#NulisRandom2015 (Pt.18) Analisa Situasi Tipe-tipe Dosen Pembimbing #1

Tulisan ke 17 dalam rangka memeriahkan #NulisRandom2015 (okeh…. Iyaa… saya telat… saya lalai….makanya pengen kejar tayang….ha ha ha ha….) dan ini merupakan postingan ke 992 di WordPress saya. Yeay!!! It’s gonna be 1000 posts soon Vroooooh!!!

Kali ini saya akan bercerita tentang tragedi yang sering terjadi pada Mahasiswa ketika berurusan dengan dosen pembimbingnya, baik pembimbing tugas akhir, pembimbing klinik, pembimbing akademik, dan segala macam dosen bimbinganlah. Bukan… saya tidak hanya sedang membicarakan tentang mahasiswa saya, tetapi mahasiswa secara umum, dari apa yang pernah saya lihat, amati, dan temukan sepanjang daur kehidupan saya ketika berurusan degan dunia kemahasiswaan (*asek!).

Mengapa saya menamakan ini TAGEDI?? Karena mahasiswa yang “beruntung” mendapatkan kejadian ini seperti mendapatkan musibah!! Menyebabkan beberapa diantaranya merasa paling menderita sedunia, sengsara lahir bathin. Hehehe….

Pertama pembimbing akademik. Saya termasuk mahasiswa yang beruntung karena dikaruniai pembimbing akademik (PA) yang baik hati dan gampang ditemui, setelah membuat janji terlebih dahulu dengan beliau. Namun banyak teman saya yang mendapatkan PA yang amat sangat duper susah ditemui karena kesibukan beliau. Yah, kita biasa menemui PA setiap awal semesteran untuk mengurus KRS, konsul pendidikan, konsul laporan, and stuff like that. Akan semakin pahiit ketika dosen yang kita butuhkan molor-molorin jadwal sehingga mengacaukan planning Pulang kampung!! Sakitnya gak Cuma “disini” lagi! Tapi body and soul! Ini sering terjadi pada dosen yang sering numpuk-numpuk perkuliahan di ujung semester dan sering ngeliburin mahasiswa di jadwal-jadwal pekuliahan normal.

Kejadian baru-baru ini yang juga sering saya amati dan dapatkan adalah: Tipe dosen yang tidak pernah merasa puas dengan hasil kerja mahasiswanya sehingga mereka menyerah untuk melakukan bimbingan, dan menggantung si mahasiwa tanpa status yang jelas (*entah lulus entah tidak). Saya sering dicurhati mahasiswa, mereka meminta saya untuk mengusulakn ke Prodi untuk mengganti saja dosen XYZ karena mereka sudah tidak sanggup lagi serta kehilangan akal dalam menterjemahkan maksud tugas yang diberikan si dosen. Hadeehh… siapa gueh gitoo loh!! Dari pengakuan sekelompok mahasiswa ini, mereka sekelas sudah berkali-kali konsul laporan namun masih saja di cap salah tanpa diberi clue dan petunjuk yang betul seperti apa. Mereka sudah begadang berhari-hari demi tugas yang satu itu, sehingga telat beberapa menit masuk kelas si dosen, dan kemudian tidak diizinkan ikut kuliah sehingga sia-sialah tugas tersebut tidak mendapatkan nilai. Saya sebagai pihak yang belum mendengarkan dari kedua belah pihak *azek* (mahasiswa dan dosen) gak bisa ngejudge langsung dong! Bisa pecah perang dunia! Hehehe…

Saya berempati kepada mahasiswa dan memberikan beberapa masukan yang bisa membangkitkan motivasi mereka. Saya bilang,”Yaa… itulah peran kita sebagai mahasiswa. Mahasiswa salah itu sangat wajar! Justru gak wajar kalau kalian langsung hebat! Gak perlu kuliah donk kalau gitu. Jalani aja prosesnya karena proses memperbaiki kesalahan itulah sebenarnya aktivitas pembelajaran. Sabar-sabarin aja dulu, tinggal setengah semester ini kok!”, hanya itu yang bisa ibuk lakukan nak!

Mungkin tipe dosen seperti di atas punya metode tersendiri, dan saya sebagai dosen pemula tidak bisa langsung menyalahkan meski jiwa kemahasiswaan memberontak tidak sepakat jika diperlakukan demikian.

Namun, saya cukup sedih jika ada dosen yang kemudian memutuskan ‘menyerah’ untuk membimbing mahasiswa (-dengan kasus di atas red-). Menurut saya (*sebagai seorang mahasiswa dan dosen baru yang jiwa kemahasiswaannya masih snagat tinggi), beliau sudah gagal untuk mendidik. Ya wajar jika ada mahasiswa yang masih belum sempurna dalam pengerjaan tugasnya. Toh mereka masih belajar. Bukankah itu tujuan mereka dikuliahkan oleh orang tuanya?? Memberikan punishment itu bagus (*saya juga sering memberikan hukuman kepada mahasiswa) namun menjadi BIJAK jauuuuh lebih penting. Ada mahasiswa yang bukan karena keinginan mereka terpaksa melakukan kesalahan-kesalahan tertentu. Jadi yaa… butuh sedikit kelembutan hati untuk menjadi bijak dan memberikan mereka sedikit kesempatan lagi.

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in #NulisRAndom2015, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s