Them… Human

Langit Kota Pekanbaru merona merah pagi ini. Jika sedang mengalami disorientasi waktu, pastilah banyak yang mengira ini temaram jingga lembayung senja. Cantik dengan kerlap-kerlip bola lampu yang masih berpijar dari rumah-rumah. Menggores selarik kemerahan matahari yang hendak menyapa dengan terik hari ini.

image

Seperti halnya langit yang menyimpan banyak rahasia tentang bagaimana dan seperti apa kondisinya, kehidupan manusia yang dipayungi tak jauh beda. Banyak cerita dan kisah yang mungkin mereka simpan rapi tanpa ingin diketahui orang lain. Hanya menyisakan gurat-gurat yang siapa saja pun mungkin bisa menebak atau berasumsi.

Manusia, makhluk yang penuh dengan cerita dan karakter tersebut, tidak henti-hentinya membuat terperangah.

Berbicara tentang karakter manusia, saya yang memiliki kegemaran memperhatikan tingkah-laku orang-orang random yang saya temui di perjalanan atau di pasar, atau di perkantoran, atau di rumah sakit dan di mana-mana ini, sering bertanya-tanya,”Apakah mereka bahagia? Tepatnya apakah mereka bahagia dengan sesuatu yang sedang mereka lakukan saat ini?”.

Bingung. Saya merasa kebingungan melihat begitu banyaknya manusia dengan kondisi mapan kaya raya namun masih berkoar-koar kekurangan harta. Berteriak marah ketika ada sepeser uang yang menurutnya adalah sebuah hak, namun tak kunjung masuk ke rekeningnya.

Sementara di pinggiran jalan sana, seorang bapak tua dengan pakaian sederhana, dengan menjunjung ember-ember dagangan di kepalanya, tersenyum bahagia ketika ada satu dua pelanggan yang datang membeli.

Heran, saya merasa heran dengan segala aktivitas kesibukan manusia, yang merasa tak cukup bila 1 hari itu hanya 24 jam, sering tergesa-gesa, hingga lupa dengan kewajibannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sementara jauh di pedalaman sana, para petani dan pengembala ternak, yang keringatnya tak henti mengalir sepanjang siang di ladang, datang berkunjung tepat waktu bersujud kepada Rabbnya.

Kenapa mereka masih belum merasakan kebahagiaan?
Kenapa mereka senantiasa gundah gulana?
Kenapa tidak ada kedamaian hati yang mereka rasakan?

Bukan, bukan pada harta berlimpah jawaban itu akan ditemukan.
Bukan pada tinggi rendah pangkat golongan.
Bukan pada mewah atau tidaknya pakaian yang dikenakan.
Bukan pada prestise dan kepopuleran.

Bahagia itu adalah kesyukuran…
Bahagia itu adalah kesabaran…
Bahagia itu adalah keikhlasan….

■Pekanbaru, 10 Mei 2016

Pekanbaru, 10 Mei 2016

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s