Book Review: Ayah By Andrea Hirata

Saya mulai merobek bungkus plastik buku ini dan membaca halaman pertama itu persis hari Minggu kemaren di ruang tunggu Bandara sembari menanti kehadiran pesawat yang konon kabarnya delay, di jam yang kurang lebih sama dengan jam saya mengetik ini.
1 Minggu…
Saya akhirnya menyelesaikan buku ini selama persis 1 minggu. Walaupun sebenarnya yang benar-benar membaca itu cuma 2 malam.

Sudah beberapa tahun saya tidak lagi membaca buku penulis fenomenal, Andrea Hirata ini. Terakhir baca, buku yang berjudul Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas (*itupun dapat minjam dari Mbak Rin di tahun terakhir kuliah). Ya… Sesungguhnya saya tidak pernah mengkoleksi buku A.Hirata. Saya selalu minjam. Errrrrr…

Buku terakhir beliau, “Sebelas Patriot”, saya memutuskan untuk tidak membaca setelah melihat sinopsisnya (*oke, itu karena gak punya uang beli buku atau gak ada yang bisa minjemin baca Ni???). Dan buku berjudul “Ayah” dengan ketebalan 396 halaman ini, bukan buku yang baru terbit juga. Cetakan pertama Mei 2015 (*iyaa… saya telaaaat).

Membahas tentang Buku teranyar “Ayah” karangan Andrea Hirata, beberapa orang teman sempat memberikan testimoni untuk bersiap-siap menangis mengharu biru.

Okay, seperti ciri khas buku-buku Andrea Hirata lainnya, saya sudah bisa menduga jalan ceritanya akan sarat tentang perjalanan hidup, kisah menyedihkan, perjuangan, cerita tragis, ect… ect…

Saya sudah bersiap-siap untuk terharu dan terbawa perasaan, pun jika harus menangis, saya sudah siap lahir bathin untuk meneteskan air mata. Namun, entah kenapa kisah menyedihkan tentang tokoh utama di sini jadinya antiklimaks di dalam hati saya lantaran gaya bahasa (*gak murni Melayu), pemilihan diksi Andrea Hirata yang sungguh kocak tapi “nge-sastra”.
Jika drama korea ada genre “Komedi-Romantis”nya, saya menamai genre buku Andra Hirata ini dengan “Komedi-Menyedihkan”. Cerita menyedihkan dengan gaya bahasa yang lucu. Khkhkkhkh…. *gomen ne Bapak Ikal*

Sejak SD, saya adalah penggemar berat cerpen-cerpen di Buku Paket Bahasa Indonesia segala tingkatan kelas. Baru mendapatkan pinjaman buku paket Bahasa Indonesia dari Perpustakaan, maka keesokan harinya saya sudah khatam semua kumpulan cerpen di sana. Termasuk buku paket Bahasa Indonesia kakak saya yang ketika itu SMP, atau uda yang sudah SMA. Dan gaya bercerita Andrea Hirata, mau tidak mau menghantarkan ingatan saya terhadap kenangan cerpen-cerpen masa lampau. Berbeda dengan cerpen-cerpen masa kini, yang bahasanya ngegehol dan sedikit banyak tidak menggunakan ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Jadi selama membaca, fokus menikmati bahasa sedikit lebih dominan ketimbang mengikuti alur cerita. Plus di dalam buku ini, karena berlatar belakang di Belitong, percakapannya banyak mengandung ungkapan-ungkapan, pantun khas Melayu. Dan karena si tokoh utama hobi berpuisi, pembaca juga akan dimanjakan dengan puisi-puisi ‘ketje’ yang kata anak muda sekarang bikin ‘melted’.

Tetapi bukan berarti jalan ceritanya tidak menarik ya. Seperti biasa, ada kejutan-kejutan kecil di setiap Bab nya.
Meski sempat bingung dengan alur di bab-bab awal (maju-mundur cantik gitu), termasuk kaget dengan keanehan penambahan tokoh di tengah-tengah cerita, atau penceritaan tokoh utama kedua yang tidak menunjukan korelasi apa-apa dengan tokoh utama, dan kemudia tokoh utama kedua yang tetiba menghilang penceritaannya di bab-bab pertengahan… Tapii yaa… disitulah daya tariknya.

Daaan taaadaaaa….

Saya sungguh surprise dengan endingnya. Sama sekali saya tidak memiliki ekspektasi tokoh kedua utama yang sejenak menghilang dari penceritaan buku, ternyata memiliki hubungan dengan tokoh utama, dan itu dijelaskan di bab-bab terakhir. Ya, di dalam buku ini memang menggambarkan beberapa kondisi yang berbeda dengan jalan cerita utama.

Saking menyedihkannya kisah si tokoh utama, saya tidak memiliki harapan untuk sebuah ending yang menyenangkan. Tapi syukurlah menurut saya buku ini memiliki ending yang bagus *meski pada akhirnya si tokoh utama meninggal*, hehehehe….

Tentang niai-nilai kehidupan yang bisa dipetik?
Hello… this is Andrea’s!! Sama halnya dengan novel-novel sebelum ini, ada banyak pesan moral bertaburan di novel ini. Pick it up while you read the book by yourself. Heheheh….

Apapun itu, saya memberi rated 7 dari 10 untuk buku ini.
Jadi, teman-teman blogger yang mau punya bacaan ringan yang cukup menghibur plus mengharu-biru, buku ini bisa menjadi salah satu pilihan.

 

πŸ™‚

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Book Review and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s