Dylan

Dear Dylan…

Malam ini tidak sedingin biasanya. Namun begitu, aku masih senang bergelung di bawah selimut tebal bekal ibuku yang sejak 2 tahun lalu selalu menemaniku melawan suhu rendah di kota ini.

Dylan, aku tidak tahu kamu akan membaca tulisan ini atau tidak. Namun jika suatu saat kamu membacanya, coba bayangkan aku di umurku yang mendekati 26 tahun menulis sambil berbaring santai di atas kasur, bertemankan android pintar dengan headset yang terhubung ke kedua telingaku. Aku sedang mendengarkan beberapa lagu yang aku sukai sambil menulisi ini. Kelak jika kamu sudah lahir dan dewasa, akan aku ceritakan tentang lagu-lagu kesukaanku. Mungkin di masamu kelak, lagu-lagu dengan genre seperti ini tidaklah lagi trend. Namun kamu harus tau, aku memiliki cerita untuk setiap lagu kesukaanku.

Dylan, kali ini aku ingin berkisah tentang Ibumu… Seorang wanita cerdas yang keras kepala! Hahaha… aku tidak tahu ia akan membaca ikut membaca ini atau tidak, tolong rahasiakan ini darinya kelak di masa depan. Oke!

Ia sama sepertiku Dylan, sebentar lagi umurnya 26 tahun, seperempat abad ditambah 1 tahun. Hahhaha, kami sudah cukup tua kan? Yah… dan ibumu, di umurnya yang ke 26 inipun masih betah untuk menjadi jomblo perak. Ia masih bingung untuk menentukan apakah ia perlu untuk menikah cepat atau tidak? Bahkan ia pernah bercerita padaku, apakah betul di atas dunia ini perlu ada yang namanya pernikahan? Hahaha… aku sama sekali tidak paham dengan jalan pemikirannya. Kadang ia seperti pasien jiwa dengan gangguan harga diri rendah, kadang ia memilili waham setinggi langit. Ck…ck…ck… dia begitu misterius. Namun kupikir, ibumu sendiri kadang tidak paham dengan dirinya. Tchk!! Jika ia tidak memutuskan untuk menikah, aku yakin kehadiranmu kelak di masa depan masih diragukan. Hhahahaha..!!😀

Dear Dylan… Ibumu bercerita bahwa ia pernah menyukai seorang pria sebelum ini, tapi tentu ia tidak pernah berani untuk mengatakannya. Ia tidak berpikir bahwa perasaan suka adalah sesuatu yang penting untuk ditinjaklanjuti. Yaah…. ibumu yang terlalu study oriented di masa-masa remajanya itu menganggap ia tidak perlu memikirkan hal-hal yang hanya akan menganggu tatanan hati dan kehidupannya. Ia perlu fokus untuk menjadi seperti manusia yang dicita-citakannya. Jadi? Ia hanya menyimpannya rapat-rapat di dalam hati selama bertahun-tahun sampai perasaan itu menghilang dengan sendirinya. Namun ibumu berpegang teguh untuk menyimpan rasa cintanya hanya kepada seseorang yang pemberani, yang kelak mengucapkan janji suci di hadapan kakekmu. Dia ayahmu!

Ijab qabul… kamu tahu itu?!? Ijab qabul itu menandakan dua orang manusia berbeda jenis telah menikah Dylan. Kamu akan mempelajarinya nanti jika sudah dewasa. Yah… banyak hal yang harus kamu pelajari. Untuk itu aku peringatkan, bacalah banyak buku nak! Jangan habiskan hari-harimu untuk hal yang tidak bermanfaat. Ibumu adalah seorang yang tergila-gila dengan buku. Aku sering menjadi korban kerakusannya terhadap bacaan. Kamu harus menuruni naluri itu. Jika ibumu tidak memberikanmu uang untuk membeli buku, jangan khawatir… Aku akan menyisihkan sedikit uangku untuk buku-bukumu.

Kau ingin tau apa yang ibumu lakukan saat ini? Ha ha ha… Wanita muda itu, ia masih berkutat dengan profesi keduniaannya, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk sekedar melanjutkan kehidupan, menyewa tempat tinggal, membeli makanan, untuk mengisi pulsa dan paket data, serta untuk menuntaskan beberapa impian besarnya. Dia memang seorang pemimpi ulung!

Kamu!?! Ya… kamu juga termasuk dalam list impian besarnya. Kamu spesial… Jadi tenang saja… Ibumu menginginkan kehadiranmu kok🙂 . Dan tentu Ibumu  pasti bertanggungjawab untuk kehidupanmu nanti. Kami akan bertanggungjawab untuk kehidupanmu, sampai kamu menjadi seseorang yang mandiri dan bisa berdiri sendiri.

Ibumu kadang orang yang membosankan Dylan. Namun kadang ia juga orang yang sangat menyenangkan… Aku sudah bersahabat sejak lama dengannya. Ia punya banyak hal untuk diajarkan kepadamu. Bahkan sebelum kamu terlahir ke dunia ini, di masa-masa mudanya, ibumu sudah mempelajari banyak hal untuk menjadi wanita yang cerdas dan ia selalu menanamkan di dalam hati bahwa ilmu yang didapatkannya kelak adalah bekal untuk mendidikmu agar menjadi manusia yang berguna.

Dylan, tumbuhlah dengan baik.
Jadilah anak yang soleh dan berbakti kepada orang tua serta bermanfaat bagi orang lain.
Aunty juga akan selalu ada untuk mendampingimu menjadi anak yang hebat.
And we will always love you dear…

Dylan, ini saja dulu ceritaku padamu. Aku menunggu komentarmu setelah membaca ini. Aku akan menemuimu untuk mendengarkannya, atau kau boleh menulis sesuatu untuk kubaca.😉

Salam penuh cinta

Your aunty

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Dylan

  1. Kebaca Dian, wkwkw….!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s