Listening to Himawari No Yakusoku by Motohiro Hata

image

Untuk pertama kalinya saya merasa sangat terharu menonton film Doraemon, terharu sampai ingin meneteskan air mata.

Yaa… saya baru saja menyelesaikan film Stand by Me, ya ya ya… saya terlambat. Ya ya ya ya yaaaa… saya kudet, -..-)”

Namun saya cukup senang bisa menikmati animasi super di film terakhir ini. Saking menikmatinya, saya bahkan mengulang-ulang scene nya karena ketagihan memperhatikan mimik wajah para anime, demi mendengarkan suara mereka yang lucu, dan memahami kembali bahasanya yang alhamdulillah saya dapat film yang double subtitle. English and Bahasa sekalian mensinkronkan dengan bahasa Jepang. Itulah kenapa saya tidak bisa menonton film dengan orang lain. Karena saya punya kebiasaan yang mungkin tidak bisa ditolerir orang lain. *plak!!

Ada beberapa hal yang sedikit ‘aneh’ bin ‘menjanggal’ dari film ini diluar kehebatan animasinya. Pertama, saya takjub dengan betapa dewasanya pemikiran Nobita ketika ia menyerah untuk mendapatkan cinta Shizuka karena menurut Nobita, kebahagiaan Shizuka lebih penting ketimbang ambisinya. Shizuka tidak akan bahagia jika hidup dengan dirinya yang lemah di segala bidang.

Ha ha ha ha… Nobita yang masih sering ingusan ini kelas berapa sih??!? Anggap dia kelas IV SD (*mungkin), usia dimana saya masih sibuk memikirkan permainan apa yang sedang trend di sekolah, atau memikirkan kemalasan saya untuk pergi ngaji nanti sore, dan Nobita sudah memikirkan pendampin masa depannya!!!

Krik…

Krik…

Krik…

Menurut saya film ini sudah masuk genre remaja – musti ditonton dengan pendampingan. Si Nobita yang lugu ini kenapa orientasi kebahagiaannya adalah pernikahan dengan Shizuka?

Dan segala adegan yang dilakukan oleh Nobita adalah dalam rangka untuk mendapatkan hati Shizuka.

Yaaah… mungkin kita semua sudah tau cerita dimulai ketika cicit Nobita ingin merubah nasib nya yang kurang beruntung di masa depan, yang menurut si Soby itu semua berpangkal dari nasib buruk kakeknya Nobita. Sehingga memprogram sebuah robot masa depan (Doraemon) untuk membahagiakan Nobita. Kemudian terdeteksilah bahwa kebahagiaan Nobita terdapat pada sosok ‘Shizuka’. (=..=). Demikianlah… sehingga alur kisahnya rada-rada berbau romantika.

Namun tetap, kegigihan Nobita yang serba tidak bisa ini cukup bisa diambil pelajarannya. Terutama tekadnya untuk bersaing dengan Dekisugi dan berani menghadapi Suneo dan Jaian.

Demikian…

Ketakjuban saya yang kedua adalah, ekspresi kiut semua tokoh yang digambarkan secara real sukses membuat saya terkagum-kagum. Dan saya cintaaaaaa sekali dengan gaya serta mimik bicara Doraemon yang super duper cute ketimbang dubbingan versi Bahasa yang biasa kita konsumsi di TV Rajawali. Membuat saya ikut terbuai dengan alur kisah dan penghayatan si Doraemon. Hiks… đŸ˜„

Over all…

Meski kurang terbiasa dengan tampilan animasinya (*yang jauuhhhh lebih keren dari animasi yang kita kenal sejak SD), namun film yang merupakan rangkuman secara umum serial Doraemon ini, cukup membuat terharu, bahagia ketika menontonnya.

🙂

Listening to Himawari No Yakusoku by Motohiro Hata

Preview it on Path

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s