Semacam Perjuangan

Jika ada yang bertanya (*memangnya ada Ni?) kenapa sampai detik ini saya belum gabung dengan komunitas ODOJ (One Day One Juz), mungkin inilah salah satu jawaban yang *menurut saya* lebih syar’i ketimbang jawaban saya yang lainnya (*jawaban lain: ribet cara gabungnya)….

Karena saya ingin lebih menikmati membaca Al-Qur’an. Membacanya dengan pelan dan tenang, tanpa dikejar-kejar target atau pencapaian harus selesai berapa jus dalam skala waktu tertentu. Tanpa harus di setting dengan mindset harus bisa mengejar ketertinggalan.

Karena membaca Al-Qur’an saja sepertinya *agak* kurang cukup untuk mengisi kebutuhan bathin kemanusiaan saya. Saya butuh untuk mengetahui arti dan makna setiap ayatnya. Saya ingin mendapatkan hikmah yang tentu saja akan memperkaya keyakinan kita kepada Allah. Saya bukanlah seorang yang ahli bahasa Arab. Jika hanya membaca ayat per ayat saja, akan belum membuat saya paham akan surat-surat cinta dariNya. Karena dengan hanya membaca sekali saja tidak akan langsung nempel di otak saya yang tidak terlalu jenius ini.

Saya pernah mencoba memberikan target terhadap diri sendiri (*ketika Ramadhan), harus menyesaikan setidaknya 2-3 jus dalam sehari. Ketika itu adalah malam-malam i’tikaf. Suasana sangat mendukung, samping kanan kiri depan belakang semuanya tadarusan. Dengan kecepatan yang berbeda-beda, ada yang cepat sekali, ada yang standar, dan ada yang pelan. Jelas yang membaca dengan kecepatan tinggi akan mampu menyelesaikan lebih banyak jus. Akhirnya saya pun mencoba hal demikian, targetan tercapai, namun tetap saja ada rasa ketidakpuasan. Karena ketika membaca Al-Qur’an dengan kecepatan tinggi, saya sedikit banyak mengabaikan panjang pendek huruf, makhraj, dan yang lebih penting, pikiran saya seperti blank karena ketika membaca, otak saya berpikir: targetan… targetan…. targetan…

Maka dari itu, saya memutuskan untuk membaca Al-Qur’an dengan senyaman mungkin, tenang, kemudian diiringi dengan membaca terjemahannya, semampu/sebanyak mungkin dan yang paling penting adalah istimroriyah (berkesinambungan).

Saya sangat mendukung program ODOJ, karena terbukti juga turut memberikan motivasi kepada orang-orang untuk bisa akrab dengan Al-Qur’an. Saya juga ingin seperti orang-orang yang bisa mengkhatamkan Al-Qur’an dengan cepat. Namun jujur, keinginan untuk bisa memahami Al-Qur’an serta menghapal nya secara perlahan jaaauh lebih besar dan sering membuat saya sedih… Karena hampir 26 tahun hidup di dunia, belum satu kalipun saya khatam membaca terjemahan Al-Qur’an.

Nb: Terjemahan surat Al-Baqarah pada foto di atas, sangat matching sekali dengan kasus yang sedang viral belakangan ini (*kebakaran hutan, tentang penghinaan ‘goblok’ pada lelaki muslim yang berjenggot).

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

2 Responses to Semacam Perjuangan

  1. Hawa says:

    kk dulu jg gak mau gabung ODOJ ai.. krn mnrt kk gak mesti gabung ODOJ utk bisa ngaji sejuz sehari serta alasan seperti tulisan aini ini. tapi setelah kk pikir2 dan timbang2, akhirnya kk luluh juga… jadilah kk anggota ODOJ. alasan 1) tentang pahala, bahwa semakin banyak membaca huruf arabnya, semakin banyak pahalanya. karena Allah memberi ganjarannya perhuruf. sedangkan membaca terjemahnya, tak dikabarkan dengan jelas ganjaran pahalanya. 2) tentang amalan unggulan. mudah-mudahan dengan qira’ah sejuz sehari itu bisa jadi amalan unggulan nanti di yaumil akhir. sebab kabarnya, manusia akan memasuki pintu surga sesuai dengan amalan unggulannya. apakah tahajudnya, sedekahnya, puasanya, tilawahnya.. atau yang lain. 3) tentang ngaji “ngebut ngejar target” itu hanya bila ngajinya di akhir2 waktu. kalo ngaji di awal2 waktu tetap bisa kok dengan tetap memperhatikan panjang, pendek & tajwidnya. klo kk kira2 butuh waktu 45 menit-an lah… gpp tho, kan Allah kasih 24 jam sehari. 4) ada hadisnya:Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan sunnah Rasulullah saw. Hal ini tergambar dari hadits berikut: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, beliau berkata, “Wahai Rasulullah saw., berapa lama aku sebaiknya membaca Al-Qur’an?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam satu bulan.” Aku berkata lagi, “Sungguh aku mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.” Aku berkata lagi, “Aku masih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.” “Aku masih lebih mampu lebih dari itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari.” Aku menjawab, “Aku masih lebih mampu lagi, wahai Rasulullah.” Namun beliau tidak memberikan izin bagiku. (HR. Tirmidzi). 5) tentang baca terjemahan: malah setelah gabung di ODOJ, kk bisa khatam baca terjemah ai… soalnya aturan di klpk ODOJ kk, kalo lagi berhalangan sholat, maka baca terjemah Al-Qur’an sejuz sehari. 6) tentang silaturrahim… kawan2 ODOJ adalah keluarga yang ke sekian, yang selalu mengingatkan kebaikan, berbagi ilmu2 lain, sharing2 pengalaman.. pokoke seru… jadi, kalo menurut kk, gabung ODOJ ai.. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s