#NulisRandom2015 (pt.20) Analisa Situasi Tipe-tipe Dosen Pembimbing #3

Ketiga, dosen pembimbing Klinik.

Nah… CI (clinical instructure) ini lain lagi pesonanya. Hahahah! Bagi mahasiswa kesehatan pasti tidak asing dengan berbagai tipe CI. Ada banyak tipe CI yang akan ditemukan mahasiswa ketika berpraktik di lahan klinik.

Ada yang….

Cuek beibeh; yang tidak peduli mahasiswa sudah sampai mana melakukan kegiatan praktik, yang cuek dengan tugas-tugas mahasiswa, yang jarang nyamperin mahasiswa ke pasien, yang tidak pernah menhadiri kegiatan penyuluhan dan seminar akhir mahasiswa. Ck ck ck … Jika saya adalah pemegang kendali di suatu institusi, saya akan mengusulkan kepada pihak RS untuk mengganti CI-CI yang seperti ini dengan yang lebih responsible.

Susaaaah banget ditemui. Telfon gak diangkat, sms gak dibales, ditemui ke ruangannya gak ada… nih CI tipe yang ngajak berantem banget!! Heheheh …

Ada yang kerjaannya rapat terus…. “Maaf saya lagi rapat bidang, …. Rapat akreditasi RS…. Rapat panitia pelatihan ini itu….”… fiuf, da aku mah apa atuh buk… Aku punya BUANYAAAK waktu buat nungguin ibu selesai rapat.

Ada yang sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit ngancam ganti dinas. “Ini LP nya gak pakai WOC?” “Mana catper hari ini???” “Apah!! Catpernya belum siap??” “Pasien kamu mana? Coba jelaskan WOC kasus…” “Apaah!! Kamu belum ketemu pasien hari ini? Kamu ganti dinas sehari!”… ck ck ck… bunuh Hayati di rawa-rawa buk!!

Macem-macem!! Tetapi tentu ada juga yang baikkkk, superrr baikkk, super perhatian, yang membimbing dengan penuh keikhlasan, sabar, dan menjadikan mahasiswa sebagai partner, dan bisa menjadi pahlawan penyelamat mahasiswa dari pembimbing akademik yang galak. Selama menjalani praktik klinik, CI akan lebih sering bertemu dengan mahasiswa ketimbang pembimbing akademik, dan herannya, tingkat ke-killer-an dosen pembimbing akademik sepertinya selalu meningkat setiap kali sampai di rumah sakit. Heheh…

Saya sudah pernah bertemu di beragam kesempatan dinas selama melakukan aktivitas profesi dengan tipe-tipe Ci di atas. Dan rasanya nano-nano banget!!

Nah… what should the students do??

All you have to do are…

Pastikan kamu keep contact dengan CI. Telfon! Kalau gak diangkat kirim pesan singkat dengan bahasa yang sopan: “Assalamualaikum ibu, saya mahasiswa (*nama kampus) (*nama kamu) yang sedang dinas di ruang (tempat dinas), Ibu saya ingin mengkonsulkan makalah seminar kasus, kapan kami bisa menemui ibu buk?” Please be detail! Karena CI tidak hanya membimbing kamu seorang! Karena mahasiswa yang berpraktik di RS itu buanyaak!!

Kalau gak dibalas?? Langsung temui ke kantor, ruangan dinas, atau tempat CI biasa bermukim(?) di RS tersebut.

Kalau mereka tidak ada?? TAROOOH aja makalah, laporannya di meja beliau, dan kemudian kirim pesan kembali ,”Assalamualaikum ibuk, makalah sudah kami letakan di meja ibu. Mohon bimbingan dan masukannya ya bu… terimakasih bu..”

Kalau gak bisa dihubungi via Telfon, SMS, masih ada WA, Line, BBM, Facebook!!! Sekarang mah enak, ada banyak ragam aplikasi untuk berkomunikasi. Kalau zaman saya dulu masih mentok di telfon dan SMS doank. Bahkan saya bisa berbalas emoticon di Line ketika berkomunikasi dengan mahasiswa bimbingan saya.

Kalau masih gak ada respon, yaahhhh setidaknya kamu sudah mencoba untuk tetap berkomunikasi dengan mereka. Jadi jika tidak ada alasan untuk CI marah-marah karena merasa mahasiswa tidak pernah menghubungi selama berdinas. Kamu akan bisa membela diri jika suatu saat ini terjadi! Hehehe…

Saya cukup heran dengan artikel berita yang sempat saya baca di social media akhir-akhir ini tentang betapa tidak sopannya gaya bahasa para mahasiswa “kekinian” ketika menghubungi dosennya. Heiii… HOW DARE YOU DID IT! Bahkan saya dan teman-teman sekelompok, saking takut gak sopan, grogi, dan H2C ketika menghubungi dosen, kami sampai rapat demi menyusun kata-kata ketika mau nge sms dosen (jejaman masih newbie di dunia perkuliahan dan per-profesian), dan setelah menyusun kalimat, masih harus melewati scanningan beberapa orang teman untuk memastikan apakah itu sudah cukup sopan, formal, dan tidak bertele-tele. That’s it! Ingat, KITA yang butuh dosen dan pembimbing! Meski mereka juga membutuhkan kita, namun sebagai seseorang yang sedang menuntut ilmu, menghargai guru adalah kewajiban. TERLEPAS dari beragam tipe dan karakteristik dasar dosen dan pembimbing yang kita temui. Itu hanya perlu sedikit “siasat” untuk menghadapinya.

And then, sambung lagi…

Yang harus mahasiswa klinik lakukan adalah: LAKUKAN APA YANG SEHARUSNYA MAHASISWA LAKUKAN! Detail tugas mahasiswa yaah tidak perlu dijelaskan lagi lah ya! Para mahasiswa sudah mendapatkan pengkayaan sebelum turun praktik ke RS. Sudah dijelaskan kewajiban dan Hak, serta peraturan yang sudah ditetapkan bersama oleh pihak kampus dan lahan praktik. Nah, Just follow the rules! Ketika kamu wajib bikin tugas, ya bikin tugasnya semaksimal yang bisa kamu lakukan. Apalagi tugas klinik itu sudah buanyaaak contohnya bertaburan baik di dunia maya maupun warisan senior di dunia nyata. Be active! Bahkan ketika profesi Ners dulu, saya gak perlu lagi searching di google ketika mengerjakan tugas, saya cukup searching nama file di document laptop. Sebelum terjun ke klinik, saya sudah hunting bermega-mega byte kumpulan tugas senior, dan meminjam harcopy laporan senior yang sudah melewati siklus yang akan saya tempuh. Emang! Emang butuh USAHA dan MODAL! Karena itulah tugas mahasiswa! Jadi gak ada lagi excuse butuh waktu untuk searching karena percayalah waktu yang kamu punya ketika sudah memasuki suatu siklus di klinik tidak akan sebanyak biasanya.

Ikuti alurnya, jangan iseng-iseng ngelanggar peraturan. Sedangkan selagi berjalan normal aja belum tentu selamat sampai akhir siklus, apalagi jika kamu sempat berulah. Banyak CI yang tidak bisa mentolerir kesalahan kecil apapun yang sengaja dilakukan mahasiswa, apalagi jika si mahasiswa sudah berhasil bikin bad mood CI. Itu namanya NYARI MATI! That’s it.

And next… Jangan MALAS alias BAREK IKUA!

Yah, ini tips pribadi sih. Karena bagaimanapun, respon seseorang kepada kita adalah cerminan dari sikap dan etitut kita. Ketika kamu mampu membuat pencitraan yang baik *okeh, di klinik please bikin pencitraan yang baik-baik ajah…, maka orang-orang sekitar akan memiliki reinforcement yang positif juga. Dan bagaimana pandangan orang akan berefek terhadap seperti apa sikap mereka terhadap kita. Salah satunya adalah jangan malas kalau dimintai tolong, dalam melakukan tugas sebagai mahasiswa praktek, jangan malas untuk bersikap sopan dan santun kepada siapa saja, jadilah akrab dengan orang-orang sekitar termasuk perawat pelaksana, pembantu perawat, bagian gizi, CS, dokter, mahasiswa lain, dsb.

Jadilah TACILAK karena kebaikanmu! Khehehehe… sehingga akan menarik perhatian CI, menarik perhatian siapa saja, dan mereka pasti tidak akan membantu jika suatu saat kamu butuh pertolongan. Saya ingat ketika dahulu akan menghadapi ujian klinik pertama di ruang Interne yang grogi, deg-deg-an nya naudzubillah bikin rasa jantung mau copot. Saking groginya saya lupa mempersiapkan 1 buah lagi peralatan steril untuk tindakan (peralatan kami bawa dari kampus). Untunglah saya sudah menjalin hubungan yang baik dengan ibu-ibu perawat yang bertugas mensterilkan alat di ruangan tersebut, sehingga saya ditawari,’Aini pakai set ibu ini aja… tapi bersihkan lagi ya!”. Alhamdulilah. Di lain kesempatan, seorang uni Ka.Tim yang sudah dekat dengan kami membantu kami memilih pasien yang ‘sadang elok untuk ujian’ sehingga kami tidak terlalu ribet mengkaji pasien tersebut. Tentu ini sangat membantu! Karena ketika pembimbing akademik dan CI datang, kami sudah harus kudu wajib menguasai pasien.

Jadi… berlaku baiklah kepada siapapun di klinik, karena kita tidak pernah tau pertolongan Allah akan datang melalui tangan siapa.

Okeh. Ini part terakhir dari tulisan random kali ini. Ini murni pemikiran dan pengalaman saya, jadi mohon di sorry jika ada yang tersinggung atau merasa disindir. Hehehe…..

Semoga bermanfaat… 😀

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in #NulisRAndom2015, Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

4 Responses to #NulisRandom2015 (pt.20) Analisa Situasi Tipe-tipe Dosen Pembimbing #3

  1. pijarfajar says:

    Mbak, (astaga, seharusnya saya panggil mbak), mbak dosen ya? Dosen FK? *berbinar-binar*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s