#NulisRandom2015 (pt.16) The Power Of Do’a… Ramadhan Varokah…

Pada suatu ketika, di umur-umur yang masih muda belia, saya pernah mendengar seseorang berkata agar menyebutkan do’a-do’a kita secara detail. Termasuk sebutkan apa saja yang kamu inginkan untuk dimiliki. Maka setiap kali berdoa, tanpa berpikir panjang, saya selalu menyelipkan nama-nama beberapa benda yang saya inginkan, lengkap dengan merk dan spesifikasinya. Meski merasa ini sangat lucu, saya benar-benar membuat daftar list barang-barang tersebut.

Alhamdulillah beberapa di antaranya terkabulkan 1, 2 atau beberapa tahun kemudian.

Namun, semakin dewasa (aghm, dewasa awal *ralat), saya semakin berpikir ulang dalam berdo’a, terlebih ketika telah mendapatkan materi tentang cara berdoa yang baik.
Meminta benda memang tidak disalahkan, namun saya merasa aneh dengan menyebutkan spesifikasi tertentu seolah-olah kita mendikte Tuhan untuk memberikan apa yang benar-benar kita inginkan (*bukan yang kita butuhkan). Sehingga bahasa yang saya gunakan dalam berdoa meskipun tidak mendetail, namun lebih mendasar dan prinsipil. Saya sudah jarang menyebutkan merk-merk benda. Hehehe….πŸ˜€

Semakin kesini, terutama ketika Ramadhan datang, bahasa do’a yang saya gunakan lebih ke arah curhatan, tertata seperti saya menulis sebuah prosa, mengalir begitu saja. Kemudian saya tetiba teringat bahwasanya Bulan Ramadhan yang penuh berkah merupakan waktu dimana banyak do’a lebih cepat dihijabah. Iseng-iseng, *ralat* Bukan iseng! Saya teringat untuk menyebutkan kembali sebuah benda yang sudah sangat laaaaaama saya impikan, namun sudah sangat laaaaaama pula tidak saya sebutkan dalam do’a; bayangan benda tersebut kembali hadir di pepulupuk mata.

“Ya Allah, pengen kamera profesional DSLR yang kata orang cakep banget untuk kegiatan foto-foto…” demikian kira-kira redaksi yang muncul.

Keesokan harinya, di kesempatan berbuka bersama Prodi di salah satu hotel di Bukittinggi, seorang kakak membawa kamera profesionalnya. Ya, acara ini memang kami niatkan untuk mengabadikan moment kebersamaan sebelum beberapa di antara kami meninggalkan kantor demi tugas belajar ke UI dan Thailand. Semuanya membawa keluarga dan anak. Kecuali saya (*yang memang keluarganya ngumpul di kampung -aghm-) dan seorang kakak yang ‘uda’nya kebetulan tidak bisa datang.

Sebagai seorang jomblo profesional dan multitalenta, melihat si kakak yang kerepotan dengan bayi umur 1.5 tahunnya, saya menawarkan diri untuk mengambil alih kamera. Meski belum pernah memiliki (*asseekk :p ), saya pernah menggunakannya beberapa kali di event-event keluarga dan kantor. Yeaah … at least that’s what a Jomblo is for…

“Jepret…. jepret…. jepret….”

Saya ketagihan motretin bocah-bocah, anak-anaknya si kakak-kakak teman sekantor (*saya paling bungsu di kantor tersebut) yang lagi main dan ngerusuh, termasuk melayani foto keluarga di berbagai sudut hotel yang udah kayag rumah sendiri saking hebohnya kami. Saya senang, kakak-kakak juga senang. Gak papa saya gak kebagian kena poto. Just being the woman behind the lens udah bikin kegirangan banget.

Keesokan harinya ketika melihat hasil-hasil foto yang cakep-cakep (*terutama foto bebocahan mereka), si kakak langsung muji-muji.
“Wah… Aini bakat nih… sense of potografernya dapet banget” kata uni Ciau. Tenang saya gak GR kok, udah sering dikata-katai begini. *plak*

“Ni… Aini harus beli kamera beginian Ni!! Kumpulin uang dari sekarang, paling harganya 6-7 jutaan,” kata kak Juned.

Ya Allah kak… itu uang kakaa… I need money for something that more important lah kak… hehehhe…. saya cuma ketawa garing sambil berujar,”InsyaaAllah kak… ini lagi nabung”.

Ya Allah, baru juga didoain kemaren, eh barangnya nongol di depan mata plus bikin envy to the max.

Ya Allah, mau kamera seperti punya kak Dian ini ya Allah. Merk nya Canon ya Allah…

Saya sih gak ambil pusing dengan keinginan ini. Saya berdoa, namun tidak greget musti harus kudu langsung ada. Saya percaya Allah mengabulkan doa-doa hambanya dengan 3 kondisi: Ya Boleh, sekarang ya…. Ya Boleh, tapi nanti….. Ya boleh, tapi bukan yang ini….

InsyaAllah saya optimis bakal punya 1 yang seperti inu di masa depan. Yang penting sekarang saya musti rajin ‘cipitih’ dulu. Make my own money! Hehehe…

Akhirnya saya pulang kampung, di rumah ternyata ada Mokdang (*I called my mom’s little brother with Mokdang), saya masuk rumah… tampak mokdang, Ama, Apa, dan ibu sedang diskusi hangat di meja makan. Mokdang terlihat semangat sekali, pembahasannya sayup-sayup tentang membeli sesuatu. Saya tidak terlalu tertarik, since I am really tired to ride the motorcycle from Bukittinggi to home.

Setelah bersih-bersih, sebelum berbuka, Ama berkata,” Ni, Apa mau beli kamera seperti kamera Nia untuk Ani…. Second sih, belum setahun pakai… ada teman Mokdang yang terdesak ngejual karena lagi butuh uang… HARGANYA MIRING. Besok kameranya diantar ke rumah”

W.H.A.T…!!!

Kamera seperti kamera Nia??? Nia adik sepupu saya, anak Mokdang yang sedang kuliah di DKV!!! It’s Canon right ??!!!!

I.CANT.BELIEVE IT!!!

“Seriussss maaaa??? Untuk Aniii??? Miapaaaah???”

Hehehehehe… wajar saya tidak percaya. Secara sejak bekerja, Apa sangat jarang (*bisa dibilang tidak pernah lagi) membelikan benda-benda atau barang-barang mahal yang saya inginkan. Bahkan baju seragam untuk idul fitripun Apa cuma senyam senyum ketawa gaje pas saya minta tebengan ke budget lebaran dari Apa untuk Ama. Kata Ama sih saya masih tetap harus nyumbang dana untuk seragaman secara udah kerja. Gak ada lagi budget keluarga untuk baju rayo anaknya yang sudah kerja. Phew..

Apalagi mengingat Apa yang ogah mengeluarkan uang untuk benda-benda yang dirasa belum terlalu urgent (*dengan alasan adik masih kuliah). Saya ingat, sudah sejak tahun kemaren, saya berbusa-busa menyarankan Apa untuk membeli android atau tab demi mewarnai khasanah keilmuan Apa (*azeeeekk), cuma diiyain, dibilang nanti… tapi entah kapan. -..-)”

Dan sekarang Apa langsung keluar uang tunai sekian jeti untuk sebuah kamera! Dan itu ada embel-embelnya “untuk Ani”…. Alamak…. Berkah Ramadhan banget! Yeay!!!

Kameranya langsung diantar keesokan harinya oleh Mokdang, lengkap dengan kotak, tas, garansi card, manual, dan sebagainya.

Lemes…. alhamdulillah wa syukurillah…

Kuasa Allah banget.

Saya kemudian menceritakan kejadian beberapa hari terakhir tentang kamera ini ke Ama dan Apa. Keduanya cuma bisa bilang ,”Alhamdulillah kan pas tuh… akan ada beberapa moment nantinya di keluarga kita…Hari raya dan wisuda adik. Nah Ani kan bisa pegang kamera, jadi pas adik wisuda kita gak perlu ke studio poto lagi”.

Alamakjaanggg….

Khkhkkhkhh….pengen ketawa sambil nangis Hayati dibuatnya Ma, Pa… Meski ada embel-embel di belakangnya.

“Sebenarnya Apa sudah lama berniat membeli kamera profesional ini untuk acara-acara keluarga. Cuma gak kesampaian terus karena mempertimbangkan urgenitas. Alahmdulillah sekarang dikasih rezeki dan pas ada harga yang murah…” kata Ama.

“Berarti boleh Ani bawa kemana-mana kan Ma?”

“Boleh, tapi jangan lupa sumbangsih dana untuk ganti uang Papa beli kamera. Hehehhe….”

Sampai disini senyum Hayati sudah mulai miring sodara-sodara

Khkkhkkhkh….

Untung saya masih sadar dan tau diri. Perkara kamera atas milik siapa sekarang tidaklah penting. Apa dari dulu sudah mengajarkan kepada kami bahwasanya setiap barang yang kedua orang tua kami beli, semuanya berhak untuk memakai. Boleh dibawa kemana saja, oleh siapa saja anggota keluarga. Disini, si kamera sepertinya dipercayakan kepada saya karena menurut Ama dan Apa sayalah yang lebih ahli dalam menggunakannya. Mereka jadi modelnya aja begitu… (-..-)

Hhhh….
Sampai disini, saya semakin semakin semakin percaya dengan kekuatan do’a.
πŸ™‚
Bahkan ketika seorang muslim tidak bisa lagi mengubah sesuatu dengan tangan dan perkataanya, maka doa adalah senjata yang paling ampuh.

Jadi…jangan sungkan-sungkan berdoa eaa gais… karena ALLAH MAHA KAYA!! ALLAH SUKA DENGAN HAMBANYA YANG TULUS MEMINTA KEPADANYA.

πŸ™‚

“Ngggg… ya Rabb… mauu yang itu juga…”

*plak

image

By Aini yang sebenarnya sangat tidak berniat untuk famer, cuma masih menghormati prinsip: No pict=hoax.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in #NulisRAndom2015, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s