Pelatihan ~

Beberapa waktu yang lalu, alhamdulillah saya mendapatkan amanah untuk bergabung di dua kepanitian Pelatihan. Pelatihan pertama, PRECEPTORSHIP KLINIK yang dilaksanakan pada tanggal 16-17 Januari 2015 di RSAM Bukittinggi. Di pelatihan ini seharusnya saya bekerja sebagai panitia Acara, namun dalam aplikasinya justru rangkap-rangkap jabatan melaksanakan tugas panitia lainnya. Hah!! *nasib anak bungsu*

Untuk pertama kalinya beberapa institusi pendidikan kesehatan (kira-kira ada 10 Institusi) yang memakai lahan praktik di RSAM berasosiasi dan bekerjasama untuk memberikan Pelatihan Preceptorship kepada semua Clinical Instructure Keperawatan dan Kebidanan yang ada di RSUD Dr. Achmad Mochtar. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini mendatangkan pemateri dari UMY, Bapak Moh. Afandi, S.Kep, Ns, MAN, HNC (Ini Bapak panjang benerr gelarnya).

Mungkin teman-teman yang biasa berkecimpung di dunia praktik keperawatan sudah banyak yang mengetahui tentang metode bimbingan Preceptorship ini. Preceptorship adalah suatu metode pengajaran dan pembelajaran kepada mahasiswa dengan menggunakan perawat sebagai model perannya. Preceptorship bersifat formal, disampaikan secara perseorangan dan individual dalam waktu yang sudah ditentukan sebelumnya antara perawat yang berpengalaman (preceptor) dengan perawat baru (preceptee) yangdidesain untuk membantu perawat baru untuk menyesuaikan diri dengan baik dan menjalankan tugas yang baru sebagai seorang perawat. (CNA, 1995).

Mungkin agak sedikit kaku juga pengertian di atas ya… Hah… Banyak hal yang menyebabkan akhirnya meotde Preceptorship ini muncul. Terutama permasalahan klasik yang sering ditemukan di lahan praktik profesi dan yang dihadapi oleh co-Ners sendiri diantaranya : 1) Instansi Pendidikan yang tidak memiliki RS Pendidikan sendiri, atau menggunakan Rumah Sakit umum yang belum dimodifikasi sebagai RS pendidikan, sehingga belum mencukupinya komponen RS dalam menunjang aktivitas pembelajaran klinik mahasiswa. 2) Satu RS digunakan berbagai institusi, ada banyak mahasiswa kesehatan yang menumpuk untuk melakukan praktik profesi/preklinik, sehingga beban CI (clinical instructure) juga menumpuk. 3) Dengan Otonomi Daerah Pembiayaan RS Tinggi, 4) Kurangnya pembimbing berlatar Ners, biasanya yang banyak ditemukan adalah perawat vokasional yang memang sudah tidak diragukan lagi dalam pengalaman, namun belum begitu menguasai aspek-aspek pendidikan profesi Ners. 5) Kurangnya motivasi pembimbing (No Time, No Money). 6) Fasilitas yang tidak memadai, bahkan untuk melakukan tindakan yang seusai SOP sendiri mahasiswa harus memfasilitasi diri sendiri. 7) Pola hub Pendidikan-RS yang kurang. 8) Kurangnya pemahaman perawat di RS ttg pendidikan klinik. 9) Belum adanya model pembelajaran klinik sebagai acuan. 10) Belum adanya peraturan tentang RS Pendidikan Keperawatan. Demikian beberapa permasalahan klasik yang saya kutip dari slide ppt Bapak Afandi.

Nah dengan adanya permasalahan tersebut, maka metode bimbingan yang menggunakan model Preceptorship dengan pembimbing sebagai Preceptor Klinik dan anak didik sebagai Preceptee diharapkan proses bimbingan dan permasalahan-permasalahan di atas dapat diatasi. Walaupun dengan demikian, ada banyak aspek yang harus dipersiapkan dan dibenahi. Nah, di pelatihan ini semuanya dikupas dan dibahas secara terstruktur. Peserta pelatihan juga difasilitasi untuk mempraktikan sendiri di lahan klinik secara langsung bagaimana mengaplikasikan metode bimbingan preceptorship.

PELATIHAN KEDUA, yang kebetulan berdempetan jadwalnya dengan pelatihan Preceptorship di hari kedua, 17 Januari 2015 (*alhamdulillah bisa minta izin setengah hari sebagai panitia untuk mengikuti pelatihan kedua) adalah Pelatihan Penyusunan RPKPS (RANCANGAN PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER) dengan pemateri : Bapak Henmaidi, PhD. Bagi teman-teman yang dulunya kuliah di Fakultas Teknik, terutama jurusan Teknik Industri UNAND pasti tidak asing lagi dengan dosen satu ini. Seharusnya saya hanya menjadi peserta di pelatihan ini. Namun karena pelaksananya adalah Prodi S1 Keperawatan, mau tidak mau harus merangkapkan diri menjadi peserta plus sesi tamu plus sesi acara plus MC plus Moderator. (*fiuf, lelah dedek dibuatnya). Dalam pelatihan ini narasumber banyak memaparkan tentang kurikulum, bagaiman proses penyusunan kurikulum, dan yang paling menarik disini adalah Beliau banyak mengajarkan variasi-variasi mengajar agar tidak kaku, monoton, dan tidak membosankan. Yah, sepertinya belajar dengan Bapak ini serasa tidak sedang mengikuti perkuliahan, tetap sedang mengikuti Training. Satu hal yang sering terluput dari pemikiranku (*sebenarnya lebih karena malas) adalah bagaimana menciptakan suasana yang kondusif, menarik, dan bisa dinikmati oleh mahasiswa maupun dosen yang mengajar.

Pernah merasakan bagaimana materi (baik ketika diminta presentasi di depan kelas ketika kuliah, menjadi pemateri ketika pelatihan di organisasi, atau penyuluhan ketika KKN) yang kita berikan terasa namun tidak dipahami oleh audience, atau audience terkesan ogah-ogahan ketika mendengarkannya??? Saya pernah. Dan rasanya sungguh nyesek!! Makanya ketika mengajar di depan kelas, saya berusaha agar suasana akademik yang formal dan kaku bisa dicairkan, namun saya justru stagnan dengan ide-ide briliant terutama ketika saya sedang tidak berada dalam mood yang bagus untuk mengajar. Dan alhamdulillah setelah pelatihan ini, at least saya menemukan banyak ide untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan di semester berikutnya.

Alhamdulillah, banyak pengalaman menarik dan menyenangkan ketika mengikuti dua pelatihan ini. Lelah seperti menguap setelah semua tahapan acara berlangsung dengan sukses. Plus bonus mendengarkan secara langsung pengalaman-pengalaman hebat dari Bpk Henmaidi, ini Bapak pinter banget trik sulap dan Ice breakingnya juga kece-kece…. sungguh menginspirasi. Saya juga berkesempatan mengantar Bpk Afandi untuk sejenak keliling Kota Bukittinggi sebelum beliau ke Bandara. Selama perjalanan, Bpk Afandi yang tak hanya cerdas secara akademik, ternyata beliau juga seorang aktivis ketika mahasiswanya, dan saya baru tahu ternyata beliau bersama rekan-rekannyalah yang mendirikan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) pada masanya (*jleb jleb). Bapak Afandi banyak memberikan nasehat dan masukan tertutama bagaimana membangun koneksi, “Berorganisasi, membangun koneksi itu merupakan sebuah investasi non materi untuk masa depan”. Pesan Beliau….

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s