An Unexpected Journey (*Season 2), DRAMA BUKAN DRAMA Kakaaa… :))

Jum’at, Ngebolang *lagi* Sendirian…

Dari Bogor, saya memutuskan untuk main ke rumah tante di Bekasi. Ketahuan main-main bersama teman di Jakarta tanpa mengunjungi orang tua sendiri, saya merasa durhaka! Maka jadilah pagi Jumat setelah sarapan dan Feni melaksanakan tugas ke RSJ Bogor, saya meraba-raba sendiri bagaimana cara untuk mencapai Bekasi dengan selamat. Lagi-lagi terimakasi kepada google! Saya menemukan titik terang dan jawaban yang meyakinkan dari sana, sebelumnya saya ngeri sendiri jika harus naik turun dang anti kereta ke sana, karena rutenya cukup berbelit-belit. Namun google menyarankan saya untuk naik bus saja di terminal Baranang Siang, karena jarak Bogor-Bekasi itu gak terlalu! Setelah menghubungi Ante, akhirnya saya memberanikan diri naik bus Bogor-Bekasi sendirian. Ante telah mengarahkan untuk saya turun di pintu keluar tol Bekasi Timur, saya tidak tahu itu dimana, nitip pesan ke kenek saya juga takut ntuh kenek kelupaan, maka terimakasih kepada google map yang setidaknya memberikan gambaran seberapa jauh lokasi yang ingin saya capai, persis!

Next: naik angkot sesuai nomer yang diarahkan tante, dan lagi-lagi saya gak bisa PD jika tanpa google map yang secara detail menunjukan lokasi perumahan yang ingin saya tuju. Bahkan took fotocopy punya tante juga terdeteksi di sana. Saya sampai ke rumah tante dengan selamat!

Hari ke-enam, Sabtu: Pertemuan Menyenangkan dengan Keisha

Kami memiliki begitu banyak list tempat yang ingin dikunjungi bersama-sama. Tapi waktu yang kami punya sama sekali tidak mencukupi, sehingga beberapa list yang bukan prioritas, sifatnya sunnah dan tambahan (*seperti ajakan ketemuan dari senior, junior, teman-teman di Jakarta) tidak bisa dipenuhi. Karena kami punya agenda penting hari ini: Jaulah ke Bedeng Fenomenal si Nduk untuk bertemu dengan ponakan para Ibi: Keisha!!!

Sebelum mengunjungi bedeng si nduk, kami janjian untuk jalan ke Kota Tua dulu, tempat yang kami pilih dari sekian daftar tempat yang mau dikunjungi. Janjian di stasiun Manggarai, kami datang dari penjuru yang berbeda. Saya naik kereta sendirian dari Bekasi, Feni dari Bogor, Mbak Rin dari Tanah Abang, sedangkan Nami nyusul dari Cawang setelah selesai berberes post dinas malam. Setelah menjalani beberapa drama, akhirnya saya, mbak Rin, dan Feni telah berada di kereta yang dari Bekasi menuju stasiun Jakarta Kota. Berbeda dengan kereta Manggarai – Bogor yang apesnya kami selalu kebagian berdiri, kali ini benar-benar sepi, maklum karena sudah pukul 9-an. Saking sepinya, di gerbong itu Cuma kami bertiga… !!
image

image

Selesai dengan segala  urusan di Kota Tua, kita mulai merintis jalan menuju ke rumah nduk yang konon kabarnya sama dengan jarak Bukittinggi-Padang versi Mbak Rin.

Perkara Bedeng, sering masuk dalam bahan rumpian kami di whatss app sih…. Hehehe, bedeng si nduk bedeng yang fenomenal lah pokoknya di antara kita-kita. Ini pertama kalinya saya berjumpa dengan Keisha, teman-teman yang lainnya sudah pernah ketemu sebelum ini. Bahkan Feni udah ketemu semenjak Keisha masih dalam bentuk janin ehehhehe…. Faktanya adalah ternyata Keisha lebih menggemaskan ketimbang di foto-foto yang dikirim si nduk. Saya langsung  jatuh suka pada pandangan pertama dengan Keisha. Fakta menggembirakan lainnya adalah: Si mas, suami nduk, merupakan sosok menyenangkan untuk diajak berdiskusi, dan yang paling penting saya semakin menyadari bahwa wanita seperti si nduk memang membutuhkan pria seperti si mas untuk diajak menghabiskan separuh kehidupan bersama. Maka lunturlah penyakit tidak rela si nduk menikah yang saya idap selama ini. Bahahahha…

Di rumah si nduk, kita dijamu dengan soto khas kampungnya si mamas nduk yang dibuat oleh mama mertua, plus buah, plus cendol. Kita berasa lagi bertamu di saat hari raya.(-..-)

Sebelum sampai rumah nduk, kami sudha diwanti-wanti si mbak kalau nanti bakal ada adegan pemaksaan untuk tetap tinggal ketika izin pamit pulang nanti. Ternyata itu benar… si Mas Desi ternyata sabaleh duo baleh kelakuannya dengan si nduk. Suka maksa-maksa buat tinggal lebih lama, bahkan si mama mertua nawarin nginap *gileeee ajee, kita berempat gini!.

Awalnya kami nyarsi terjebak dengan tawaran untuk diantar si Mas ke Bogor dengan mobil, jadi mau kemalamanpun gak masalah. Tapi besok itu kami sudah harus berangkat pulang ke Padang.belum lagi agenda beli oleh-oleh, dan pastinya bakal ngerepotin di Mask arena bolak-balik Jakarta-bogor pas weekend (*mau malam minggu) itu gak mudah. Untunglah… kami masih tau diri dan segera memutuskan cabut sebelum si nduk mengeluarkan jurus-jurus rayuannya untuk tetap stay nya yang lain.

Melalui saran si mas, akhirnya kita dapat shortcut untuk balik ke stasiun yang pastinya jauh lebih simple ketimbang rute sebelumnya.

Dan tadaaaa… perjalanan seminggu nyaris mencapai ujungnya. Saya dan Feni musti balik ke Bogor, untuk keesokan harinya langsung ke Bandara, mbak dan Nami akan kembali pulang ke rumah dan melanjutkan aktivitas mereka. Itu artinya kita gak ada agenda main-main bareng sekitaran Jakarta lagi, itu artinya kita akan berpisah di stasiun itu. Stasiun yang akan membawa jarak kembali terbentang, jauh *ketika mengetik ini, play list mp3 saya secara random muter Muhasabah Cinta, our eternal anthem!*  Oke, saya mulai baper. Terutama ketika mengingat betapa tidak dramatisnya perpisahan kami di senja itu. Kami turun dari kereta dari Pulogadung untuk segera mencari kereta ke Bogor. Tidak ada kata-kata perpisahan, tidak ada pelukan-cipika-cipiki, kami langsung digeret mbak Rin untuk segera naik kereta, sedangkan si mbak sendiri akan naik kereta dengan rute yang lain.”Itu kereta ke Bogor kan? Ayo naik….”

Sesampainya di dalam kereta, saya dan Feni tercenung, just it?? That’s all mbak??  Besok kita gak bisa ketemuan lagi loh! Kami mau pulang ke Padang… tidak ada semacam “Bye, see you later” gitu?? Kami lirik Nami yang juga ikut naik di kereta yang sama dengan kami sebelum turun di stasiun terdekat.

“Aku pindah ke dekat pintu ya, bentar lagi turun nih…”

Whaat! Itu doang Mi??? Besok kami sudah mau pulang lo! Kami gak bisa ngapa-ngapain untuk mencegat Nami karena suasana sudah crowded banget. *playlist: edcoustic-Pertengkaran kecil* ß tumben cocok!.

Si Nami yang semula berdiri bergelantungan di dekat kami bergeser pindah ke dekat pintu, beberapa saat kemudian kereta sudah memasuki stasiun terdekat, si Nami ikut keluar bersama penumpang yang lain tanpa menoleh atau mengangguk kepada kami yang terpana.

“Fen, begitu aja Fen? Gak ada salam atau kata-kata manis perpisahan ala-ala drama gituh?” bisikku ke Feni

“Feni baper Ni…”

Fiuf… nanti kita WA aja tuh anak-anak.

Demikianlah perjalanan singkat tapi padat seminggu ambil cuti dadakan. Meski lelah, namun saya merasa refresh lagi melaksanakan aktivitas kembali meski butuh waktu setidaknya 3 hari untuk meloading kembali fungsi otak. Hahhaha…
image

~~~~~~~~~~~

kita

Sejak tahun 2015, bisa kumpul ber4 begini adalah sesuatu yang langka.

Sebenarnya tidak penting kita mengunjungi apa, travelling kemana. Karena ujung-ujungnya, menghabiskan waktu bersama (*meski bukan di tempat wisata), adalah friendship goal yang worth banget.

Seharian jalan, waktu kita lebih banyak habis dengan ngobrol di sepanjang jalan, bergelantungan di kereta sambil heboh ngegosip berbahasa Minang (*bodo amat dengan penumpang lain yang lirik-lirikkan), turun naik busway sembari berbagi informasi yang belum pernah kita dengar sebelumnya.

Travelling bagi kita, yaa… itu menghabiskan waktu bersama… sembari berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.🙂 *Thankyou Feni untuk undangan melala barengnya. Thankyou Nami and Mbak Rin sebagai peta penunjuk arah.

Semoga cita-cita Liza kita ke Jogja bareng, cita-cita Namiun kita travelling ke Gili Trawangan bareng, cita-cita mbak Rin ke Banda Neira bareng, dan cita-cita Feni agar bisa dapat cuti untuk ikut jalan bareng terkabulkan suatu saat di masa depan.

Anak muda, pergilah melihat dunia. Lakukan perjalanan seru.

Agar besok saat kalian kembali, kalian bisa menuliskan perjalanan itu menjadi sumber inspirasi, menemukan pemahaman, mengerti perbedaan, dan kebijaksanaan kebaikan lainnya. Tidak hanya sekadar pulang membawa foto selfie.

*Tere Liye

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

16 Responses to An Unexpected Journey (*Season 2), DRAMA BUKAN DRAMA Kakaaa… :))

  1. Orang minang semua ini?

  2. hazy-Rin says:

    Ralat, itu stasiun kunduk, stasiun Klender, bukan pulogadung (pulogadung mah terminal)
    dan ternyata shortcut yang dikasih tau mas untung menghemat waktu perjalanan hingga setengahnya!!! *bejekbejek Kunduk*

    HOREEE!! Uun akhirnya mup on!!!! BANZAAAI!!

  3. hazy-Rin says:

    “Guide dari semua tour ini adalah mbak Rin, yang entah bagaimana, baru beberapa bulan tinggal di Jakarta, seperti sudah menguasai semua rute busway dan kereta jabodetabek. ”

    errr……. I am a girl who can read a map un… plus dare to get lost….
    Takut nyasar, nggak jalan-jalan. Takut berpetualang, ya buta arah. Takut nanya, ya nggak nemu jalan pulang… XDD
    Makanya, seminggu disini ayok kita berpetualang!!
    Kalau nyasar, ada Go-Jek!! –> Prinsip Namiun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s