Book Review: Ayat-Ayat Cinta 2

Judul : Ayat-Ayat Cinta 2

Pengarang : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Republika

ISBN : 9786020822150

Tebal Buku : 697 Halaman

Rating : 4 dari 5

sumber foto: Google

sumber foto: Google

Hai readers!

Saya sedang rajin-rajinnya ngeblog nih, hehehhe…. Mumpung sedang tidak banyak kerjaan *mahasiswa udah dianter ke Rumah Sakit semuanya jadi dosen bisalah agak duduk tenang sambil ngeblog-ngeblog cantik* . Hari ini saya mau menyelesaikan beberapa hutang postingan yang sudah saya buat (*ngutang kepada diri sendiri) sejak beberapa bulan yang lalu.

Yep! Review beberapa buku yang berbulan-bulan lalu telah dikhatamkan.

Kali ini giliran novel fenomenal karya kang Abik “Ayat-Ayat Cinta 2” yang merupakan sekuel dari AAC 1 yang pernah booming  sekitar 10 tahun yang lalu.

Agaknya tepatlah saya ngebedah novel ini sekarang, di tengah nuansa baperisasi oleh AADC 2, AAC 2 ini cukup bisa dijadikan tandingan😀 . Semoga teman-teman tidak hanya menambah suasana melow dengan membaca novel ini, tetapi juga menambah ilmu agama dan pengetahuan umumnya.

Karena saya lagi malas ngetik ulang untuk menyajikan sinopsisnya, saya izin Ngopas asli dari blog Nisa  ,Izin ya Nis!😀

Hokehhh,,,, Selamat membaca..🙂

****

Fahri melalui kehidupan di Edinburgh tanpa Aisha. Istrinya secara misterius menghilang dalam kunjungannya ke Palestina. Alicia, teman seperjalanan Aisha dilaporkan tewas tak lama setelah mereka menghilang. Selanjutnya, kisah Fahri diceritakan tentang bagaimana upaya yang dilakukannya untuk menemukan sang istri, dan seperti apa ia melanjutkan hidupnya.

Fahri pindah ke Edinburgh bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangga yang begitu dipercayanya. Di kota ini, ia melanjutkan pendidikan sembari melanjutkan riset pendidikannya di kota ini. Oleh Profesor Charlotte, ia juga diminta untuk menggantikan sebagai pengajar di universitas, dan juga pembimbing bagi mahasiswa yang tengah menyelesaikan pendidikannya.

Di Edinburgh, Fahri tinggal di kawasan bernama Stoneyhill Grove. Di sini ia memiliki tetangga bernama Nyonya Janet yang tinggal dengan kedua anaknya, Keira dan Jason. Lalu ada pula seorang wanita bernama Brenda, dan ada seorang nenek Yahudi bernama Catarina. Keberadaannya sebagai seorang muslim rupanya mengusik tetangga yang tidak senang karena status agamanya. Setiap pagi Fahri kerap menemukan tulisan yang tidak menyenangkan tentang Islam dan muslim yang acapkali dicap sebagai teroris dan monster. Ia tahu bahwa pelaku tersebut adalah tetangganya sendiri. Dan meskipun mendapat perlakukan seperti itu, oleh  Fahri justru perbuatan tersebut dibalas dengan kebaikan. Fahri rela menyelamatkan kehidupan tetangganya; Keira dibiayainya untuk mendapatkan pendidikan musik demi mencapai cita-citanya sebagai pemain biola terkenal, Jason disekolahkan bola. Padahal, Keira amat membenci muslim karena ayahnya meninggal akibat serangan bom yang diduga pelakunya adalah orang Islam.

Tidak hanya itu, Nenek Catarina, seorang Yahudi taat pun tak luput dari bantuan pertolongan Fahri. sang nenek yang terlibat konflik urusan rumah dengan anak tirinya Barus yang mantan tentara yang bertugas di Tel Aviv, mengambil rumah milik almarhum ayahnya dan mengusir ibu tirinya tersebut. Fahri menolong sang nenek dan memberikan tempat tinggal yang layak bagi wanita tua tersebut. Kedermawanan Fahri tidak hanya sampai di situ, ia menampung seorang tunawisma yang sempat mendapatkan perhatian karena masuk ke dalam surat kabar akibat mengemis di pelataran masjid. Menurutnya, sebagai seorang muslim, sudah selayaknya ia membantu wanita tersebut. Orang lain yang tidak seakidah dengannya saja ia bantu, mengapa saudara seiman sendiri tidak ditolongnya? Wanita itu bernama Sabina, seorang perempuan berwajah rusak namun menjaga kehormatannya dengan berjilbab ditampung oleh Fahri di basement rumahnya. Dan sejak saat itu, ia membantu Paman Hulusi untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah Fahri. Ada pula Misbah, teman Fahri yang tanpa sengaja ditemuinya di Edinburgh dan dibantu keuangan olehnya.

Fahri memang sosok businessman, sejak menikah dengan Aisha ia mulai terbiasa mengelola bisnis keluarga Aisha dan mengembangkannya hingga sekarang. Bersama saudara sepupu Aisha, Ozan, ia mengembangkan butik di Edinburgh dan mengembangkannya dengan membuka cabang di luar kota. Selain itu, Fahri juga memiliki minimarket dan restauran halal tidak jauh dari kediamannya berada.

Kedatangan Syaikh Utsman–guru talaqqi-nya dulu di Mesir–ke Edinburgh, membuka babak baru kehidupan Fahri. Syaikh menasehati Fahri untuk memikirkan menikah lagi dan mulai untuk kehidupan barunya. Fahri juga rupanya memikirkan hal tersebut juga. Bahwa memang ia tidak dapat melupakan Aisha, namun ia sudah berusaha untuk menemukan istrinya itu dengan usaha yang maksimal. Syaikh Utsman menawarkan kepada Fahri untuk menikah dengan cucunya yang bernama Yasmin. Selain itu, kehadiran perempuan-perempuan lain di sekitar Fahri juga sebenarnya sudah seharusnya mendapat perhatian dari Fahri dan pantas untuk dijadikan istri. Misalnya Heba, seorang muslimah yang ayahnya dikenal baik oleh Fahri di Edinburgh. Dan ada pula Hulya, adik Ozan, yang masih berkerabat dengan Aisha. Hulya bisa dikatakan mirip dengan istrinya yang hilang itu. Dari segi posturnya, kemiripan wajah, dan juga kemampuan memainkan biola benar-benar mirip dengan Aisha. Dan memang, sudah selayaknyalah Fahri memikirkan untuk mencari pengganti istrinya.

Selain dihadapkan dengan permasalahan pribadinya sendiri, tantangan juga datang dari pihak luar. Isu islamophobia dan konflik Palestina diangkat ke jalur perdebatan ilmiah. Dua kali Fahri diajak untuk berdebat dan mengemukakan permasalahan ini yang dijadikan tema dalam mimbar debat. Yang pertama, tantangan berasal dari Barus yang notabene adalah seorang Yahudi yang menyebutnya sebagai amalek. Debat yang berlangsung di auditorium kampus tempat Fahri mengajar ini, Fahri menyampaikan pandangannya tentang kaum yang disebut amalek tersebut dengan dalil yang diungkapkan Fahri dengan menggunakan kitab yang diyakini oleh Barus dan kawan-kawannya. Debat kedua, dengan skala lebih luas lagi digelar dengan menghadirkan dua orang pembicara dari kalangan akademisi lainnya. Pembicara pertama mengemukakan pendapatnya bahwa semua agama adalah sama sementara pembicara kedua mengemukakan pandangannya tentang atheis. Fahri tampil dengan memaparkan penjelasannya tentang Islam.

Bagaimana kelanjutan kisah Fahri? Apakah ia berhasil menemukan istrinya yang hilang atau memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan menikah lagi? Bagaimana pandangan orang-orang tentang stereotip bahwa Islam adalah agama teroris dan masihkah mereka membenci Islam, terutama orang-orang terdekat (tetangga dan lingkungan) Fahri? Bagaimana upaya Fahri untuk memfilter pandangan negatif terhadap Islam yang gencar terjadi di Eropa? Buku ini yang meskipun sangat tebal, amat layak untuk dibaca dan diikuti setiap alurnya. Tidak hanya akan mendapatkan suguhan plotnya yang menarik, namun banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari membacanya.

****

Novel setebal 697 ini saya tamatkan bulan Maret lalu dalam waktu sehari-semalam  dengan efek samping mata bengkak . Tidak! Jangan ditiru! What i want to say is… Novel ini terlalu menarik untuk ditunda-tunda membacanya. Bab per bab nya terlalu membuat penasaran. Penggambaran karakater tokohnya sangat jelas, begitu juga dengan pemaparan setting tempat dan lokasinya berhasil bikin saya baper sekaligus mupeng. Saya berasa sedang membaca novel fiksi saduran ketika mengimajinasikan lokasinya.

Jujur membaca halaman-halaman pertamanya cukup membosankan, membosankan karena terlalu banyak pemaparan terkait kondisi Fahri saat ini yang membuat readers bingung. Dan yang menyebalkannya, itu menyebabkan rasa penasaran yang berlapis-lapis karena kondisi Fahri yang sangat jauh berbeda selepas dari AAC 1 (*maaphkan saya yang masih mengimajinasikan Fedi Nuril sebagai Fahri *plak!). Jadi, dengan tidak sabarannya, saya langsung melahap Bab-bab awal agar segera bertemu dengan titik terang alur cerita yang banyak dipaparkan di bagian tengah Novel.

Secara garis besar, konflik utama dalam Novel AAC 2 ini memang tentang pertemuan kembali Fahri dengan Aisyah. Di mana dalam proses tersebut, akan ada banyak konflik-konflik kecil lain yang tak kalah serunya. Nah, di sanalah letak menariknya novel ini, karena Kang Abik seperti biasa, akan menyelipkan unsur-unsur kajian keislaman di setiap konflik sehingga pembaca tidak hanya menikmati alur cerita, namun juga mendapatkan bonus pengetahuan, sekaligus contoh bagaimana menjadi seorang muslim yang baik. Ya, bisa dilihat dari penggambaran karakter Fahri yang semacam agak-agak mendekati perfect gitu. Saking baik nya, saya sampai ragu keeksistensian orang seperti Fahri di muka bumi ini. Dan kemudian otak saya nyela,”Namanya juga cerita Ni… Ya mungkin-mungkin ajalah..”. Ya, mungkin di salah satu belahan bumi ini, ada sosok seperti Fahri.

Bagian favorit saya adalah ketika Fahri berdebat dengan tokoh Yahudi, secara logika penjelasan Fahri di sana sangat masuk akal. Dan bagian Fahri yang sangat dermawan itu kereeeen banget! Saya pribadi merasa tertampar-tampar, berasa menjadi orang paling kikir dan pelit sekampung.😦

But, menurut saya Novel AAC 2 ini sinetron dan dramaaaa banget (terutama urusan perasaan si Fahri ini, ribet euy!). Hahaha… I mean, kalau di AAC 1, KCB 1 & 2, rasanya ceritanya masih fine-fine aja. Masih bisa dicerna dengan akal sehat yang logis alur kisahnya. Namun di AAC 2, saya seperti menonton film dan drama dalam versi tulisan. Saking nge-dramanya, beberapa alur bisa dengan gampang ditebak. Proses akhir dari pertemuan kembali Aisyah dengan Fahri itu cukup dramatis dan agak kurang bisa diterima oleh akal sehat saya (*kecuali ini novel fantasi), terkesan mengada-ada dan terlalu dipaksakan. Namun akhirnya, otak saya lagi-lagi berbisik,” Namanya juga cerita Ni… Jadi mungkin aja”. Hahahha, saya tidak bisa mendetail lagi bagian yang mana yang “memaksa” itu, takut dibilang spoiler. Meskipun penggambaran Fahri benar-benar amat sangat berkali-kali lipat baik di sini, entah kenapa saya lebih menyukai Fahri yang di AAC 1 (*karena Fahri di AAC 2 sudah beristri……*krik* *krik* *krik*….. beristri untuk ketiga kalinya ……*krik* *krik* *krik*…..  dan Fahri di dunia nyata (uda Fedi Nuril) juga sudah naik pelamin *plak!).

Dan actually, saya saya lebih antusias dengan kisah lead tokoh ketiga: Keira. Proses Keira mengetahui kebaikan hati Fahri yang sesungguhnya betul-betul menguras esmosi dan perasaan. (*berkaca-kaca mata Ainun dibuatnya)

Hokay….! Over all, rating 4 dari 5 untuk Novel ini. Sangat disarankan untuk menjadi koleksi perpustakaan teman-teman semua.

About ainicahayamata

Nursing Lecturer who falling in love with words and Arts| Blogger | Maternity Nursing Specialist Candidate | twitter: @aini_cahayamata| Belajar Mengendalikan kata dalam tulisan|
Gallery | This entry was posted in Book Review. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s