Dimensi~

Hallo WordPress!
Pukul 21:56 waktu Indonesia bagian Bukittinggi.
Ah planning ingin tidur lebih cepat (*dengan niatan ingin lebih pagi dari biasanya) sepertinya gagal lagi.
Mau gimana lagi… nyari 3 jam sebelum ini saya habiskan dengan berselancar dari satu blog ke blog yang lainnya, dan mau tidak mau mood menulis cukup terpompa karenanya.
Makanya, sebelum memasuki alam bawah sadar, saya sempatkan untuk membuka aplikasi WordPress dari play store (*ya… karena satu dan lain hal, saya musti buka dari playstore lagi…ckckck..)

Besok sudah Senin lagi. Kenapa perjalanan waktu dari Senin ke Senin terasa begitu cepat akhir-akhir ini?
Apakah ini side effect kebanyakan lembur di kantor?
Yang jelas perputaran waktu yang significant kecepatannya ini cukup membuat saya gusar. Ini sudah memasuki 11 Oktober, dalam hitungan bulan, kita akan memasuki tahun 2016. Ah, saya benci jika harus membiasakan diri lagi untuk menulis tahun dengan angka yang baru, saya hanya tidak nyaman dengan sebuah fase ‘menuju keterbiasaan ini’. Hmm…

Pekan ini saya tidak pulang kampung, mendapat amanah untuk mewakili kampus untuk menghadiri acara pernikahan salah seorang dokter RS sebelah yang juga sekaligus dosen di kampus kami di Kota Padang.

Errrrrr… kenapa harus Nuraini?? Semuanya juga tahu kalau akhir pekan adalah jadwal pulang kampung nasional bagi mereka yang merantau antar kota dalam Provinsi (*seperti saya). Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah: because you’re the only one single lady, the eternal youngest one, yang tidak perlu mengurusi suami, anak-anak di akhir pekan.

Ah, saya benci dengan alasan klise seperti ini, namun juga tidak mampu menolak secara sarkas sesuai hati nurani. Rasa kasihan dengan para ibu rumah tangga yang merangkap sebagai wanita karir cukup mendominasi. Saya khawatir anak-anak mereka kekurangan quality time dengan orang tuanya (*peduli).

Saya paham betul bagaimana rasanya ditinggal orang tua. Mama memang bukan wanita karir, tapi saya sudah pernah hidup terpisah dari kedua orang tua dalam waktu yang cukup lama karena dititip untuk dirawat nenek semenjak usia 7 tahun. Beberapa tahun kemudian Mama menyusul pindah ke kampung, tetapi Papa harus bersuka hati hidup terpisah dari kami, long distance family selama berbelas-belas tahun. Kami hanya bertemu selama 3 atau 4 hari dalam sebulan. Apalagi ketika saya kuliah, kita nyaris hanya bersua setiap lebaran atau libur nasional di hari kerja. Sampai saat ini.

Oleh sebab itu, saya selalu menaikkan level toleransi terhadap rekan kerja jika sudah memasuki area per-anak-an. Seperti sejawat yang membawa batitanya ikut lembur karena tidak ada yang mengasuh si rumah (*yang ujung-ujungnya saya tidak konsentrasi lembur karena keasyikan main dengan si bayi), atau ibu-ibu dosen di tim saya yang izin pulang cepat karna anaknya sakit, atau mendadak mengantar sejawat ke sekolah anak nya dulu padahal sebelum kami cuma janjian bareng ke Rumah Sakit untuk membimbing mahasiswa… Saya melihat bahwa anak bagi mereka di sini adalah prioritas, dan saya sepakat serta menghormati setiap excuses yang berkaitan dengan anak.

Sampai dengan mahasiswa-mahasiswa saya sendiri yang sudah punya anak, yaa… mahasiswa saya sudah banyak yang berkeluarga dan memiliki anak, terutama mahasiswa program khusus yang notabene sudah pada IRT dengan anak-anak yang beranjak dewasa *tolong jangan bully saya tentang perkara menikah lagi!! I knew that so well!!! Muhehehehe….
Kami memberi toleransi pada mahasiswi yang ketika itu baru memiliki bayi untuk hanya dinas pagi saja (normalnya mahasiswa ketika praktek harus bergantian shift dinas pagi, sore, dan malam) karena anaknya butuh perawatan, butuh ASI, dan terutama sekali karena mereka butuh untuk memiliki waktu khusus bersama anak, karena tidak hanya anak yang menderita, si Ibu pun juga jauh lebih menderita jika berlama-lama tidak bertemu anaknya. Mahasiswi tersebut bahkan membawa si bayi ke daerah manapun dia harus praktek. Ckckckc…. salut… ini cukup mempengaruhi penilaian yang saya berikan kepada mereka, ibu-ibu muda yang menuntut ilmu kembali.

Tentang mahasiswa Progsus, saya punya pengalaman lucu kemaren.
Jadi, meski usia saya terbilang muda (*jauh lebih muda) ketimbang mahasiswa Program Khusus, dan saya benar-benar terlihat sangat menjaga kesopanan antar level umur, batasan dan area dosen-mahasiswa demi kelancaran aktivitas bimbingan. Saya memanggil mereka dengan “uni” atau “ibuk” dan mereka juga konsisten memanggil saya “Buk Aini”, namun kepada seorang mahasiswi Program Khusus yang terlihat sangat muda, begitu luwes berkomunikasi layaknya mahasiswa program reguler, bahkan ia memanggil nama sendiri sebagai kata ganti orang pertama tunggal (*hadeeu…. bahasa gue -..-).

Demi mendapati mahasiswa yang seperti itu, saya jadinya ikut terbawa susana… jadinya hanya ‘memanggil nama selama berinteraksi’. Tampak tidak sopan memang, tapi saya masa bodo karena sepertinya dia nyaman, dan saya juga nyaman. Lagian anaknya terlihat masih muda… mungkin usia kami tidak terpaut jauh. Saya benar-benar mendalami peran sebagai dosen pembimbing ketika berinteraksi, kepercayaan diri saya menguat demi mendapati fakta sesaat mahasiswa di depan saya tidaklah seperti mahasiswa Progsus lainnya yang kaya akan pengalaman. Saya benar-benar menjaga keeleganan sebagai pembimbing dengan sok-sok menjaga wibawa. Kepada mahasiswa lain, saya sedikit ‘menjaga’ setiap kata per kata yang akan saya ucapkan dengan harapan mereka tidak nelabeli saya dengan “paja ketek kagadang-gadangan”.

Sampai akhirnya telepon genggam si mahasiswa (*sebut saja namaya XYZ) berbunyi, namun ia tetap mengabaikannya. Ah, mahasiswa yang sopan pasti tau persis bahwa tidak ada dosen yang suka kalau pembicaraannya dipotong demi si mahasiswa yang ingin mengangkat telepon (*saat itu kami hanya berdua di kantor melaksanakan aktivitas bimbingan laporan klinik). Telepon terus berdering, lagi dan lagi… Saya mulai kesal karena dia mulai tidak fokus.

“Maaf buk, boleh XYZ angkat teleponnya dulu buk? Sepertinya penting…”

“Fiuf… ya sudah… angkat aja dulu”

“Hallo assalamualaikum….”

Haha…. si XYZ mengangkat teleponnya di depan saya terus saya dianggurin gitu? Saya pikir dia mau keluar ruangan dulu sebentar.

“Iya nak… Mama lagi konsul dengan dosen, nanti ditelpon lagi ya…”

*jleb!

Mama??

Itu yang nelepon anaknya?

Batita mana yang bisa menelepon emaknya?

Atau balita mana yang bisa dikasih pengertian kalau emaknya lagi “konsul dengan dosen”???

Sampai di sini bathin saya bergejolak seperti bunyi piring yang dijatohin ke lantai…. ‘kpyaaaaaaarrrrrr’….

“Maaf buk, ini anak gadis XYZ yang nelepon, dia ganti nomer, makanya dari tadi XYZ gak angkat. Dia nanyain kapan pulang… Soalnya XYZ sudah ada janji dengan dia”

“Errr…. oh ya? I…i..itu anaknya kelas berapa?”, saya tidak tahan lagi untuk tidak kepo.

“Hehehe…. Baru kelas Lima SD buk….”

Apaaaaaaaah….. Dia bilang baru kelas Lima SD?… *zoom in zoom out*

Kali ini seperti ada suara tepuk tangan ramai dan suitan panjang seperti menyoraki pemain bola yang gagal mencetak gol di dalam hati saya.

Bwahahahhahaha….

*saya cuma bisa nyengir kaku*

Maka bimbingan yang seharusnya alot dan panjang serta coretan sana-sini di laporan si XYZ karena begitu banyaknya kesalahan, terpaksa saya ringkas.

Batin saya belum siap menerima kenyataan XYZ yang bersikap imut serta ‘friendly’, bahkan saya dengan beraninya hanya memanggil namanya tanpa embel-embel “uni” atau “ibuk” seperti kepada mahasiswa progsus lainnya, ternyata sudah memiliki anak yang sebentar lagi beranjak ABG.
Sepertinya saya harus kembali mendalami pepatah ‘do not judge a book by it’s cover’.
Ya salaaaam… hahahah…. Kewibawaan dan image yang saya bangun selama ini di depan XYZ langsung hancur berderai-derai.

Ya! Apapun profesimu wahai wanita, tetap saja tittle sebagai IBU itu lebih tinggi derajatnya, bahkan dibanding seorang professor maupun presiden sekalipun.

Saya merasa kalah pamor dibanding XYZ. Untuk itu, saya mempercepat waktu bimbingan dengan harapan XYZ bisa segera memenuhi janjinya dengan si anak.

“Perbaiki aja dulu ini laporannya. Besok kita lanjutkan lagi. Salam buat anaknya ya…”,

“Iya buk…. terimakasih ya buk”

What a life…

“Buk Aini, ini ada undangan dari mahasiswa semester V”, seorang dosen Bahasa Inggris masuk sambil melambaikan selembar undangan.

“Undangan apaan?”

“Ya undangan pernikahan lah… undangan apa lagi??”

*jleb*

Shock terapi kedua di hari yang sama.

image

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s