Nursing Student Life

Hari ini ada beberapa kabar yang beredar.
Ada kabar membahagiakan, ada kabar menyedihkan, sekaligus kabar bahagia yang menyedihkan. Entahlah, tergantung kau mau melihatnya dari sisi mana kawan.

Subuh tadi, terbangun pukul 04.35, saya mendapati pesan pendek mahasiswa di grup Line. Pesan itu dikirim pukul 3 dini hari. Kabar bahwa kos-kosan 3 orang mahasiswa semester akhir keperawatan terbakar. Benar-benar tidak banyak yang bisa diselamatkan dalam musibah itu.

Bahkan laptop, flashdisk yang berisi file skripsi mereka ludes. Termasuk beberapa jilidan salah seorang mahasiswa yang akan disidangkan minggu ini. Hanya pakaian di badan dan handphone yang berhasil mereka larikan.

Saat mengunjungi mereka pagi ini, hal pertama yang mereka laporkan adalah: “Semuanya habis buk, termasuk skripsi, ba a wak ka ujian hasil ko buk? Lai bisa wak wisuda S.Kep koh buk??”

Oh My God…
Kalian bisa selamat tanpa kekurangan anggota fisik itu saja sudah syukur alhamdulillah. Dont bother your mind with that kind of stuff!! Kenapa skripsi lebih penting ketimbang keselamatan kalian??

Ya… jadwal ujian yang sudah diatur sedemikian rupa mungkin harus diabaikan dan pihak kampus harus mau memberikan dispensasi dan solusi terhadap skripsi mahasiswa yang hilang lenyap seiring dengan kobaran api semalam.

Ah … susahnya menjadi mahasiswa keperawatan.

Kabar selanjutnya adalah pengumuman Ujian Kompetensi (Ukom) Ners.

Fiuf…
Kuberitahu kawan, profesi perawat mungkin tampak remeh bagi sebagian kalangan, namun aku bisa menjamin hanya perawat-perawat tangguhlah yang bisa melewati Ujian Kompetensi ini!!

Sungguh malang sebenarnya nasib para lulusan Ners.

Kuliah 4 tahun (*kadang lebih), profesi hampir setahun (dengan segala tantangan dan marabahaya di Rumah Sakit/Klinik/Masyarakat).
Dan nasib mereka kemudian ditentukan dengan Ujian Kompetensi selama sehari dalam hitungan jam.
Hasilnya hanya 2; kompeten dan tidak kompeten.

Jika berkompeten mereka mendapatkan STR (Surat Tanda Registrasi) dan setelah itu pintu administrasi kerja akan terbuka, baik PNS, non PNS ataupun praktik mandiri.

Lalu yang tidak berkompeten bagaimana?

Pilihannya menunggu, mencoba lagi dan terpaksa melewati beberapa peluang kerja yang membutuhkan STR.

Dan kabar buruknya adalah, lebih banyak lulusan Ners yang tidak lulus Ukom ketimbang yang lulus.

Hari ini saya mendengar kabar beberapa Sekolah Tinggi Kesehatan yang jumlah alumninya yang lulus Ukom hanya sebagian kecil (bisa dihitung dengan jari), bersyukur saya mendapati hanya 21 dari 60an lebih mahasiswa kami yang tidak lulus.

Yang lulus bersorak penuh kebanggaan. Yang tidak lulus tertunduk dengan senyum tertahan,”Bagaimana kami bisa mencari kerja buk?”.

Ah, malang betul nasib lulusan keperawatan.

Biaya kuliah mahal, kuliahnya susah, lulusnya lama, setelah wisuda harus ikut Ukom pula! Belum lagi ribet dan lamanya proses pengeluaran STR. Mungkin bukan hanya profesi keperawatan. Dokter, apoteker, kesmas juga begitu kabarnya.

Setelah mendapatkan pekerjaan, mereka masih pula harus berhadapan dengab pasien-pasien yang merasa dirinya ‘VIP’ sehingga butuh pelayanan ekstra. Perawat salah sedikit atau lelet kerjanya, langsung jadi bahan gunjingan satu media.

Tidak hanya sampai di situ, post sarjana dan ketika telah bekerja-pun, mereka masih dituntut untuk mengikuti pelatihan di sana-sini “untuk mengingkatkan kompetensi” katanya. Biayanya? Ah… 1 juta, 2 juta, 3 juta bahkan berbelas juta harga yang harus dibayar untuk mengikuti pelatihan demi memenuhi kompetensi pendamping ijazah ini.

Gaji??
Jangan ditanya!!
Mungkin entah kapan bisa mengembalikan modal kuliah dari orang tua.

Ya, memiliki profesi sebagai perawat itu serba susah.

Sekolahnya menjamur, lulusannya ribuan, namun lapangan pekerjaan kian menyusut.

Namun, all you have to know guys…
Ujian dan segala proses yang sudah diprogramkan oleh pendahulu-pendahulu kita bagi pendidikan keperawatan, adalah semacam saringan dan tempaaan agar menghasilkan lulusan-lulusan yang profesional. Bukan abal-abal!

Profesi keperawatan tidak hanya tentang bekerja untuk mendapatkan uang. Namun ia bertanggung jawab terhadap nyawa dan kemanusiaan.

Perawat melakukan tugasnya di antara batas hidup dan mati seseorang, jerit sakit dan kesedihan manusia, sungguh sesuatu yang hanya mereka-mereka yang berkompetenlah yang bisa melakukannya.

Sehingganya, ketika para mahasiswa keperawatan ditempa dengan begitu banyak ujian dan diakhiri dengan proses evaluasi yang mengerikan, maka yang tangguhlah yang akan terus lanjut berjuang.

Jadi, sekali langkah kaki menapaki dunia keperawatan, maka berlakulah selayaknya proses keperawatan itu sendiri. Komprehensif dan profesional!!

Bagi yang merasa masih kalau jauh dari sejawatnya, mari berbenah dan selalu memperbaiki diri.

-Because Nursing is how we live our life-

View on Path

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Cuap-Cuap Aini. Bookmark the permalink.

10 Responses to Nursing Student Life

  1. Duh sedih ya yang skripsinya terbakar, mungkin itulah pentingnya backup data. Entah itu di disk maupun cloud.

  2. hazy-Rin says:

    Nightmare banget mah un kehilangan skripsi di detik menjelang ujian akhir. Makanya aku nyinyir kalau soal back up data. Kalau dah hilang semua gitu dan nggak ada back-up, mau dibuat ulang juga bakalan susah. Bukan urusan ngetiknya, tapi datanya itu.

    BTW, uji kompetensi itu sebenernya nggak susah kok. Apalagi jaman sekarang udah ada contooh soal, dan pembahasannya. Tinggal belajar aja.
    Jamanku dulu dooong….. profesi masih setengah jalan udah ikut uji kompetensi. Kata Bu Ira, “coba-coba aja, toh kalau kalian nggak lulus, kalian masih bisa ikut lagi pas udah selesai profesi.” Dan untungnya sih pada lulus dengan nilai rata-rata di atas rata-rata nasional. *muhehehehehehehe**suoombuoong!!*
    Udah lulus uji kompetensi, berkutat sama yang namanya STR. Nggak ada STR, siap2 nggak diakui organisasi profesi, RS-pun nggak mau nerima perawat yang tak diakui.
    Ngomongin gaji? Yuk ngobrol tetang tenaga sukarela di penjuru negri yang dibayar dengan ucapan terima kasih. *kedipkedip*

    Ribet ye? Iyes!!

    • Ukom sekarang beda dg 1 tahun yg lalu mbak. Soal ujiannya sudah digodok sedemikian rupa. Gak tau lah kenapa masih banyak yg gak lulus. Bahkan institusi yg udah akreditasi B pun ada yg cuma beberapa yg lulus. Miris denai.
      Hiks…

  3. Sekedar usul saja stlh kjadian skripsi mhs yg g bs diselamatkan. K dpan, mngkin dosen bisa mngarahkan mhs bimbingan via email setiap babnya. Trmasuk mngirimkan k email dosen bila skripsi sudah acc. Lbh efektif dan efisien, skalian tuk jaga2 bila hal2 tak diinginkan terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s