Bullying Never End

Pada suatu ketika, di acara PPS (pengenalan program studi) bagi mahasiswa baru, sekelompok mahasiswa lama(?) mendatangi saya dan berkata,”Bu… beri kami waktu untuk meng-ospek adik adik buk”.

“Memangnya kalian mau apa?”

“Masa acara maba gini-gini aja buk, membosankan. Kami aja dulu, sampai tingkat II masih dikumpulin senior… disuruh ini itu…”

“Terus…”

“Ya… Kami kami dimarahi, dilarang ini itu… tapi dengan begitu kami menjadi dekat dengan senior. Kami hormat dan patuh kepada mereka. Gak ada kami yang gak sopan dengan senior, dengan dosen juga”.

“Terus…”

“Sejak ospek dilarang, adik-adik makin kurang ajar buk… gak beretika…!!”

“Oh ya….???”

“Iya buk…”

“Jadi kalian mau marah-marah gitu?”

“Paling teriak-teriak dikit lah buk. Ngasih tau gimana kita di Prodi…”

“Okay then…”

Pada saat pergantian agenda sembari menunggu pemateri berikutnya, saya memanggil sekelompok mahasiswa senior yang ingin meng”ospek” adik-adiknya tersebut. Saya mempersilahkan mereka secara formal untuk menyampaikan apa yang ingin mereka sampaikan. Saya duduk di depan dan memperhatikan setiap detail poin-poin yang ingin mereka katakan dalam agenda “marah-marah” tersebut. Setiap poin yang membuat marah dan mulai memicu emosi mereka, langsung saya kaji dan dalami dengan pertanyaan-pertanyaan sehingga mahasiswa baru bisa mengambil rasionalitas dari apa yang disampaikan kakak senior tersebut.

Misalnya seperti ini:

Senior: Kalian semua tidak ada yang boleh memakai baju tipis, jilbab yang transparan! *dengan teriakan*

Saya: Memangnya kalau baju tipis, jilbab transparan kenapa Kak??? *saya menyela dengan kalem

Senior: Ya keenakan cowok-cowok dong buk, yang pakai jilbab transparan, kedepan semuanya!

*mahasiswi baru yang merasa jilbab putih mereka transparan berbondong-bondong membuat shaf di depan kelas.

Saya: Jilbab kakak gimana kak?

Si mahasiswi senior mulai malu sendiri, karena beliau juga pakai jilbab yang yahh… semi transpraran. ahem*

Si senior mulai beraksi kembali.

“Jilbab transparan, baju tipis, pakai cincin, gelang! Kalian mau bergaya ke kampus?”

Saya: Memangnya kalau pakai cincin kenapa kak?

Senior: Itu bisa menyebabkan nfeksi nosokomial kalau terus dipakai, kalian kan nanti mau berinteraksi dengan pasien.

Saya: Ohh.. gitu, jadi kalau mau praktek nanti semua perhiasan di tangan dilepas ya kak ya…

Apa yang mereka ‘marahkan’ ternyata hanyalah soal-soal sepele yang sebenarnya bisa dikomunikasikan dengan baik. ya maklumlah, namanya juga mahasiswa baru, tentu banyak hal yang belum diketahui. Dan ujung-ujungnya mereka kikuk, kagok, bersembunyi di belakang… karena sebenarnya mereka tidak punya alasan untuk marah, mereka tidak punya poin of view untuk berteriak di depan maba.

Pada akhirnya, saya menyampaikan kepada mahasiswa yang akan wisuda tersebut,”Saya juga pernah diospek ketika menjadi mahasiswa baru. Namun senior kami memperlakukan kami sebagai seorang mahasiswa, bukan seperti anak-anak nakal yang butuh diteriaki. Mereka mengajari kami dengan santun, dengan wibawa dan contoh teladan. Jadi tidak selalu “PK” (*Perilaku Kekerasan dalam bahasa keperawan jiwa; berteriak, marah, melakukan kekerasan fisik), selalu memberikan rasa takut yang membuat hormat. Cobalah dengan gaya baru. Mari membully secara elegan”.

Saya tidak tau apakah mereka paham atau tidak. Yang jelas, dari apa yang saya tangkap… kadang senior yang ingin marah-marah dsb tanpa alasan yang jelas, mereka lebih terlihat seperti seseorang yang butuh apresiasi dan perhatian lebih (*dan saya merasa kasihan). Ya… setiap orang mungkin akan bahagia jika dihormati, dihargai, adik-adiknya bersikap sopan, namun untuk ukuran seorang remaja yang akan memasuki masa dewasa awal, akan lebih baik jika mereka diberikan pengertian dan pengajaran dengan cara komunikasi yang baik. Jadi junior menghargai senior bukan karena terpaksa, namun datang dari kesadaran mereka sendiri.

Jika tujuannya ingin mengakrabkan diri dengan sesama senior-junior, hayuk bikin agenda-agenda positif yang mencerdaskan. Keakraban bisa terjalin melalui interaksi yang berkelanjutan. Bukan dengan cara-cara menekan dan membahayakan. Mungkin kita tidak terlalu memperhatikan, namun cara-cara tersebut kadang menimbulkan side effect psikologis dan membuat si korban ingin melakukan hal yang sama kepada junior di tahun berikut dan berikutnya dengan alasan “Kami dulu lebih keras dari ini ospeknya oleh senior kami”. Maka terjadilah kejadian perploncoan tiada akhir. Seperti mata rantai yang enggan putus.

‪#‎demikian‬
‪#‎agakpanjang‬

nb: terimakasih senior-senior PSIK Unand untuk agenda BAKTI yang damai dan menyenangkan di tahun 2007 lalu

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

10 Responses to Bullying Never End

  1. Sandurezu サンデゥレズ says:

    Ckck.. kehabisan cara ya kak.. bukannya hormat malah jadi jengkel sm senior..wkwk..😀

  2. lazione budy says:

    MABA?
    Wah itu istilah zaman 90an, kayaknya sekarang udah tenggelam deh.
    Ketahuan umur yak

  3. hazy-Rin says:

    Komisi disiplin tegak depan pintu aja cukup bikin maba ciut nyalinya, padahal nggak dibentak2…….

  4. Ami says:

    Setuju Kak, kalau masih pakai cara bentak-bentak gaje, para mahasiswa barunya bukannya menerima dengan ikhlas, malah dongkol😀

  5. Hehe kadang mahasiswa senior suka melucu, mereka nampaknya butuh hiburan. Jadi teringat pernah nyidang timdis, gegara mereka berlaga sombong sambil merokok di depan maba…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s