogi apapun, saya tidak pernah menunjukkan kepada mahasiswa. Tetap sambil menjunjung tinggi sopan santun kepada yang lebih tua, saya berusaha menyalurkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan selama menjalani Profesi Ners 2 tahun lalu. I acted so cool even my heart was fluttered. Dan saya merasa lega masih ada yang bisa saya bagi selama bimbingan meskipun dunia tahu pengalaman saya dibanding beliau-beliau ini belumlah seujung kuku pun.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang….

Sudah merupakan rahasia umum jika perjalanan profesi Ners itu merupakan wadah tempat tumbuh suburnya benih-benih konflik. Ini adalah hal yang sangat saya yakini kebenarannya sejak menjadi mahasiswa dahulu. Mengingat kami semua adalah kaum muda belia yang punya segudang ide yang berbeda, ego yang masih tinggi, dan emosi yang sangat tidak stabil. Bahkan saya sangat berharap jika selama siklus profesi berlangsung, penilaian dan tugas cukup diambil secara individu, tanpa harus ada tugas kelompok! Biarlah masing-masing individu bertanggungjawab terhadap nilai nya sendiri tanpa harus bertanggungjawab dan direpotkan dengan tugas kelompok yang menyebalkan karena kita harus memadukan berbagai macam pemikiran dan tingkah laku yang tak semuanya menyenangkan! Namun sayangnya hal-hal yang begitu tidak ada di kamus keprofesian Ners. Karena perawat dituntut untuk dapat bekerjasama dengan sejawatnya selama menjalani profesi nanti di lapangan.

Jadi, saya mulai melihat adanya semacam konflik-konflik internal dalam tubuh kelompok pada minggu kedua, dan semakin menguat di minggu ketiga dan keempat. Saya cukup heran dan takjub. Karena setahu saya, orientasi dari Progsus di almamater saya yang lama adalah bagaimana menjalani profesi seaman-amannya, semudah-mudahnya, dan memperkecil kemungkinan konflik. Bahkan mahasiswa progsus yang kelompoknya digabung dengan kami-kami yang muda belia justru menjadi penengah dan tetua nan bijaksana jika kami-kami yang muda belia ini saling perang dingin.

Saya seperti menghadapi ababil yang emosinya naik-turun. Terlalu banyak pengaduan-pengaduan tentang anggota kelompok *yang menurut saya tidak perlu diurusi dan terlihat unsur ‘iri-iriannya’. Jika saya mengatakan itu OK dan bukanlah sebuah masalah, mereka ngambek dan merajuk! Hadeeeeehhhh…. What the…. =..=)”.

Demikian seterusnya sampai minggu keempat dimana itu merupakan minggu ujian kasus mahasiswa dan seminar kelompok. Disini semakin kelihatan siapa dengan siapa yang saling “tidak akur”. Seperti ada persaingan dan ketidaksenangan. Mulai dari sungut-sungutan siapa yang akan mengkonsulkan seminar, sampai tragedi change-changean jadwal tempat dinas yang menurut saya bukanlah sebuah masalah besar ASAL mahasiswa patuh kepada instruksi pembimbing akademik dan clinical Intructure (CI), dengan mengenyampingkan egoisme pribadi dan rasa tidak senang dengan anggota lainnya itu *susah dijelaskan jenis konfliknya disini! Hahhahahha* namun akhirnya tetap menimbulkan perang dingin diantara mereka. Memang bukan semua personil yang berkasus, namun efeknya seperti menyeluruh dan melibatkan semua anggota kelompok. Sehingga emosi yang selama ini berusaha saya jaga ke-cool-an-nya berubah menjadi COLD!!! I scolded them! Saya marah besar di akhir siklus. Saya merasa kebaik-hatian saya dalam mebimbing terlalu dianggap lalu. Sehingga semua rengekan dan pengaduan ini itu tak lagi saya tanggapi. Saya minta mereka menyelesaikan masalah mereka sesegera mungkin. Mengenyampingkan kesempitan hati mereka. Jika kasus ini tak beres, terpaksa saya tak keluarkan nilai siklus ini. FYI, saya sama sekali tak suka mengancam-ancam mahasiswa begini. Namun apa daya, saya terpaksa melakukannnya. (-.-)”

Gegara kasus ini, saya jadi beban pikiran. Saya merasa sedikit frustasi dan berasumsi jika saya belum bisa menjadi pembimbing yang baik. I am not good enough, saya sedikit cemas dan sedih ketika itu. Setelah menenangkan diri dan menarik nafas dalam…*sigh* apalah daya saya yang bukan apa-apa ini. Namun dari kejadian ini, saya semakin meyakini statement :”Kedewasaan seseorang tidak bisa ditentukan dari seberapa tua umurnya”.

Dan seberapa panjangpun pengalaman hidup seseorang, jika tidak dibingkai dengan keikhlasan dan kematangan kepribadian, tidak akan memancarkan kebijaksanaan.

Saya sama sekali tak ingin menggurui orang-orang dewasa disini. Ini saya simpulkan semata-mata untuk menasehati diri sendiri dan bekal hidup dimasa depan *eeeaaaaakkk, serius beut oii!!!* Hehehe…

Dan efek dari konflik internal mereka, saya harus membangun kembali hubungan saling percaya dengan CI – CI ruangan karena ulah mahasiswa Profesi ini cukup menimbulkan reinforcement negatif mereka. Yeah… untuk ini saya yang harus menundukkan kepala meminta maaf. Bagaimanapun, kesalahan mahasiswa adalah kesalahan dosennya. Mahasiswa boleh salah karena mereka masih belajar T____T *tawa miris campur nangis darah*.

Dengan begini, saya semakin menyadari kenapa *ketika mahasiswa dulu* dosen-dosen kami berubah menjadi sangat sedikit agak kejam ketika membimbing kami di Rumah Sakit. Beliau-beliau begitu tegas terhadap kami ketika mendengar pengaduan-pengaduan dari CI tentang kesalahan mahasiswa. Para dosen terlihat begitu menjaga hubungan baik dengan CI dan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi lahan praktik. Menurut kami ini sangat tidak adil…

Ketika mahasiswa berkasus (*kami menyebutnya “berkasus”) dengan RS, ketika siklus tersebut berakhir, mereka akan melupakan masalah tersebut begitu saja dan sama sekali tak akan berhubungan lagi dengan orang-orang ruangan selagi nilai siklusnya nya aman. Nah, kalau pembimbing akademik, sekali mahasiswanya bermasalah dengan CI, sepanjang mereka melakukan bimbingan kembali di ruangan dinas yang sama akan selalu terkenang. Karena bimbingan tidak hanya untuk satu kelompok saja. Akan ada kelompok-kelompok berikutnya yang akan masuk dan berhubungan dengan CI yang sama. Hadehhhhhh –_______– Sakitnya tuh ….. DISINI!!!!

Hehehe, saya menganggap ini merupakan pengalaman berharga yang akan menambah wawasan dan kearifan dalam menjalani hidup *eghm. Dan saya semakin bersyukur serta benar-benar berterimakasih kepada semua dosen dan para pembimbing yang selalu terlihat menakutkan, namun sebenarnya menyimpan sejuta kepedulian kepada anak-anak bimbingannya.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s