What a Day (pt.2)

Saya sudah berjanji kepada orang tua untuk pulang ke rumah akhir pekan ini, setelah beberapa minggu absen karena ada keperluan ke Padang. Bahkan seharian ini sudah beberapa kali Ama mengirimkan pesan singkat guna memastikan saya jadi pulang atau tidak.

“InsyaaaAllah jadi Ma, tapi ani masih rapat, seburuk-buruk kondisi, rapatnya selesai habis maghrib… Tapi Ani akan tetap pulang kok Ma”

“Ohh gitu… Ya, Ama sudah menyiapkan makanan kesukaan Ani. Hati-hati pulangnya ya. Pastikan rute bus nya sampai ke rumah sebelum naik, daripada diturunkan di tengah jalan”

Sampai disini saya sungguh terharu. Semakin membuncah keinginan untuk pulang ke rumah. Namun sampai azan maghrib berkumandang, rapat pembahasan borang akreditasi ini masih belum selesai.

Saya memutuskan untuk keluar dari ruang rapat, ambil wudhu dan melaksanakan sholat maghrib di ruang kerja. Sesaat setelah tasyahud akhir, terdengar langkah-langkah kaki dari ruang rapat. Sepertinya rapat telah selesai. Namun tiba-tiba ada seorang kakak yang bertanya kepada pimpinan Prodi ,” Buk, besok pukul 9… boleh datang terlambat kan buk? Ayahnya anak-anak piket pagi buk. Gak ada yang jagain mereka…”

Perasaan saya mulai tidak enak. Sepertinya akan ada lagi halangan untuk saya pulang kampung hari ini.

Benar saja… rapat dilanjutkan besok pagi. Disini saya benar-benar sedih. Saya sudah berjanji untuk pulang. Ama sedang menunggu kepulangan anaknya. Saya rindu rumah, rindu keluarga, rindu masakan Ama, rindu yang membuncah… Dan seenaknya para petinggi tempat ini merebut hak saya untuk berkumpul dengan keluarga di akhir pekan ini, setelah hampir setiap hari dalam minggu ini kami lembur sampai maghrib mendekat.

Untuk kesekian kalinya Ama kembali bertanya, kali ini melalui sambungan telefon. Dengan terbata saya mengungkapkan kondisi yang sedang saya hadapi.

“Ya sudah, tidak usah pulang hari ini. Minggu depan saja. Sudah terlalu malam untuk naik bus sendirian… Lagian kamu tidak boleh bolos untuk besok”.

Kali ini saya merasa benar-benar benci dengan pekerjaan yang sedang saya lakoni. Saya benci dengan ketidakdisiplinan, ketidaktegasan pimpinan, lemahnya kebijakan, sehingga rapat yang seharusnya hari ini dimulai pada pukul 9.00 jadinya diundur pukul 14.30, sehingga tak cukup banyak waktu untuk membedah semua pembahasan.

Hati saya merasa sakit dan benar-benar tidak ikhlas untuk besok menghadirkan diri di kantor. Saya benci, dan saya butuh waktu untuk mencerna semua ini. Kata teman saya, akan ada hikmah dari semua perkara dan kejadian. Namun hati saya terlalu dongkol untuk memikirkan hikmah apa yang bisa diambil.

Bukittinggi, 09 Mai 2015

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to What a Day (pt.2)

  1. dugaan saya rapat itu diundur karena petinggi2nya mau nonton Halo Selebriti dulu, hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s