Don’t Judge by It’s Cover

Dont judge a book by it’s cover…
Pepatah lawas yang lagi-lagi membuat saya tercengang kali ini.

Sedari awal memang saya sangat memegang pepatah ini dan efeknya selalu ada hal-hal unik yang saya temukan berikut dengan hikmahnya.

Ya hikmahnya semacam : Jangan menganggap remeh seseorang hanya karena kekurangannya.

Manusia itu tidak ada yang sempurna. Mereka dianugrahi kekurangan berikut dengan kelebihan yang mungkin tak semua orang mengetahui dan terpapar dengannya. Dalam artian, ada hal-hal tersembunyi dari karakter setiap manusia, sehingga manusia lain tidak berhak menjadi sotoy dan seenak jidat menjudge orang lain.

Memandang rendah orang lain karena kita terlalu berfokus HANYA kepada kekurangannya itu semacam kita tidak menghargai ciptaan Allah. Alias SOMSE
S o m b o n g S e k a l i…

β—†

Jadi ceritanya seminggu yang lalu ada acara pelantikan Pengurus BEM di kampus ini. Entah mengapa, saya semacam tidak memiliki selera lagi untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan dunia kemahasiswaan. Yah… sangat berbeda dengan zaman ketika remaja-remaji dulu yang kemana-mana inginnya nimbrung di berbagai organisasi (*faktor ‘U’? Entahlah…)

Tapi karena semua civitas akademika diundang, jadilah saya menghadirkan diri disana sebagai tamu. Duduk mendengarkan rangkaian acara formal nan monoton seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya.

Karena begitu panjangnya petatah-petitih mulai dari kata sambutan sampai laporan panitia, saya mulai tidak sabar. Saya mohon izin kembali ke kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus diurus.

Beberapa saat kemudian terdengar suara-suara musik dari gedung pelantikan. Saya yang ketika itu sedang berdiskusi dengan mahasiswa bimbingan skripsi mulai terusik. Dan akhirnya malah mengajak mahasiswa bimbingan kembali ke ruangan pelantikan karena sepertinua sedang ada pertunjukan.

Benar saja, ternyata ada penampilan mahasiswa yang membawakan kesenian tradisional Minangkabau dengan alat musik talempong, pupuik, saluang, gendang untuk mengiringi pertunjukan “silek” yang ditampilkan oleh 2 orang mahasiswa kemudian berikutnya masuklah para mahasiswi-mahasiswi cantik dengan tari-tarian Minang.

Setelah pertunjukan pertama selesai, masuklah sekelompok mahasiswa laki-laki menampilkan randai, masih diiringi musik tradisional plus seorang mahasiswi yang ikut berdendang selama pertunjukan randai.

Ah… sudah lama sekali rasanya tidak menyaksikan randai… Mahasiswa-mahasiswa ini membawakannya dengan sangat apik meski iringan musiknya cukup sederhana. Dan yang istimewa adalah mereka mengangkat tema cerita randai yang up to date seperti menyisipkan cerita 7 manusia harimau dan fenomena batu cincin yang membuat audience terpingkal-pingkal.

Tidak sampai disana, berikutnya masih ada nyanyian Minang dan nyanyian modern (pop) yang masih diiringi oleh alat musik tradisonil yang dikolaborasikan dengan gitar.

Okeh, back to basic topic, yang membuat saya kagum sekaligus ‘tercengang’ (*”wow…aku tercengang!!” ala-ala Fitrop :p ) adalah para mahasiswa (*mahasiswa is the male students yes!πŸ˜€ ) yang mengambil bagian dalam pertunjukan ini adalah kumpulang mahasiswa tk. 2 dan 3 yang saya kenal sebagai mahasiswa yang yaaaahh… agak-agak pemalas dan memegang prinsip “Nilai tu asal lapeh makan”, kh kh kh kh…

Tidak… saya tidak meng-under estimate-kan mereka. Cuma saya sedikit shock mendapatkan fakta mereka yang sering terlambat masuk ke kelas saya, yang ketika ujian keliatan santai sejagat raya *meski kertas ujian lebih kebanyakan space kosong daripada yang berisi* ternyata mereka memiliki sisi lain yang sangat menyenangkan!

Trust me, I am tradisional! Seperti merk baju kaos yang mereka kenakan, saya melihat anak-anak ini bukan sebagai mahasiswa begajulan tetapi mahasiswa dengan tipe kepribadian unik dengan usaha yang ‘agak-agak anti mainstream’.

Karna yeah… Saya sangat banyaaaaakkk sekali mengenal kawan-kawan yang ketika kuliah terkenal “slenge’an”, lulus dengan perjuangan berdarah-darah dengan waktu study yang ‘cukup’ molor, namun akhirnya tetap bekerja dengan taraf kesuksesan yang sama sekali tak pernah dibayangkan oleh manusia-manusia yang suka menjudge “by it’s cover”.

β—†

So let’s try to open your mind to see human as a HUMAN.

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s