Bisa Konsul Bu?

Dipergunjingkan mahasiswa merupakan resiko tinggi yang susah ditolak.🙂

Sama seperti yang saya sering lakukan dahulu ketika masa-masa kampus, saling sharing tentang tipe-tipe dosen serta karakteristiknya merupakan sesuatu yang dianggap perlu sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup(?) di kampus atau sekedar untuk mencurahkan persaan yang terbebani karena ulah seorang dua orang dosen. Hehehe.

Malam itu pukul 9.22 PM, saya mendapatkan pesan di whatsapp dari mahasiswa. Fiuf, mahasiswa masa kini benar-benar less etika dan tidak berpikiran panjang ketika menghubungi dosennya. Pukul 9 malam itu terlalu larut untuk mengontak perkara pekerjaan setelah sepanjang hari telah berkutat dengan hal yang sama. Si mahasiswa merupakan mahasiswa bimbingan skripsi yang menanyakan apakah besok bisa konsul, termasuk tipe yang cerewet dan memiliki prinsip,”ACC harus as soon as possible”. Nyaris tak membiarkan saya santai dengan usiakan pertanyan “Kapan bisa konsul” bahkan sekali dua hari dia selalu menghubungi.  Seperti biasa, saya tidak membalas. Cuma di-read doang, biarlah mereka menganalisa sendiri.

Paginya, pukul 8, baru menapaki kaki di tangga ke kantor, si mahasiswa sudah menampakan kepalanya. Hahaha, serius… Melihat mahasiswa yang sama hampir setiap hari merong-rong dengan pertanyaan “kapan bisa konsul” itu annoying banget. Mungkin inilah yang dirasakan oleh dosen-dosen saya di kampus ketika melihat mahasiswa yang berjejer rapi di depan kantornya untuk konsul bimbingan. Saya bisa merasakannya sekarang, the aura of “Sakik kapalo mambaco skripsi mahasiswa” mulai bermunculan. Khkhkhk…

Memasuki kantor, seorang dosen senior menyapa, dan tanpa mengetahui ada mahasiswa mengekor di belakang saya, si kakak langsung menginformasikan:

“Aini, Aini tau gak anak bimbingan Aini yang bernama Ujang?”

“Kenapa kak, nih anaknya mau konsul”

“Nah, anak Aini ini….”

Aku mulai konsen mendengar penjelasan si kakak.

“Kemaren membicarakan Bu Aini tapi gak tau tempat, ternyata kedengaran sama KaProdi. Kaprodi bercerita ke kakak. Katanya, bimbingan dengan pembimbing 1 gampang dan cepat, tapi bimbingan dengan dosen nan surang ko *refers to me* lama dan terlalu banyak perbaikan”.

Saya melotot kaget. “Iyakah nak?”

Saya tidak kaget karena marah, namun excited karena ternyata itu yang mahasiswa rasakan ketika saya bimbing. Saya terkekeh dalam hati, terutama melihat wajah pias si mahasiswa yang memucat.

“Gak buk, maksudnya tidak seperti itu. Malah saya bersyukur Bu Aini mau mengkoreksi secara detail, karena pembimbing 1 tidak begitu”.

“Wah, tidak usah munafik Ujang. Maksud Ujang dosen nan surang ko”  itu seolah-olah kamu tidak senang diberi banyak perbaikan. Kalau mau membicarakan dosen, lihat tempat dan kondisi juga. Ibu sudah sering melihat Ujang terlalu ceplas ceplos mulutnya. Watch your mouth!”, lanjut si kakak.

Saya benar-benar terkekeh di dalam hati. Kok jadi si kakak yang esmosian.

“Oh gitu ya… Wah kalau begini, niat ibuk meng-Acc hari ini sepertinya masih harus diundur nih”.

“Bu, beneran buk… Maksud saya tidak seperti itu bu..”

“Sudah-sudah… Sini… Katanya mau konsul”. Saya memutus percakapan yang tidak menyenangkan sekaligus menggelikan pagi ini.

Si mahasiswa dengan penuh kesopanan duduk, diam, hening, membiarkan saya kembali membaca skripsinya dengan telaten. Menyaksikan dengan wajah pasrah ketika lembaran demi lembaran halamannya saya coret.

Meskipun berperan sebagai pembimbing 2 skripsi, yang notabene menurut SOP dan karakteristik kerjanya lebih banyak membahas dan concern terhadap penulisan, narasi kalimat, saya mempunyai aturan sendiri dan ketika bimbingan. Sangat simpel sebenarnya, bahkan begitu banyak kemudahan.

Mahasiswa tidak harus membuat janji terlebih dahulu untuk konsul, namun ketika saya tidak memiliki pekerjaan mendesak, mereka bisa konsul kapan saja. Waktu yang paling tidak hectic itu adalah di pagi hari. Makanya saya sering meminta mahasiswa yang datang konsul pada jam-jam makan siang untuk datang lagi besoknya pukul 8. Tepat jam 8. Karena terlambat 30 menit saja, mereka akan susah menemukan saya sedang duduk manis di kantor. Komunikasi? I am feel free to contact on line, wa, or stuff like that, tapi yaaa… lihat-lihat waktu juga bro!

Mudah saja sebenarnya jika saya ingin membuat semuanya tampak tidak ribet dan langsung meng-ACC skripsi mahasiswa ketika mereka sudah mendapatkan ACC dari pembimbing 1. Banyak kejadian mahasiswa yang terkendala dengan pembimbing 1. Namun ketika urusannya sudah dengan bu Aini, mungkin mereka akan lebih banyak mengeluh begitu lama dan susahnya mendapatkan kata ACC dari pembimbing 2 nya ini. Banyak yang akhirnya pasrah dan berkata,”Bu, pembimbing 1 sudah beres dan tidak ada perbaikan lagi, namun beliau belum mau menandatangai lembar ACC sebelum ibu meng-ACC terlebih dahulu”.

Bukan perkara siapa yang akan meng-ACC terlebih dahulu. Saya hanya menjalankan profesi saya sesuai dengan tanggung jawab yang sudah disepakati. Skripsi itu beban SKS nya 4. Itu berarti ada 4 jam dalam seminggu dengan beberapa kali pertemuan. Sangat aneh jika mahasiswa malah mengeluh jika harus sering berhadapan dengan dosen pembimbing dan ingin segera ACC meski skripsinya belum begitu sempurna. Dan sangat tidak baik ketika dosen pembimbing membimbing dengan sistem kebut-kebutan (*3 kali konsul langsung ACC), karena itu berarti tidak menjalankan sesuai dengan kewajiban. Sementara menjadi pembimbing itu kan dibayarkan, ah… saya tidak mau makan gaji buta. (-..-)”.

Jadi saya hanya menikmati proses ketika saya ikut membaur dengan apa yang mahasiswa kerjakan. Meski pada akhinya mereka banyak mengeluh karena begitu banyak coretan.

Hmm..

Sudah sekian dahulu cucorl pagi ini karena barusan sudah ada mahasiswa lagi yang bertanya,”Buk, bisa konsul skripsi sekarang bu?”

*michigeta jinjaaa* =..=)

image

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s