#NulisRandom 2015 (Pt. 9) Today’s Humanity

Kemaren timeline Facebook dihebohkan dengan kasus kecelakaan kereta api di Padang.

Awal mula mengetahui kejadian ini ketika salah seorang teman di facebook memposting kartu mahasiswa korban dan menyebarkan informasi jika ada yang mengenali keluarga atau saudara dekat si korban, agar segera memberitahu kondisi korban saat ini. Ketika foto itu diposting, kabarnya keluarga belum diberitahu tentang berita kecelakaan ini.

Seorang mahasiswi Universitas Negeri Padang (UNP) ditabrak kereta api di perlintasan kereta api Simpang Polonia, Air Tawar Timur, Kota Padang pada minggu (14/6) siang sekitar pukul 14.40 WIB.

Korban yang diketahui bernama Eka Sofiadita (19) yang merupakan mahasiswa jurusan Administrasi Pendidikan angkatan 2014 itu meninggal di tempat dengan kondisi tubuh yang mengenaskan.

Menurut saksi yang berada di sekitar lokasi, saat melintasi rel kereta api korban tidak mengetahui adanya kereta api yang lewat. Bahkan warga sekitar sempat meneriaki korban, tapi tidak terdengar oleh korban.

Jenazah korban pun dibawah oleh pihak kepolisian ke RS Bhayangkara Kota Padang untuk kepentingan otopsi. Rencananya jenazah korban akan dimakamkan di kampung halamannya di Jorong Muaro Usak, Lembah Gumanti, Alahan Panjang, Kabupaten Solok.

Sumber: http://www.infosumbar.net/berita/berita-sumbar/seorang-mahasiswi-unp-ditabrak-kereta-api-di-simpang-polonia/

 

Malam harinya, berita portal ramai bertebaran di lini masa yang mengkisahkan kronologi kejadian lebih detail disertai bumbu-bumbu ini dan itu, termausk dugaan korban yang tidka mendengarkan peringatan orang-orang sekitar tentang kereta api yang akan lewat karena sedang menggunakan headset. Dan pagi ini, saya terbengong-bengong membaca sebuah artikel yang menginformasikan bahwa keluarga meminta agar foto-foto korban yang bertebaran di social media agar dihapus. Jadi selain informasi kecelakaan, orang-orang juga pada tertarik dengan foto-foto korban yang mengenaskan?? WHAT THE…..!!!

Dari hasil stalking beberapa status teman, salah seorang netizen sempat meninggalkan komentarnya tentang pengalaman melintasi TKP, ia merasa heran post 1.5 jam setelah kejadian kenapa masih banyak umat yang berkumpul di sekitar sana. Tidak taunya mereka berkumpul untuk saling berbagi foto-foto korban yang badannya sudah terbagi 3 melalui Handphone.

Saya tidak habis pikir dengan masyarakat socmed a.k.a netizen yang jumlah mereka semakin banyak, namun naluri kemanusiaanya semakin sedikit. Dan saya tidak paham, nilai kepuasan seperti apa yang mereka dapatkan dari menyimpan dan mengkonsumsi foto-foto tersebut. Parahnya, ada yang merasa sangat “eksis” ketika memampang foto korban di halaman socmednya, dan banyak mendapatkan komentar dari yang lain.

Ketika kuliah, dosen saya sering mengajarkan dan mengarahkan kami untuk terus bersikap empati. Sikap seperti apa itu? Yaitu perasaan dimana kita ikut merasakan dan memahami orang lain. Mempunyai rasa empati adalah suatu keharusan bagi seorang manusia, karena disanalah letak nikai kemanusiaan seseorang. Oke, sekarnag coba bayangkan jika keluarga, adik, kakak, keponakan kita yang fotonya disebar-sebar? Tidakkah kita keluarga akan semakin bertambah-tambah kesedihannya? Belum lagi tanggungan rasa berduka yang tentunya masih belum terobati.

Kami (*saya dan kawan-kawan mahasiswa Kesehatan lainnya), sering sekali berserobok dengan kasus-kasus penyebaran foto “yang tidak seharusnya” diposting. Baik itu foto narsis bersama dengan cadaver (seperti kasus-kasus yang sudah-sudah), foto-foto pasien dengan penyakitnya, foto-foto bersama pasien jiwa, dsb, yang mungkin merupakan hal yang biasa di antara kalangan mahasiswa kesehatan namun itu akan menjadi hal yang “LUAR BIASA” bagi masyarakat umum. Apakah keluarga dari si pasien ikhlas dan rela foto-foto anggota keluarganya yang sakit, cacat, memiliki kelainan disebar-sebar begitu saja??? Let’s think about it…

Jadi, di era digital saat ini, menjadi eksis itu boleh-boleh saja. Namun jangan lupa untuk berpikir ya guys! Berpikir dalam artian, sisihkan waktumu untuk mencerna apa yang boleh dan apa yang tidak boleh disebar, diposting, komentari. Timbang baik dan buruknya, timbang nilai “kepentingan” dan “apa manfaatnya”! Setelah itu, jangan lupa sisipkan nilai manusiawi, kemanusiaan, etika, kesopanan, di daldam setiap postingan kita.

*I am not a perfect person, but I continue learning🙂

a

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in #NulisRAndom2015, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s