Benda Kenangan

Juz 28-30, Hadist Arba’in & Al Matsurat sejak dari tingkat berapa kuliah yang selalu saya bawa kemana-mana.

Pernah dalam suatu Training di Unand pada tahun 2010, kami diminta menyerahkan benda pribadi yang kami rasa paling berharga. Fasilitatornya mengingstruksikan dengan begitu cepat. Saya belum bisa mencerna secara cepat maksud mereka, panitia sudah datang membawa kantong untuk meminta benda berharga yang saya miliki. Apakah ini semacam menguji kami tentang rasa kepemilikan? Atau untuk melihat sisi materialistis kami dalam melihat suatu benda? Entahlah….

Ribut sebentar, sebagian ada yang menyerahkan dompet, Handphone, cincin (*bagi yang akhwat)… Saya bingung mau memberikan apa. Di genggaman, saya hanya memegang Al-Matsurat ini. Ini termasuk kategori berharga bagi saya. Baik secara harfiah (ini kan ada ayat Al Quran, Hadist, dan doa-doa di dalamnya), maupun secara material (baru dibeli dengan harga diatas 10 ribu *itu termasuk mahal bagi mahasiswa ‘kere as always’ seperti saya). Uang? Aaaaaak…. saya sedang dalam masa-masa paceklik. Handphone? Hp Nokia buluk (*tapi cukup berharga) begini akan lebih bermanfaat kalau saya sendiri yang memanfaatkannya.

Akhirnya, dengan segala pertimbangan, saya menyerahkan Al-Matsurat ini.

Singkat cerita, ternyata barang berharga peserta yang sudah dikumpulkan itu, kemudian diminta untuk diambil lagi secara acak oleh masing-masing peserta. Aaaah…. Saya tau, itu semacam sistem tukar kado atau tukar kenang-kenangan sesama peserta! Waktunya juga kasip, kami didesak untuk cepat oleh fasilitator.

Panitia kembali beredar ke bangku-bangku peserta meminta kami mengambil satu diantara banyak tumpukan barang secara acak. Saya tidak tahu apa yang harus diambil. Saya ngeri jika harus mengambil Handphone orang… Nanti kalau diminta lagi sehabis acara gimana? bahahahha.. di dalamnya juga ada buku, Al-Qur’an, uang, dan lain-lain.

Akhirnya saya mengambil buku kecil pink yang terselip di antara banyak barang.

Tadaaaaaa…. itu adalah Al-Matsurat yang saya serahkan tadi. Kembali lagi ke pemilik asalnya.

Saya bahagia, Al Matsurat itu kan baru saya beli. Saya belum sempat menikmatinya. Lagipula, tidak ada yang tau saya mengambil barang sendiri. Hehhehe…

Sampai saat ini, saya masih menyimpan dan membawanya kemana-mana di tas. Mengingatkan saya untuk setidaknya membaca Al-Matsurat di pagi hari, atau untuk menghapal surat-surat pendek di tengah kesibukan duniawi yang menyesatkan*?).

View on Path

Advertisements

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

One Response to Benda Kenangan

  1. Ajaib amat pengalamannya, hahaha…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s