Dear Azalea…

Assalamualaikum Azalea Khaliqa Dzahin. Ini pertemuan pertama kita bukan? Namamu begitu indah… Penuh makna dan doa dari kedua orang tuamu. Kata Bunda-mu, panggilanmu Dzahin. Tapi bolehkah aku memanggilmu Azalea saja?? Hahaha… Azalea… namamu mengingatkanku dengan tokoh di Novel Dilan-Pidi baiq. Sama-sama “Lea”, tapi dia Milea.πŸ™‚

Dear Azalea, kamu tau? Bunda dan Papa-mu (Aku sangat memahami kenapa mereka menyepakati panggilan yang ‘agak’ kurang singkron ini), keduanya adalah sahabat terbaik-ku. Papamu sudah bertetangga denganku sejak kami masih bocah SD penggemar kartun Doraemon dan Satria Baja Hitam.

Kami bertemu dengan Bundamu ketika SMP, berlanjut sampai akhirnya kita bertiga selama 2 tahun berada di kelas yang sama di SMA. Ya… kita 1 angkatan, 1 gank, teman sepermainan. Bundamu remaja yang hiperaktif, cerewet, dan berbakat. Papamu seorang yang pemalu, kadang sombong, kadang HDR, tapi jagoan tukang cimeeh. Mereka sama-sama Paskibra sekolah, dan kita sama-sama di OSIS dulunya. Papamu wakil ketua, Bundamu Sekretaris.

Tapi Papa dan Bundamu adalah dua makhluk somplak yang sering bertengkar di kelas. Mereka sangat jarang sekali akur. Ada-ada saja yang menjadi bahan perdebatan gaje mereka. Saling mengejek, cimeeh skala tingkat sekolahan, sampai-sampai mereka pernah membuat semacam surat perjanjian untuk damai.

Namun begitu, mereka berteman baik, sangaaaat baik. Bundamu sangat tau selera Papamu yang terdeteksi vegetarian itu. Ketika kami nongkrong di tempat bakso, maka bundamulah yang bela-belain memesankan siomai untuk Papamu (*yang pemalu gaje itu, sudah tau gak doyan daging, masih aja sok sok an mau nongkrong di tempat bakso), karena dia tidak mengkonsumsi segala macam daging untuk lauk pauk.

Pernah suatu ketika, kami buka puasa bersama di rumah wali kelas. Papamu belum datang, Bunda-mu datang ke depan rumanya, berteriak-teriak memanggil Papamu dengan julukan nama,”Woiii… Riko belawong anak durhoko”. Bundamu memang agak gila dulunya, dia tidak sadar jika di rumah itu ada calon mertuanya. Kami menahan ngakak dan malu setelahnya. Dia selalu menyesal dan berteriak malu jika mengingat kejadian itu. Khkhkhkh…

Mereka tidak pernah terdeteksi naksir-naksiran selama di sekolah. Sama sekali tidak pernah. Papa-mu justru melangsungkan pedekate, bertahun-tahun setelah kami lulus SMA, setelah kami selesai kuliah dan wisuda… Ternyata selama ini, dia memiliki cinta terpendam terhadap Bundamu. Bahahaha… Kami heboh, dunia pergunjingan kelas langsung gonjang ganjing mengetahui mereka jadian. Kami sama sekali tidak yakin mereka akhirnya pacaran, bahkan tak lama berselang mereka memutuskan untuk menikah! Wow…

Rasanya masih kurang percaya mereka serius untuk menikah. Jodoh Bundamu, ternyata teman sekelasnya sendiri! Teman sepercimeehan kami! Kami tertawa ngakak ketika Bundamu mengubah panggilan menjadi “Abang” ke Papamu.

Sampai akhirnya kamu ada dan lahir. Putri pertama mereka, putri cantik kami semua.

Tumbuhlah menjadi gadis yang mencintai Tuhanmu, yang patuh pada perintah agama. Semoga Allah menjadikanmu sebagai wanita solehah yang pintar, berbakti kepada kedua orang tua, menjadi cahaya mata keluarga.

Kami mencintaimu, dear Azalea…πŸ™‚

*Oia, panggil aku: Ummi yaaa… Aku suka dipanggil Ummi ^^ Seperti kata Bundamu: Ummi Dzahin.

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s