W h y

HDR, the feeling of ,”Kamiii ko apolah….”, secara situasional bisa saja menyerang manusia kapanpun.

Bagaimana menjangkitnya? Bisa dengan beragam rupa dan cara, bahkan hanya dengan membaca status seorang teman yang meluapkan rasa bahagianya di social media, karena desas desus dan omongan orang lain, atau karena sifat manusia yang sering tidak berpuas diri dengan pencapaian yang didapatkannya.

Pencapaian?
Ya…
Manusia sering dan cenderung membanding-bandingkan pencapaian seseorang dengan orang lain.

A best friend of mine said:

Kita tidak bisa membandingkan pencapaian org lain dgn pencapaian diri kita. Kita tidak bisa mengatakan seseorang itu “kurang berusaha” atau “bernasib buruk” hanya karena kita diberikan kemudahan…

Dan begitupun sebaliknya, kita tidak boleh mengatakan kita “bernasib buruk” hanya karena jalan yang diberikan kepada kita bukan jalan yang mudah.

Ya… aku pernah dengar ustad bilang begini: tidak ada yg bernasib baik atau buruk, lebih beruntung atau tidak. Seperti apa rezeki mereka, itulah untuk mereka, yang sudah Allah tetapkan jauh di lauh mahfuz. Seorang yang miskin bukan berarti lebih tidak beruntung dari orang kaya.

“I’m not married yet, I failed in scholarship twice, and for jackpot, I am unemployed for almost 2 years. What would you call me? ‘The most pathetict creature in the universe with no luck at all?’ ”

Ketika ada seseorang yang mengatakan pencapaian dia adalah hal yang mudah, berarti nilai kebahagiaan yang dia dapat dari pencapaian itu terlalu kecil, sampai-sampai dia lupa bersyukur.

Nilai A yang kita dapat dari hasil belajar dengan nilai A yang kita dapat dengan tidak belajar, nilai kepuasannya akan berbeda. Dan derajat kesyukuran kita akan berbeda.

Fiuf…
Sepertinya sudah terang di sini. Kenapa merasa HDR karena pencapaian diri yang terlihat tidak semaksimal pencapaian orang lain bukanlah sesuatu yang baik.

Dear self, jangan takut… jangan bersedih… bersyukur untuk kehidupanmu, lakukan hal-hal baik yang Allah sukai. Berusahalah jika kamu memang menginginkan sesuatu, namun jangan jadikan ‘hasil pencapaian’mu sebagai tolak ukur kebahagiaan.

Kamu berhak untuk bahagia. Kamu sendirilah si pengambil keputusan tertinggi tentang kebahagiaanmu.

image

Ingat… Allah tahu apa yang terbaik untukmu.
🙂

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to W h y

  1. Nasib dan rejeki seseorang memang tidak pernah sama, yang penting jangan lupa untuk bahagia. Gitu sih katanya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s