‘Maha’siswa

Hari ini tetiba saya mendapatkan telefon dari salah seorang clinical instructure dari RS. Melaporkan bahwasanya mahasiswa saya harus mengganti beberapa kotak handscoen dan masker untuk ruangan tempat si mahasiswa berdinas beberapa minggu yang lalu.

Awalnya saya tidak terlalu ngeh dengan denda yang dimaksudkan, meski CI sudah menjelaskan latar belakang dari si mahasiswa dikenakan denda, saya fikir cukup wajar mahasiswa didenda. Namun permintaannya cukup banyak, beberapa kotak! Terbilang mahal jika dibandingkan dengan isi kantong mahasiswa.

Maka sayapun dengan berat hati memanggil mahasiswa yang bersangkutan. Berat karena saya merasa ada something wrong dengan denda ini. Apalagi mengingat mahasiswa yang dikenakan denda cukup terkenal dengan tabiat buruk yang dimilikinya. Baru masuk ruangan saja, tingkahnya sudah mulai tidak mengenakkan. Menghadap menanyakan ada apa sambil memainkan tablet di tangannya. Ah, saya baru sadar betapa ngenes perasaan lawan bicara jika kita berkomunikasi tanpa memperhatikan si lawan bicara.

Saya mempersilahkan dia duduk, dan dengan gelagat bossy nya, diapun duduk di kursi yang saya tunjuk, masih dengan tabletnya. Jelas terlihat dia tidak suka dengan topik yang akan saya bicarakan. Melihat ini semua, saya seperti… ah… I see… got it…! Tidak mungkin CI yang saya kenal cukup baik ramah serta perhatian terhadap mahasiswa memberikan denda sebanyak itu tanpa ada faktor predisposisinya. Etika! Si mahasiswa pasti kena di permasalahan sikap dan etika, melihat tingkahnya di depan saya saat ini.

Saya menjelaskan apa yang disampaikan CI dan meminta konfirmasi dari mahasiswa tentang kejadian perkaranya, dan mereka pun menjelaskan dengan penuh menggebu-gebu.

“Kami hanya menghabiskan beberapa buah, masa harus mengganti sekian banyak buk, itu namanya pemerasan!”.

Astagfirullah…
Saya tidak menyangka kalimat-kalimat yang akan dikeluarkan oleh si mahasiswa akan sepedas dan seberani itu. Seumur hidup menjadi mahasiswa, jangankan mengatakan hal-hal menantang seperti itu, menjawab kalimat dosen saja rasanya tidak berani.

Maka untuk pertama kalinya, saya benar-benar ingin mengeluarkan jurus gedanbarai terhadap mahasiswa saya sendiri karena ketidaksopanan mereka. Saya tidak tahu persis seperti apa ceritanya, namun melihat tingkah mahasiswa yang dengan lantang menolak, saya melihat semacam ada kelabilan emosi yang berujung pada ledakan tidak terkontrol pada mereka. Saya pernah menjadi mahasiswa, dan tau persis jika memang letak kesalahpahaman bersumber dari si mahasiswa atau berawal dari ke-rese’an CI. Namun kali ini, rasanya tidak ingin membela mahasiswa sendiri karena sudah terlihat secara jelas siapa terdakwa disini.

Saya tidak suka mengeluarkan nada suara yang tinggi, pun tidak suka memarahi anak orang lain yang tidak memiliki pertalian darah apapun dengan saya. Jikapun marah, saya sama sekali tidak membawa perasaan, hanya sekedarnya, sebagai prasyarat untuk mendisiplinkan mahasiswa. Namun kali ini, di hadapan Ketua dan koordinator profesi, akhirnya saya benar-benar meninggikan suara… tidak meledak-ledak, namun cukup menguras emosi, penuh penekanan, dan sukses merusak mood sepanjang hari itu.

Malam ini, akhirnya saya mendapatkan cerita sesungguhnya dari curhatan CI, tentang apa yang melatarbelakangi hukuman denda tersebut. Maka benarlah asumsi awal saya bahwasanya masalah etika dan cara berkomunikasilah pangkal balanya. CI tidak akan memberikan hukuman, jika saja si mahasiswa memiliki etika dan cara berkomunikasi yang bagus.

Tetiba saya merasa miris.
Saya merasa bertanggungjawab dan merasa bersalah terhadap CI di lapangan.

“Nak, kamu tau? Lidah itu tidak bertulang. Saking tidak bertulangnya, ia terlalu lentur untuk bergerak sekehendak hati si empunya untuk mengucapkan kata-kata yang tidak disukai orang lain. Gara-gara lidahlah hubungan ukhuwah manusia bisa putus, cinta berubah menjadi benci, suka menjadi sakit hati, bahagia menjadi duka, bahkan sebuah negara bisa pecah dan amburadul karenanya. Begitu hebat peran si lidah… Saking hebatnya, kamu bisa mengontrol orang lain sesuka hatimu, yaaa in case kamu bisa memainkan lidahmu secara cerdas. Tapi ingatlah, karena lidah… kamu juga bisa terperosok ke dalam lembah keburukan, dalam nasib yang kamu bilang tak baik. Makanya Allah memerintahkan kita untuk menjaga lidah, memberikan 1 lidah 2 telinga agar kamu bisa lebih banyak diam dan mendengarkan”.

“Nak, kamu adalah seorang mahasiswa. Ada embel-embel ‘Maha’ di depan statusmu. Dengan begitu, ada tanggungjawab yang harus kamu pikul, tanggung jawab untuk mau berproses dan belajar. Nak, pelajaran yang kamu dapatkan saat ini, mungkin memang tak sesuai dengan keinginan dan hati nuranimu. Kamu ingin memberontak dan keluar dari proses. Kamu menolak perlakuan yang ditetapkan seorang guru kepadamu. Tapi tahukah kamu? Tidak ada guru yang ingin membodoh-bodohi muridnya. Semua proses yang mereka berikan kepadamu, merupakan suatu hasil dari pemikiran mereka yang telah melalui banyak hal dalam kehidupan, kehidupan yang mungkin beberapa bilangan waktu lebih lama darimu. Bukan hanya ilmu seperti di dalam text book kita, namun juga beragam hal yang pasti akan kamu butuhkan dalam mengarungi kehidupan ini kelak”.

“Nak, sekolah itu bukan hanya untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teori. Tetapi bagaimana belajar menjadi seorang manusia yang semestinya, seperti tuntunan Tuhan. Kamu juga dituntut untuk berproses agar menjadi manusia yang beretika, bertanggungjawab, serta cerdas secara emosional. Ketika kamu menolak untuk mengikuti proses yang diberikan oleh pembimbingmu, maka sesungguhnya tidak hal lain yang dapat kami lakukan selain melepaskanmu untuk menerima konsekwensinya. Percayalah, tidak akan ada proses yang tidak membuahkan hasil. Dan maaf, proses itu tidak selalu sesuai dengan dugaanmu, tidak selalu indah dan menyenangkan seperti yang kamu harapkan. Tapi yakinlah semuanya itu dilakukan dengan tujuan dan maksud yang baik, sesuatu yang akan berguna bagimu kelak”.

“Maka dari itu, penting untuk kamu ketahui… berani bertanggungjawab atas kelancanganmu menyakiti hati gurumu, juga merupakan suatu proses bagimu agar menjadi manusia yang cerdas. Ikutilah apa yang mereka katakan. Dalam menuntut ilmu, kita harus melepaskan segala ego dan ketinggian hati kita. Tidak akan ada ilmu yang diserap jika hati dan pemikiranmu hanya dipenuhi oleh super ego yang mendominasi. Bersihkan hatimu dengan mejalani semuanya ini dengan penuh keikhlasan. Jika kamu memiliki kendala dan keinginan, maka sampaikanlah dengan bahasa yang baik, kalimat-kalimat santun yang menyejukkan karena kamu ada ‘Maha’siswa…. seseorang yang bahkan presiden merasa takut kepadanya”.

image

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s