Kontemplasi Langit

“Besok, hari Minggu, kita lembur lagi… Mempersiapkan segala sesuatu yang sekiranya dibutuhkan menjelang hari H”

Informasi super menyebalkan itu, kenapa cepat sekali menyebar ke seluruh penjuru kantor? Very predictable actually… Tapi, pekerjaan ini, semakin dikerjakan, semakin terlihat kekurangannya! Ah… apa-apaan ini!!

Ini Minggu ketiga, dimana tidak ada kata liburan di dalamnya. Hari yang cuma 7 itu, keseluruhannya dipakai untuk bekerja! Berangkat di pagi pukul 7.30, dan kembali ke rumah pukul 18.00… bahkan di 3 hari terakhir, kami masih berada di kantor meski azan maghrib sudah mengumandang. Pernah pula akhirnya kita ‘dipaksa’ pulang pukul 10.00 malam. What a life!!

Sehingga tak ayal, kelelahan dan beban kerja yang menumpuk nyaris membuat over dosis. Rasa muak merajalela. Jenuh…

Ada sedikit rasa iri melihat up-date-an teman-teman yang malang melintang kesana kemari untuk plesiran.

“Hamba ingin liburan ya Allah…. Menikmati perjalanan dari satu daerah ke daerah lainnya. Melihat tempat-tempat yang indah. Bertemu dengan orang-orang baru nan menyenangkan…”
Aku memejamkan mata lelah sembari menghela nafas, sedikit mengurangi kelelahan.
“Ah, nikmati saja masa-masa ini! Kelak kamu akan memetik hasilnya” Bisik logika.
“Hidup macam apa ini! Kamu mau menghabiskan sepanjang usiamu hanya untuk mengurusi hal-hal seperti ini???!!!?? Jenuh dan membosakan” Bisik hati nurani.

Aku kembali membuka mata, menyadari suasana mulai gelap dan sepi. Mungkin sudah saatnya pulang. Perlahan, kukemas barang-barang di dalam ransel kokoh yang semakin memberat. Perjalanan pulang yang sama… dimana hati dan fikiranmu hanya diisi dengan rencana mandi dan tidur.

Namun, pemandangan kali ini beda. Sedikit istimewa, langit yang bersih dan jernih membiru di siang tadi, ternyata menyisakan mega keorenan yang tak kalah indah di senja ini. Ah, sudah berapa lama aku mengabaikan langit?? Apakah betul kepalaku sudah dipenuhi dengan berbaris-baris pekerjaan? Sudah lupakah aku bagaimana memanjakan diri dengan sederhana? Ya… sesederhana menikmati langit dengan keindahannya istimewa.

Ah, Tuhan… benarkah Engkau berada di balik langit itu? I mean, mereka selalu mengatakan terhubung ke langit adalah sesuatu yang spesial karena Engkau bertahta di sana, di tempat yang bahkan tak pernah bisa kami bayangkan.

Dan… benar saja, bahkan hanya dengan menengadahkan kepala sembari sejenak berdiam diri, berfikiri, bermuhasabah, semacam ada kenyamanan yang muncul.

Dear Rabb, benarkah selama ini aku lupa untuk dan demi apa aku melakukan semua ini?
Mungkin karena itu… aku menjadi manusia tak sabar, yang jarang bersyukur.

πŸ˜₯

image

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to Kontemplasi Langit

  1. Well said! adakalanya kesibukan menjauhkan dr apa2 yang seharusnya disyukuri.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s