Just Stop it…

Pada suatu ketika, saya bertemu dengan seorang kawan lama, seorang kenalan ketika Sekolah Dasar. Kami berteman baik dan kemudian sama sekali putus komunikasi semenjak ia memutuskan meneruskan pendidikan menengah pertama di Pulau Jawa, sampai akhirnya social media kembali menghubungkan kita.

Kami akhirnya secara tidak sengaja bertemu kembali di sebuah acara seorang teman lama lainnya. Selayaknya teman baik yang sudah lama tidak bertemu, kami bercerita banyak. Ngalor-ngidul mulai dari pengalaman kuliah, pengalaman dia yang sudah melanglang buana ke banyak negara, sampai ke fase pembicaraan,”Eh, kenal kakak itu gak? Gimana kabar beliau sekarang?” Pertanyaan dasar pelengkap bumbu cerita, namun pada akhirnya sama sekali saya sesali, karena tanpa diminta, si teman lama mulai mendeskripsikan kehidupan si kakak secara sangat detail, mulai dari kehidupan pekerjaan sampai masalah romantisme perkara gebetannya, LDR-annya dengan sesaman kenalan kami yang lain, Hubungan tanpa statusnya. Aah… saya seperti sedang membaca sebuah drama fiksi yang entah kenapa tidak saya sukai. Saya benar-benar tidak tertarik dan tidak ingin tahu sampai point tersebut. Namun apa daya, si teman dengan sangat nyamannya menceritakannya. Saya merasa menyesal karena pertanyaan dasar yang saya ajukan di awal terkesan kepo.

Beberapa bulan kemudian, saya juga kembali terhubung dengan si ‘kakak’ yang pernah kami bahas, melalui sosial media, baik itu BBM, path, WA… dan setiap beliau meng-up date status di BBM/path (*yang mau tak mau akan terlihat dan saya baca), dan secara otomatis otak saya akan menghubungkan dengan kisah yang pernah si teman lama sampaikan. “Oo… mungkin kakak ini lagi konflik sama gebetannya”, “Oo… mungkin mereka putus, karena si cowok tidak memberikan kejelasan hubungan”…

Otak saya selalu menerka-nerka, menterjemahkan sendiri apa yang ia tulis, merangkai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi terkait kondisi si kakak. Semuanya terjadi seperti sudah ada default-setting dalam pemikiran saya untuk melakukan hal tersebut.

Dan jujur, saya benci melakukan itu.
Saya tidak senang dengan bakat alamiah “meng-kepo” yang saya miliki. Saya tidak suka ikut campur dalam urusan pribadi orang lain tanpa diminta. Dan saat ini, entah kenapa informasi-informasi tidak penting dan seharusnya tidak saya ketahui justru sering saya dapatkan tanpa sengaja dari timeline BBM dan path.

Saking frustasinya, saya akhirnya mendelete beberapa orang teman dekat yang terlalu mengumbar kehidupan pribadinya di BBM, meskipun dia seorang kawan dekat sekalipun, saya tidak senang membaca status-status galaunya. Saking tidak nyamannya, saya langsung private message,”Kamu kenapa??” Dengan maksud tujuan agar dia mengerti bahwa saya siap mendengarkan kisah sedih, pilu nya secara lengkap *jika dia memang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, eh dianya malah cengengesan ,”Gak ada apa-apa kok..hehehe”.

Hello… I really know you’re in trouble! Dan jika tidak ingin dikepo orang, just stop it! Hentikan membuat orang bertanya-tanya dan berasumsi.

Pada akhirnya, saya mendelete si teman.

Kasus lain, seorang teman lelaki yang sering ganti Display Picture, foto nyaris alay, kadang dengan pacar, kadang dengan wanita entah mana, mereka begitu dekat *dekat dalam artian, jarak di dalam photo*… saya tidak nyaman, saya langsung private message menanyakan dan protes, dia masih sering gonta-ganti photo yang membuat mata saya sakit, akhirnya… i removed him from my friend list even he is a really closed friend in senior high school.

Karena hal-hal seperti ini, ada beberapa waktu yang membuat saya merasa frustasi dan berniat menghapus saja BBM, deactive path… facebook? Alhamdulillah gak banyak lagi teman dekat yg curhat di sana, banyaknya share-share berita yang kadang aktual kadang hoax aja.

Back to topic, what i want to say is… dear teman-teman baik dan dekat (*kalau orang yang gak saya kenal secara pribadi mah bodoh amat), jika tidak ingin dikepo, distalking, ditanya-tanyai, maka STOP membuat status-status yang pada akhirnya menjadikan orang-orang sebagai stalker tukang kepo, yang membuat orang-orang berasumsi, kemudian menaroh rasa kasihan padamu. Jika ingin mencari teman curhat, pilihlah seorang teman yang kamu percaya. Jika kamu memang benar-benar ingin mendapatkan perhatian khalayak ramai, buat postingannya secara rinci dan jelas! posting di note facebook atau blog! *emosi*

Fiuf…
Saya sudah pernah membahas ini dengan teman-teman dekat saya lainnya.
“I wanna give up BBM and Path”.
They asked “why??”
“It’s my own problem actually, i can’t resist with them who posted their personal life, i couldn’t stop my brain making such annoying twist plot of their life. I hate it”
Dan mereka tertawa.
“It’s your problem… don’t blame other people”
“Yaaa…! I said it from the first, it’s my problem, my own problem!”
“Just remove the annoying one from your friend list, you still need BBM for your office’s relation”.
Dan saya perlu melatih otak saya untuk tidak peduli terhadap urusan orang lain.

Okay then…

Jadi begitulah.

Menciptakan persepsi aneh-aneh karena stalking, hanya akan mengacaukan fungsi otak sendiri. Just Don’t do it.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s