Beli Buku

image

Kau tau?
Meski sempat dikategorikan sebagai penggila buku sejak SD, dan berturut-turut selama 3 tahun meraih gelar ‘bintang perpustakaan’ di SMP (*dilihat dari grafik jumlah peminjaman dan kunjungan ke perpus-aku membaca 2 buah buku di luar buku pelajaran dalam sehari semalam ketika SMP-), namun fakta yang sesungguhnya adalah Aku jarang membeli buku. Bisa dikatakan PELIT mengeluarkan uang untuk membeli sebuah buku.

Bahkan untuk buku-buku pelajaran yang sifatnya ‘wajib’, tak kubiarkan sepeserpun biaya pembeliannya berasal dari kantongku. Pastinya mengajukan proposal ke Apa atau mencubit sedikit uang beasiswa.

Untuk pada akhirnya menentukan apakah jadi membeli buku atau tidak, aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku, bolak-balik di rak-rak buku yang kutaksir, menimbang baik buruknya jika buku itu kubeli (*apalagi jika hanya genre Novel atau fiksi, beuh makin susah hati ini memutuskan ‘iya’ atau ‘tidak’nya). Dan seringnya berakhir dengan keputusan “Nanti-nanti saja bukunya dibeli, kalau sudah bergaji 10 juta sebulan” (-..-)”.

Aku lebih sering meminjam buku, memaksa kakak membeli buku (*untuk kemudian aku kuasai hak kepemilikannya). Namun, sekalinya buku itu terbeli, aku pasti akan menjaganya dengan baik. Disampul rapi-rapi, dipegang baik-baik, dibalik halamannya dengan hati-hati, tak kubiarkan 1 halaman pun terlipat apalagi rusak. Bisa murka di dalam dada.

Kemudian ketika kuliah, aku berjanji kepada diri sendiri. Kelak, ketika aku sudah mendapatkan pekerjaan yang baik, meskipun gajinya bukan 10 juta per bulan, aku akan menyisihkannya untuk membeli buku setiap bulannya.

Alhamdulillah hal ini baru terealisasi sejak awal 2016 (*terlupa dengan janji ketika nyaris sudah lebih 2 tahun bekerja). Buku-buku ini, kelak akan kurapikan lagi dengan koleksi buku-buku lama (*yang tidak terlalu banyak jumlahnya), dicombine dengan buku-buku keperawatan, dan semoga mereka berakhir damai hidup berdampingan di sebuah lemari kaca yang indah. Aamiin ya Rabb…

🙂

Nb: Meski di jaman teknologi canggih yang telah berhasil meng-convert buku ke dalam bentuk e-book, namun tidak akan pernah bisa menggantikan sense membaca buku dalam bentuk fisik yang real.

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

15 Responses to Beli Buku

  1. Bener banget yang terakhir, saya jg lbh baca buku yg ‘real’, kecuali publikasi jurnal karena boros kl diprint semua 🙂

  2. abah shofi says:

    baca 2 buku dalam sehari semalam saat SMP.. Waow, mantap mba. kebiasaan yg bagus .. btw buku apa yang dipinjam ? 😀

  3. hazy-Rin says:

    you know what, tiap ke toko buku selalu pengen nangis kalau inget buku-buku yang udah susah payah dibeli trus hilang ntah kemana ntah di tangan siapa…..

  4. praditalia says:

    Hahha…. mbakke lucu banget sih… aku juga skrang udah mulai mengazzamkan dlm diri untuk mnyisihkan uang buat beli buku dan mulai terealisasi bulan ini hehehe

  5. Sandurezu サンデゥレズ says:

    Sama kak. Baru mulai setahun yang lalu, walaupun dulunya juga jarang baca2 buku..hhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s