~Empati

Menghadapi mahasiswa tak membuatku melupakan kenangan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa beberapa tahun yang lalu. Rasanya baru kemaren berjibaku dengan aktivitas kesibukan dinas. Dan kembali lagi ke rumah sakit sebagai pembimbing mahasiswa profesi setidaknya membuatku sedikit berempati kepada kepenatan dinas dan tugas mahasiswa.

Namun kemudian aku tak sanggup menahan untuk tidak sedikit tegas (*agak marah) kepada mahasiswa yang terlalu banyak mengeluh dan menjadikan dinas yang berat sebagai alasan untuk tidak mengerjakan tugas. Begitu juga ketika ujian responsi, mahasiswa seperti acuh dan tidak membekali dirinya sendiri dengan berbagai pengetahuan patofisiologi penyakit sehingga tidak bisa menjelaskan kasus pasiennya.

Maka mulailah cerita-cerita jejaman profesi bersama teman-temanku dulu bergulir. Tentang sedikitnya waktu yang tersisa untuk istirahat, tentang kos-kosan yang cuma menjadi persinggahan tidur, mandi, dan mencuci baju, sedangkan aktivitas lainnya hanya berkisar : Rumah sakit, kampus, kos-kosan teman untuk membuat tugas. Bahkan merasakan dinas malam, kemudian paginya musti penyuluhan ke pasien, siangnya responsi ujian dengan dosen/CI, terus lanjut dinas sore juga pernah kelompok kami alami. Atau sepulang dinas pagi lanjut menghabiskan waktu sampai sore di kampus demi konsul makalah seminar atau mengerjakan flip chart untuk penyuluhan sampai malam. Sama sekali tidak ada waktu untuk istirahat. Bahkan jadwal libur dinas pun masih harus merelakan waktu istirahat untuk mewakili kelompok demi mengkonsulkan laporan dan makalah. Namun meski begitu itu semua adalah proses belajar dimana selama menjalani proses tersebut seharusnya semakin menambah pengetahuan mahasiswa tentang berbagai kasus pasien di ruangan.

Dulu ketika akan menghadapi ujian kasus di bangsal, kami bahkan tidak diberitahu kasus apa yang akan kami kelola, begitu juga dengan tindakan apa yang akan diujikan. Semuanya masih serba misterius. Sehingga mau tidak mau kami harus mempelajari berbagai macam kasus yang ada di ruangan tersebut. Syukur-syukur itu yang harus kami ujiankan. Mempelajari patofisiologi atau WOC dalam waktu yang singkat tidaklah mudah, apalagi ditambah kegugupan dan stressor yang meningkat. Kami bekerja sama untuk saling menyukseskan ujian kasus teman sedinas. Jika si A yang akan ujian tindakan, si B akan menjadi asisstant dan membantu menyiapkan peralatan, begitu juga sebaliknya.

Jadi wajar saja rasanya aku merasa perlu untuk bersikap tegas kepada mahasiswa yang bahkan ketika ujian tindakan, tidak memiliki persiapan yang baik bahkan melupakan benda terpenting semacam handscoen steril. Dan ketidakmampuan untuk menjelaskan kasus ketika mereka bahkan sudah tau kasus ujian apa yang akan diberikan CI kepada mereka, sungguh membuat emosi membuncah. Hahahaha… Jujur, aku tidak suka marah-marah begini. Namun rasanya aku perlu sekali menyampaikan ini dengan sepenuh hati, untuk kebaikan mereka.

Dan selalu, setelah menyampaikan nasehat-nasehat secara keras seperti ini, selalu timbul rasa iba melihat mereka menunduk diam hanya sesekali bergumam,”Iya buk”.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s