Keramah-tamahan

Salah satu manusia yang membuat saya iri di muka bumi ini adalah mereka yang bisa langsung mengakrabkan diri dengan orang asing hanya dalam waktu singkat, dan mereka yang mau bersikap manis, penuh sopan santun, memperlakukan orang yang baru dikenal dengan sangat baik.

Ya, saya ingin sekali memiliki keahlian seperti itu. Keahlian untuk mau merelakan diri bermanis-manis ria terhadap orang baru. Bukannya tidak pernah melakukan hal tersebut, namun ketika saya memutuskan untuk menjadi sangat baik terhadap orang lain, berarti saya harus memaksa diri sendiri serta memforsir tenaga dalam(?) untuk bersikap manis. Biasanya ini akan refleks terjadi ketika saya sedang berada dalam kondisi yang baik untuk melakukannya. Namun sialnya, kadang negative mood membuat saya kadang bersikap apatis terhadap lingkungan.

Seperti kejadian di bus hari ini. Dalam perjalanan pulang ke rumah, seperti biasa saya menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik sepanjang perjalanan sembari mencoba untuk tertidur nyenyak.
Saya sama sekali tidak berniat untuk membangun percakapan dengan penumpang lain meskipun saya tahu ibu-ibu yang duduk di bangku sebelah merupakan ngobrolable type person. Namun jika tidak ditanya-tanya, saya enggan ngobrol. Begitu biasanya… perjalanan yang itu-itu juga membuat saya bosan dan lebih memilih menyumpal telinga dengan headset sembari menghayalkan apa saja sampai sesekali tertidur.

Sampai akhirnya perjalanan tidak lama lahi berakhir. Penumpang sebagian besar sudah turun. Hanya ada 5 orang penumpang tertinggal di dalam bus tersebut. Dan saya yang duduk paling belakang di antara semua penumpang hanya bisa terkesima menyaksikan keakraban semua penumpang (*kecuali saya), dan bahkan si bapak sopir ilut ngobrol dan tertawa bersama yang lainnya.

Sedikit saya deskripsikan, penumpang pertama adalah seorang wanita muda yang sepertinya sudah bekerja, duduk di bangku deretan kedua di belakang sopir, tampak mengobrol akrab dengan wanita muda lainnya yang duduk paling depan di samping sopir. Mereka terlihat akrab, saling menceritakan pengalaman bekerja dan aktivitas yang sedang digeluti saat ini. Jelas mereka terlihat seperti teman akrab yang kebetulan bertemu di bus.

Di samping wanita pertama, duduk seorang nenek-nenek dengan barang bawaannya yang cukup besar, duduk berdiam diri. Namun dengan penuh kesopanan, keakraban, sikap yang manis, wanita pertama menyapa si nenek,”Dima nenek turun?? Hari hujan nek… lai ado nenek bawo payuang?”… ujarnya sembari membangun kontak mata, memgang sebelah tangan si nenek. Jelas wanita muda idaman semua mertua!

Si nenek karena sudah disapa dengan begitu lembut dan manis dengan mudah berbaur dalam obrolan si wanita muda pertama.

Kemudian, seorang pria berusia 40 tahunan lebih, yang merupakan penumpang terakhir naik, duduk di sebelah si nenek, masih sebaris dengan si wanita muda.
Tak ketinggalan, Bapak-bapak tersebut juga tidak luput dari keramah-tamahan si wanita muda. Dengan bahasa ‘kampuang’ kami yang sangat kental dan akrab, wanita muda juga dengan mudahnya membangun percakpan dengan si bapak. Mulai dari pertanyaan basa-basi dimana turun sampai percakalan umum seperti “Om, apo namo batu cincin om itu tuh? Kini lah ndak tren ajo batu cincin koh ndak om”…

Ah… saya yang masih setengah tidur, terkantuk-kantuk di bangku belakang dengan headset yang masih terpasang cuma bisa memperbaiki duduk sembari merapatkan jaket dari kedinginan malam.

Saya betul-betul iri dengan si wanita muda yang begitu ramah, sopan, manis, dan lembut dalam bersikap. Dia tampak alamiah, tidak dibuat-buat. Sepertinya sikap itu mengalir begitu saja tanpa harus si wanita muda bersusah payah mengeluarkan tenaga dalam untuk beramah tamah seperti yang saya lakukan.

Hahaha…
Memang di dalam perjalanan, saya lebih memilih untuk fokus dalam dunia saya sendiri. Enggan membangun interaksi dengan penumpang sekitar kecuali orang-orang yang memang sudah akrab. Saya lebih memilih mendengarkan musik dari Hp sendiri, kemudian melemparkan pandangan jauh ke luar jendela bus sembari memperhatikan aktivitas orang-orang yang saya lihat.

Kadang, saya merasa kepribadian yang tidak ramah ini membuat saya terlihat sombong di mata orang-orang baru. Padahal kalau memang lagi mood atau benar-benar niat, saya bisa saja bersikap over terhadap orang lain. Tapi lagi-lagi, basa basi busuk merupakan hal yang sangat saya benci. Hal-hal semacam mengobral perkataan dengan maksud mendapatkan perhatian dari orang lain…. ah…. it does not sound like my true self.

Kecuali jika kamu menempatkan konsep ramah sebagai niat untuk berbuat kebaikan kepada orang lain, tentu ini lain cerita.πŸ™‚

image

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s