Brain Storming

Dalam suatu perjalanan menuju rumah salah seorang karyawan yang 2 minggu lalu melahirkan dalam rangka silaturrahim dan membezuk bayi baru lahir… Di dalam mobil kantor yang cukup nyaman dan ditumpangi oleh sang bos besar, perwakilan ruhis, seorang kepala jurusan, petugas lab, dan seorang karyawan lainnya.

Obrolan demi obrolan pun tercipta, mulai dari dinamika perpolitikan Indonesia, tentang harga bahan pokok, kesibukan harian, sampai komentar-komentar nyentrik ketika menemukan sepasang remaja-remaji sedang mengadakan agenda berpacaran di pinggiran danau. Mulailah ibu-ibu di dalam mobil tersebut berkisah ngalo ngidul kesana kemari setelah menyaksikan peristiwa mainstream itu. Sedangkan aku? Sibuk berdiam diri dan sama sekali tidak berminat untuk ikut campur dalam obrolan itu semenjak mobil ini bergerak. Kali ini aku hanya ingin menjadi pendengar pasif kali ini.

Entah darimana muasalnya, sang bos besar kemudian bertanya tentang riwayat asmara ibu-ibu Ruhis. Kemudian ibu-ibu ruhis bercerita tentang pernikahan yang terjadi tanpa adanya proses pacaran namun karena dijodohkan orang tua. Menambahkan, sang ibu Ruhis juga menjelaskan tentang betapa tidak baiknya pacaran itu. Hal ini kemudian disanggah oleh sang kepala jurusan. Ia tidak setuju jika langsung menikah tanpa adanya tahapan pengenalan diri melalui proses pacaran. Banyak lelaki buaya dan gila yang bisa saja menipu. Ditambah dengan bos besar yang kemudian bercerita tentang betapa merananya ia yang menjalani proses berpacaran secara LDR (Long Distance Relationshit *ups), dan merasa perlu ntuk mengenal calon pendamping hidup dengan baik. Si ibu ruhis kewalahan menjawab dan menyanggah.

Aku semakin tidak tertarik dengan pembahasan ini. Sesekali ingin membantu menjawab, tapi ya sudahlah… Aku yakin ibu ruhis cukup tangguh untuk sekedar membalas perdebatan selevel ini.

Aku memejamkan mata pusing karena duduk di bangku paling belakang ditambah dengan nyeri dismenore yang menjadi-jadi, sampai akhirnya sang kepala jurusan bertanya kepadaku,” Bagaimana menurutmu? Kamu juga setuju dengan perjodohan?? Pernah pacaran ketika sekolah kan??”

Ibu-ibu ruhis langsung menyanggah,”Dia pasti setuju dengan khitbah, ibu yakin dia tidak pacaran, benarkan???” Ibu-ibu ruhis dengan wajah berseri meminta persetujuanku.

“Wah rugi kalau tidak pernah pacaran..” si Boss ikut-ikutan menyela.

Aku hanya tersenyum tipis sambil mengeluarkan kekehan kecil. Sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan ini, karena sibuk membujuk abdomen bawah agar tidak terus-terusan menyiksa dengan rasa nyeri.

Aku bergumam dalam hati,” PACARAN??? APA ITU??? SEJAK DULU AKU TERLALU SIBUK DENGAN PELAJARAN SEKOLAH, BERMAIN DENGAN TEMAN SE GANK, DAN BERAKTIVITAS DI PERKUMPULAN SISWA, AKU TIDAK MENGENAL YANG NAMANYA PACARAN. AKU ANTI PACARAN SEJAK SEKOLAH! AKU MERUPAKAN SISWA “PRESTASIBELAJAR—ORIENTED”. PACARAN HANYA AKAN MENGANGGU KESIBUKANKU MENGEJAR RANKING KELAS. MENDAPATKAN RANKING 1 JAUUH LEBIH COOL DARIPADA MEMILIKI SEORANG PACAR. MOJOK KETIKA JAM ISTIRAHAT ITU SUNGGUH TIDAK KEREN, MENGOBRAK-ABRIK BUKU DI PERPUSTAKAAN ITU PERBUATAN TERPUJI! APA HEBATNYA PUNYA PACAR HA??”.

Ahhhh, kurasa nyeri perut ini membuat aku sedikit emosional. Tapi tenang, ini hanya makianku di dalam hati. Tak pula aku berniat menyemburkannya kepada orang lain yang ada di sekitarku. Khkhkhk.

Tapi setelah mengenal Islam dengan lebih baik di bangku SMA, akhirnya aku mulai memperbaiki rasionalitas dan pendirianku tentang konsep, dan alasan untuk tidak berpacaran. Bukan.. bukan kemudian meutuskan sebaliknya, namun semakin mempelajari… bahwa Islam terlalu indah dan romantis dalam urusan lelaki dan perempuan ini, alasan-alasan yang dikemukan dalam islam jauh lebih hebat dibanding alasan ‘Pacaran akan menganggu prestasi belajar’ seperti yang kuyakini selama 9 tahun sekolah. Khkhkhk…

Akkkk… Dismenore ini semakin melilit. Nyerinya serasa sudah mencapai derajat 9,9 dari 10 skala!! Aku mengakhiri obrolan maya di dalam otakku untuk kemudian grasa-grusu mencari sebutir Asam mefenamat yang telah kusediakan di saku kecil di dalam ransel. Beruntung aku membawa ransel! Membuka air minum kemasan dan langsung ingin menenggak 2 butir sekaligus (8saking nyerinya) jika aku tidak segera sadar diri.

Sepertinya aku harus segera tidur sampai perjalanan ini berakhir dengan damai.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

3 Responses to Brain Storming

  1. rangtalu says:

    pilihan aini untuk diam lah tepat tu mah, -biarkan yang telah berpengalaman saja yang menjawab-😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s