#NulisRandom2015 (Pt.12) Ramadhan~

How was your ramadhan? Beruntung sekali dua malam pertama Ramadhan saya lalui bersama keluarga di kampung. Taraweh pertama, saya dengan adik (Ama tidak ikut karena Hipertensinya kambuh) memutuskan untuk sholat di Mesjid. Mesjid Raya Tanjung Jati. Sejakk SD saya sudah akrab dengan mesjid ini karena saya juga belajar di MDA yang terletak masih satu komplek dengan mesjid. Bertahun-tahun kami menghabiskan malam-malam pada bulan Ramadhan di tempat ini. Dahulu ketika masih kecil, selain Mesjid kami juga sholat di Mushola Darussalam yang letaknya lebih dekat dengan rumah. Tetapi semenjak Mushola sekarang semakin sesak plus Bapak-bapak yang tak segan-segan mengepulkan asap rokok mereka sembari mendengarkan ceramah Ramadhan, saya mulai ogah solat di Mushola. I can’t resist with the smoke. Malam pertama ramai, as prediction. Malam kedua, LEBIH RAMAI lagi. Saya, Ama, dan adik-adik penuh semangat menuju mesjid. Mencari spot terbaik dan ternyaman untuk menggelar sejadah. Banyak orang yang saling menyapa, inilah salah satu ibroh sholat berjamaah ke Mesjid; bisa menguatkan tali silaturrahim antar sesame muslim. Tapi tidak ada yang menyapa saya. Hahahah… Saya tidak banyak mengenal warga di kampung, dan teman-teman seumuranpun sepertinya sudah banyak yang merantau dan belum kembali. Bahkan nenek-nenek yang sebelumnya ngobrol dengan Ama tidak tahu Ama punya seorang Nur’aini sebagai anaknya. Yeaahh… bukan rahasis umum lagi di dalam keluarga kami jika banyak masyarakat kampung yang tidak tahu saya adalah anak kedua orang tua saya. Mereka selalu bertanya-tanya ketika saya dan Ama menghadiri acara pesta pernikahan atau acara lainnya,”Iko anak sia ko ni?”. Saya tidak banyak menghabiskan masa kanak-kanak dengan bermain bersama bocah-bocah di kampung, saya jarang bermain di luar, paling hanya dengan anak-anak tetangga yang ujung-ujungnya yahh mereka terlalu pemalu saya terlalu overactive, jadinya tidak nyambung. Saya bersekolah di SD kampung sebelah, sehingga tak banyak mengenal anak-anak di kampung sendiri kala itu. Makanya saya sangat pemalu dan HDR ketika MDA. Saya tidak terlalu akrab dengan anak-anak tersebut. SMP dan SMA juga lebih banyak bergaul dengan teman-teman di kampung tetangga. Setiap ada acara baralek, Ama juga jarang mengajak saya ikut. Diajakpun, saya sering mencari alasan. INTINYA: Saya sama sekali cukup tidak terkenal. Sekali setahun mengunjungi Mesjid di kampung T_T), saya cukup merasa sangat nyaman solat kembali disini. Terutama tigkat kebisingan yang sama sekali sangat berkurang. Kepo punya kepo, ternyata kata teman Ama yang duduk di sebelah kami, sekarang tim Ramadhan kampung sudah membuat tim khusus guna mengamankan anak-anak yang suka meribut selama aktivitas ramadhan di mesjid. Jadi akan ada seorang petugas (biasanya amak-amak) yang akan piket patrol mengontrol anak-anak yang keliaran di halaman mesjid untuk solat, termasuk mengamankan Bapak-bapak yang nongkrong di warung-warung dengan cara menyindir mereka melalui anak-anak. Hah… what an idea!! Tapi saya senang dan bahagia sekali bisa merasakan ketenangan selama solat dan melihat keakraban warga, keramahan pengurus mesjid, anak-anak yang khusyuk menulis. Benar-benar menyenangkan. Sepertinya bocah-bocah ini sudah cukup tau akibat yang akan mereka dapatkan jika mulai ribut. Jangan salah, dulu beberapa tahun yang lalu (*bahkan sedari saya masih SD), anak-anak yang meribut langsung ditegur di tempat dan akibat paling sadis adalah diadukan ke orang tuanya. Sehingga para orang tua dengan muka memerah akan “mendisiplinkan” anak-anak mereka. Amak-amak di kampung berang itu sadis pakai banget tau! Tetapi nuansa yang sama belum saya dapatkan ketika mencoba solat di Mesjid di Perkotaan tempat saya saat ini mencari penghidupan (*hadeh bahasanya). Para orang tua yang membawa anak-anak sepertinya acuh dan tidak begitu peduli ketika anak-anak mereka berlarian melintasi tempat sujud jamaah, berteriak-teriak di luar, lalu lalang keluar masuk pintu. Saya menyukai anak-anak, tetapi melihat anak-anak yang dibiarkan mengganggu seperti itu ya bikin gemas juga. -..-) Apapun itu, berusaha untuk mengoptimalkan ibadah tergantung dari diri kita masing-masing. Ketika kita mampu bertahan dan mengadaptasikan diri tanpa menjadikannya sebagai excuse untuk absen dari aktivitas ibadah. Yosh! Semangat!!!

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in #NulisRAndom2015, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

4 Responses to #NulisRandom2015 (Pt.12) Ramadhan~

  1. Ami says:

    HDR apa sih, Kak? *kepo*
    11-12 lah sama yang di sini, anak-anak suka ribut, tetapi ada ibu-ibu yang sukarela mengingatkan🙂

    • HDR–》 sindroma gangguan jiwa mi… kepanjangannya: Harga Diri Rendah. Semacam paham yg menganggap dirinya rendah, tidak ada apa2nya… sesuai kekinian; da aku mah apa atuh. Hehe..

  2. Masih mendingan situ. Di kampung, sepeda bapak saya aja lebih dikenal orang ketimbang saya, hihihiiks….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s