Harapan berujung Benci

Aku tidak ingin membenci…
Namun ekspektasi dan harapan yang terlalu besar terhadap seseorang membuatku membencinya, jika yang terjadi kemudian justru diluar nalar dan keinginanku terhadapnya.

Orang berkata jangan letakkan harapanmu kepada manusia yang bersifat khilaf dan fana. Namun kecintaan yang terlalu besar kepadanya membuatku menginginkannya menjadi seseorang. Dengan demikian terlalu besar harapanku terhadap masa depannya.

Namun…
Semuanya terjadi begitu saja.
Apa yang kutakutkan dengan seenaknya menari-nari di kehidupan kami tanpa bisa kukendalikan. Ia seperti berubah. Kehidupan yang dipilihnya membuat ia berubah menjadi sesuatu yang kubenci.

Bermula dari rasa sedih, sesal, marah, kemudian ada benci yang timbul.
Terjadi begitu saja…

Aku tidak tahu sampai kapan rasa benci ini ada di hatiku.
Celakanya rasa ini berkembang menjadi rasa bersalah karna sudah membencinya. Kemudian menjelma menjadi sesal… dan mungkin putus asa…

Aku benar-benar tidak tahu… dan rasanya ingin tidak peduli.

Aku hampir berputus asa…

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s