Hanya Semacam Mimpi

Kami bertiga, aku, Nami, dan Desi berjalan menuju Rumah Sakit sambil bergandengan tangan. Setibanya di parkiran Rumah Sakit, kami bertemu dengan Feni.
“Hai… apa kabar kamu nduk?” Tanya Feni sambil mengelus perut Desi yang sudah membesar. Ya, Ini memang sudah masuk bulan ke-9 kehamilan Desi.
“Aku baik Fen…” Jawab Desi.

Kami berempat kemudian berjalan bersama menuju bagian dalam RS sambil bercerita dan mengeluarkan candaan seperti biasanya.

Tanpa ada aba-aba Feni memisahkan diri dan berlari menuju arah yang berbeda, tanpa pamitan! Kami yang masih mengobrol kaget dengan pergerakan Feni yang tiba-tiba.
“Feni mau kemana?” Tanyaku berusaha mengejar Feni. Feni tak menyahut. Namun aku melihat Feni segera bergabung dengan mahasiswanya.
‘Mungkin Feni mau bimbingan’, ujarku dalam hati.

Perjalanan kami lanjutkan. Bertiga menyusuri lorong Rumah Sakit sambil mengamati aktivitas yang ada di RS.

Pada suatu tikungan, Namia tiba-tiba ditarik oleh seorang perawat untuk membantu di sebuah ruangan. Nami tidak bisa menolak.
‘Hei… apa-apaan ini… Kenapa begitu mendadak?‘ Pikirku dalam hati namun aku masih tak bisa berbuat apa-apa.

Aku dan Desi melanjutkan perjalanan. Kami kembali ke parkiran karena Desi mau membeli beberapa cemilan di minimarket dekat sana.

Sekembalinya dari minimarket, Desi kemudian berhenti, memegang kepalanya. Kulihat wajahnya memucat. Aku segera memegang lengan Desi takut dia terjatuh.

“Nduk… sepertinya aku hipotensi lagi. Kamu tahu berapa tensiku kemaren?”
“Berapa?” Tanyaku tergesa.
“80 nduk…”
“80 apanya???” Aku mulai tak sabar.
“80/25”
Whaatt on earth! Bagaimana mungkin tensi 80/25 kamu masih bisa jalan-jalan begini……”
Belum sempat melanjutkan cerepetanku, Desi sudah jatuh pingsan duluan.
“Nduk… nduk… ” aku menyanggah tubuh Desi. Kami masih berada di pinggir jalan. Aku segera meminta bantuan seorang Bapak-bapak untuk membantu mengangkat tubuh Desi menuju ke IGD.

Masih di pintu masuk, aku segera berteriak ke arah perawat yang menyambut kami.
“Pak… tolong brankar dan oksigen!”
Sesegeranya Desi dibaringkan di atas bed, aku memasangkan oksigen. Namun aksiku dicegah oleh perawat itu.
“Dia tidak perlu itu!” Kata si perawat entah dokter entah apalah itu.
‘Hwaaattt… apa-apaan dia? Tensinya ngedrop begini!’ Teriakku dalam hati.

Tubuh Desi kemudian dipanaskan di atas sebentuk oven yang kemudian menguapkan gas. ‘Itu oksigen?’ Aku masih berdialog di dalam hati.

Hebat!
Si Nduk langsung sadar dan langsung bisa duduk sendiri.

Ck…ck…ck…. alat apa itu barusan? Baru sekali ini aku melihatnya. Tanpa terapi medikasi lainnya, Desi seperti mendapatkan suntikan kehidupan yang baru.

“Nduk… ayo kita jalan-jalan lagi…”
“Kamu yakin??”
“Iyaa… ayook… kita kan mau ngumpul reunian bareng semuanya”

Demi apaaa…. si nduk malah ngajak ke jalan-jalan ke RS lagi.
‘Gak ada tempat lain apa??’ Gerutuku dalam hati.

Di pertengahan perjalanan, kami kembali bertemu dengan Nami. Nami sepertinya sudah menyelesaikan dinas dadakannya. Kami bertiga bercerita sambil menghabiskan cemilan yang dibeli Desi tadi.

Tiba-tiba….

Bumi terasa bergoncang…

Gempa!!!

Semua orang yang ada di rumah sakit mulai panik.

Aku berusaha tenang sambil memegang tangan Nami dan Desi.
“Nduk… tenang aja… ini gempanya tidak terlalu kuat. Sebentar lagi pasti berhenti”

Tapi sepertinya si nduk tidak sabaran. Dia berlari dan berlari.

Aku berusaha mengejar. Meninggalkan Nami yang terperangah di tempatnya.
‘Apa-apaan dia… dalam kondisi hamil begini masih berani berlari. Apakah dia sebegitu traumanya dengan gempa? Mana larinya cepat sekali.’ Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.

Aku lelah mengejar. Punggung Desi sudah tak terlihat lagi.
Aku terduduk di atas rerumputan di halaman parkir Rumah Sakit.
‘Kenapa semua teman-teman meninggalkanku? Feni berlari… Nami pergi… dan sekarang Desi juga berlari… Kemana Anit, Liza, Ipit, Muti, dan Mbak Rin??’

Aku putus asa…
Sambil menahan tangis, aku meninggalkan halaman Rumah Sakit.

Aku ingin berjalan kaki saja. Tapi seorang ibu-ibu menawarkanku untuk naik motornya. Apakah ini semacam ojek?
Tanpa berpikir panjang aku segera naik. Yah… anggap saja ini semacam berbagi rezeki.

Belum lama berselang, aku merasakan rok ku tersangkut di rantai motor si ibu.
‘Motor macam apa ini?? Kenapa rantainya terlihat dari luar. Rok dan kakiku jadi hitam terkena oli. Benar-benar hari yang sial’

Si ibu meminta maaf dan membawaku ke suatu tempat untuk membersihkan rokku.

Aku mengikut saja. Sudah tidak punya semangat untuk menolak atau marah-marah. Lagian aku memang harus membersihkan ini.

Menemukan air, aku segera membersihkan kaki dan rok. Tiba-tiba…

“Uniiiii…..”
Semua orang sudah berkumpul disini!!
Semuanyaa….
Feni, Desi, Nami, Liza, mbak Rin…. dan lainnya.

Mereka mulai saling bercengkrama seperti biasanya.
Sedangkan aku…
Hanya bisa menatap takjub sambil menahan tangis.

“Uni… uni kenapa?” Tanya Anit
“Uni kenapa diam saja?” Liza ikut bertanya.

“Kalau ada uneg-uneg, sebaiknya uni sampaikan saja… kita disini siap mendengarkan….”

Aku tidak berkata apa-apa.
Hanya bisa menangis sekeras-kerasnya.
Mereka saling berpandangan, bingung.

Tidak ada kata-kata.
Hanya tangis.

Tangisan kesal, haru, marah, sedih, bahagia… yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Aku menangis sampai benar-benar hanya airyang mengaburi mata.

-fin-

*p.s these scenes just in my last dream.
πŸ˜€

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s