Listening to Gie by Okta

image

Demiiiiii apaaaa!!!! Malam ini saya iseng bongkar-bongkar list mp3 jadul di HP (*saya menyimpan beribu mp3 koleksi sejak tahun awal kuliah di memori eks HP) dan akhirnya sampai pada lagu ini. OST Film Gie. Siapa yang tidak kenal sosok Soe Hok Gie? Hehhee

Setiap lagu favorit, saya selalu punya cerita pribadi di belakangnya. Hahah…

Jadi begini ceritanya…

Pertama kali mendengarkan lagu ini ketika BAKTI (Prosesi penyambutan mahasiswa baru di Unand) tahun 2007. Jadi ketika itu ada agenda setiap UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) mempromosikan UKM nya sesuai dengan spesifikasi masing-masing. Anak-anak UKO (Unit Kegiatan Olahraga) dengan bakat kinestetiknya, anak-anak UKS (Seni) dengan bakat musiknya, Pandekar dengan pertunjukan beladirinya, Pramuka dengan keterampilan mereka, Mapala, FKI, dst sampai akhirnya penampilan Unit kegiatan jurnalistik UKM Genta Andalas… Mereka menampilkan sesuatu yang sederhana. Mengangkat topik sosial politik kemasyarakatan yang cukup abstrak untuk diterjemahkan melalui penampilan pantomim dan sebuah movie maker. Movie maker tentang Nasionalisme perjuangan mahasiswa dan jurnalisme. Dan eng ing engggg…. BGM (background music) nya lagi-lagi bikin saya tersentuh! Gie~ by Oka feat Erros. Perpaduan kisah dari movie maker dengan lirik soundtrack cukup untuk membuat saya merinding!

Disinilah saya merasa suka pada pandangan pertama dengan UKM Genta Andalas dan memutuskan untuk mengambil kesempatan magang di sana di awal-awal perkuliahan. (*merasa suka sesederhana ini kawan!πŸ™‚

Disamping ketidaksenangan saya menjadi mahasiswa baru, saya seperti menemukan jati diri unik dari sesosok mahasiswa, setelah identitas mereka sebagai pelajar yang hanya dibentuk dan dipersiapkan sebagai manusia yang siap untuk bergerilya dengan berbagai keterampilan di dunia kerja, ternyata mereka juga memegang peranan yang jauhhh lebih besar terhadap perubahan dan pergerakan bangsa ini. Mereka memiliki kepercayaan dari rakyat dan memegang “the people power” yang sewaktu-waktu bisa saja meledak.

“Mahasiswa takut kepada dosen. Dosen takut kepada rektor. Rektor takut kepada Presiden. Dan presiden takut kepada mahasiswa!”

Sampai disini, saya merasa jatuh cinta dengan dunia kemahasiswaan, bahkan sampai sekarang! ~Itu juga motivasi khusus kenapa saya ingin mengabdi sebagai dosen, karena dengan demikian saya masih akan berbaur dengan kemahasiswaan.

Meski sejak masa perkuliahan saya bukanlah aktivis sekelas aktivis yang gemar turun ke jalan, tapi saya selalu menyimpan rasa hormat dan kekaguman kepada teman-teman aktivis yang menghibahkan diri mereka untuk berlelah-lelah turut memikirkan permasalahan bangsa. Kadang saya merasa kesal, kenapa sampai di tahun-tahun tua mereka di kampus, masih saja turun ke jalan ikut bersuara melalui demo-demo yang entah apa.

Dannnn………..Meski eksistensi serta ‘ruh’ kemahasiswaan sedang dipertanyakan saat ini, saya masih percaya bahwa mereka tetap memiliki kendali people power itu.

Yeahh…. You know about it… that most hot topic after Rohingya… Tentang para petinggi mahasiswa yang di bahu mereka tertompang harapan masyarakat itu, yang kemudian terlihat seperti pengkhianat dengan menghadiri jamuan makan Presiden di Istana dengan excuse ingin berdiplomasi secara langsung dengan Mr.Presiden…

Tidak… Saya tidak akan ikut-ikutan menyudutkan dan mencaci-maki mereka.
Ini hanya segelintir dinamika konflik bagi para mahasiswa, si dewasa awal yang tentunya masih berproses untuk menjadi manusia dewasa yang berkebijaksanaan.

Heiii…. mahasiswa boleh salah kan?!!? Siapa bilang mahasiswa tidak boleh salah.
Saya selalu mengingatkan mahasiswa saya di klinik. “Kalian jangan takut untuk berbuat salah, karena kalian mahasiswa kalian bisa saja berbuat salah! Karena kalian sedang berproses, sedang belajar dengan beragam rupa teknik yang mungkin lebih kalian senangi”.

Karena ketika mereka takut untuk berbuat salah, mereka menjadi enggan untuk mencoba dan malas memikirkan ide-ide kreatif.

So… SANGAT MUNGKI bagu mereka untuk berbuat salah. Namun itu bukan celah bagi kita untuk menyudutkan. Mereka sedang berproses menjadi lebih baik dengan melakukan kesalahan. Dengan adanya kesalahan mereka akan menemukan kebenaran dan hikmah. Tentu dengan pemikiran kreatifnya kemudian akan berusaha untuk menemukan cara-cara memperbaiki kesalahan tersebut. Itulah prosesnya!

Dan saya cukup sedih dengan komentar-komentar miring tentang mereka. Heii…. yang kasih komentar buruk pada berani turun ke jalan atau menghadap langsung Presiden untuk mengkritik tidak??

Ya… meski itu memang tindakan yang cukup mencoreng ideologi kemahasiswaan, at least dengan adanya fenomena ini mereka akan lebih belajar seperti apa liciknya diplomasi di meja makan.

Dear… mahasiswa Indonesia… I am with you guys! Keep strugle!!

πŸ™‚

β˜†
Sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku

Sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas
semua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia
retaplah malam yg dingin

Tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan
berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
hakikat manusia

keadilan, keadilan

* akan aku telusuri
jalan yg setapak ini
semoga kutemukan jawaban

Jawaban

Jawaban

Jawaban

Listening to Gie by Okta

Preview it on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

4 Responses to Listening to Gie by Okta

  1. peta says:

    Pelajaran dari diplomasi meja makan ini, saya kita, qta–alumni, dosen, org yg peduli–tdk boleh membiarkan mahasiswa berpikir sendiri, ada yg bertugas mengerem. Atau akibatnya ‘fatal’ seperti jamuan makan malam itu.

    • Harus ada yang memberikan masukan dan pertimbangan utk semua tindakan. Mungkin begitu… karena pemikiran mahasiswa zaman sekarang tidak ‘sedewasa’ mahasiswa 1 dekade yang lampau

  2. Ami says:

    Ami juga suka lagu ini kak, filmnya juga. Setuju, kita nggak tahu apa yang sebenarnya dihadapi oleh mhs2 itu. Mungkin mereka punya pertimbangan lainπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s