Duka…

Malam ini cukup mencekam. Ruang tamu nenek sudah dikosongkan, semua sofa dan meja dibawa keluar, tikar dibentang, tenda dipasang, dan sebuah kasur diketengahkan. Tetamu mulai berdatangan, silih berganti.

Kami semua sedang menunggu kepulangan jenazah Pak etek yang sore tadi baru dikabarkan meninggal dunia. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Sungguh besar cobaan nenek. Belum genap dua minggu anak sulungnya meninggal dunia, Pak etek Buyuang di Malaysia, sekarang datang lagi cobaan berikutnya. Anak lelaki kedua sudah dipanggil menghadapNya. Menyusul uda Buyuangnya menuju alam barzah. Dengan didahului sakit yang hampir sama.

Air mata nenek belum kering, hatinya belum begitu lapang melepas anak lelaki sulung, dan lagi-lagi ia harus menghadapi ini dengan keseorangannya yang rapuh, Atuk sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tinggal seorang anak wanita sebagai sandaran pelipur lara.

Kami masih menunggu.
Sembari berhati-hati menjaga hati seorang gadis kecil, yang darinya kami rahasiakan kabar duka ini. Si bocah masih optimis dengan kepulangan Papanya karena penyakit yang sudah parah akan diobati di rumah saja. Meski ia selalu bertanya-tanya,”Kenapa ada kasur dibentang di tengah rumah, kenapa ada tenda? Itu seperti ada kematian. Papa-kan cuma sakit parah…” Beragam argumen diberikan sebagai jawaban untuk menenangkan perasaannya yang seperti sudah dibisiki firasat buruk. Orang-orang begitu menjaganya… sampai ia istirahat dan benar-benar siap menerima kabar berita duka.

Sedangkan abangnya si bocah, anak tengah Pak etek, seperti sudah kehabisan air mata. Semenjak ba’da ashar tadi ia tak berhenti menangis meraung di dalam kamar. Aku seperti bisa merasakan sakit dan berat dadanya menanggung kesedihan kehilangan seorang ayah. Belum lagi anak sulung, remaja tanggung yang baru tamat SMA itu… ia sedang berada di dalam ambulance yang mengangkut jenazah sang Papa bersama Mamanya.

Ini adalah kematian kedua yang kami hadapi di rumah nenek ini semenjak kematian Atuk beberapa tahun yang lalu. Sedangkan Paketek Buyuang, beliau dimakamkan di Malaysia.

Tak banyak memori yang kuciptakan bersama Paman-pamanku ini, keduanya bekerja dan merantau semenjak lama. Yang kuingat beliau-beliau ini sering memberikan oleh-oleh ketika kami kecil. Begitu juga dengan anak-anak mereka, sepupu-sepupuku, kami begitu akrab ketika masih menjadi bocah. Dan bertahun-tahun pula lamanya kami tak begitu banyak berinteraksi. Entah semenjak kapan.

Dan kami masih menunggu…
Menunggu pertemuan terakhir dengannya…
Namun kali ini hanya bertemu raga…
Karna ruh nya sudah kembali ke haribaan yang maha kuasa.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa paketek, melapangkan kuburnya, meringankan bebannya di alam barzah, dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran, ketabahan, serta kerelaan.
Aamiin ya Rabb…

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s