As(z)ap

image

Hari ini saya kembali ke rumah setelah 2 minggu merantau jarak dekat ke kota sebelah.
Pekerjaan akhirnya membuat saya harus berangkat 45 menit sebelum matahari terbenam.

Jalanan tidak ramai seperti weekend biasanya. Kabut asap membuat orang-orang enggan untuk bermain di luar rumah, ya itu lebih bagus.

Jarak pandang sejak seminggu yang lalu semakin dekat, bahkan saya tak bisa melihat adanya jalan berlubang yang sedang diperbaiki. Kacamata tak lagi membantu, bahkan malah membuat embun di mata karena nafas yang dikeluarkan melewati masker dan malah mendarat di kaca mata.

Semuanya semakin mem-blur, sementara matahari yang sejak beberapa bulan lalu mengintip dengan cahaya ke-oren-an yang bahkan bisa kita lihat secara langsung tanpa harus merasa kesilauan, tak banyak membantu di senja itu.

Memasuki kampung halaman.
Semuanya semakin tambah menyeramkan.
Saya seperti sedang memasuki pigura dengan foto lama yang semuanya hitam putih dan kelabu. Listrik yang dipadamkan secara bergilir menambah suram pemandangan.
Ternyata 50 Kota telah mencapai batas dimana kabut asapnya telah menyentuh skala bahaya. Benar-benar merasa sedang berkelana di negeri awan. Namun bukan seperti negeri awan yang saya harapkan.

๐Ÿ˜ฆ

Sesampainya di rumah, ketika motor dimatikan, saya tidak bisa melihat apapun๐Ÿ˜ฅ matahari sudah lama terbenam, listrik padam, tidak ada bebinta dan bulan yang menyinari, dan kabut asap yang menebal di sekitar. Saya meraba-raba untuk mengambil tas tenteng yang tergantung di motor, kemudian berjalan perlahan menuju pintu rumah.

“50 Kota sekarang sudah dalam level bahaya Ni, kita cukup tidak beruntung, karena menurut berita arah angin tengah bergerak menuju kawasan kita” terang Ama.

Ya Allah….
Kali ini saya benar-benar terdiam dengan perasaan sedih yang berkecamuk.

Selama ini, ketika mendengar berita kabut asap di provinsi sebelah, kami berada pada posisi empati dan turut berduka. Namun saat ini, kami pun ikut merasakan sebagai seorang yang tengah ditimpa bencana.

Kami sudah sering mendapatkan asap kiriman, bahkan ketika SD dahulu, saya ingat pernah diliburkan sekolah karena kabut asap. Tapi keadaan buruk itu hanya berlangsung selama 3 hari. Sampai saya tidak pernah ingat kapan kabut asap pernah melanda Sumbar lagi sampai beberapa tahun yang lalu tren kabut ini kembali mencekam namun hanya 1 atai 2 minggu.

Tahun 2015 tampaknya hendak memgang rekor terlama bencana asap. Ini sudah memasuki bulan ketiga semenjak kita hanya melihat warna langit yang sama: putih keabu-abuan.
Ya… Kita semua merindukan langit dengan pola lukisan putih birunya yang mempesona.
Kita mulai sangat-sangat merindukan.
Kemudian perlahan kita juga mulai merasakan ketidaknyamanan karena kekurangan Oksigen. Ya! Kita sedang berada pada tahapan dimana udara yang kita hirup tak lagi menyediakan kapasitas Oksigen yang cukup.
Saat ini mungkin kita tidak mengetahui seberapa banyak partikel debu yang hinggap di saluran pernafasan dalam kita, mungkin akan ada tahapan dimana bahkan kita tak mampu menarik nafas dengan lega, selega biasanya.

Sampai di sini, menyesali dan mengutuk para pelaku pembakaran hutan maupun Pemerintah yang gagap dalam penanganan cepat bencana asap tak lagi menjadi prioritas.
Melihat kinerja dan ketidakseriusan para pemimpin negeri perlahan menimbulkan sikap apatis yang membuat saya menyerah untuk berharap kepada mereka (*ternyata mereka hanya manusia biasa yang kemudian mendapatkan amanah, namun begitu banyak sekali kekurangan yang mereka punya untuk mengemban tanggung jawab).

Lalu kepada siapa?
Jika presiden saja tak mampu menanganinya, maka mari meminta kepada si pemilik presiden.
Siapa lagi?
Jika bukan kepada yang Maha Menciptakan manusia.
Mungkin ini bencana, mungkin ini ujian, mungkin ini azab.
Namun ini bukan kesalahan semua manusia!
Bahkan kita, kamu, saya tak memiliki andil sebesar buji bayam pun!

Namun bisa jadi Allah tengah menegur dan mengingatkan kita tentang banyak hal melalui bencana asap ini.

Tentang begitu banyak hal kecil dan besar yang lupa kita syukuri,
Tentang empati dan ikut merasakan kesulitan saudara sendiri,
Tentang gotong royong menangangi permasalahan,
Tentang saling bahu membahu dalam memberikan bantuan,
Tentang doa yang dikirim secara berjamaah,
Tentang ketaatan….
Tentang kesabaran….
Atau mungkin Allah sedang mempertontonkan kepada kita semua tentang siapa yang benar-benar baik, siapa yang berpura-pura baik, atau siapa yang hanya seolah-olah bijak dan pandai dalam menangani permasalahan negara…

Banyak hal…

Ada banyak hal yang bisa kita peroleh
Dari sebuah sentilan kecil bernama bencana kabut as(z)a(b).

image

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s